Friday, January 1, 2016

ADAB DALAM ZIKIR TAREKAT

Untuk melaksanakan zikir di dalam tarekat ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni Adab Berzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada fasal Adabudz-dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Syeikh Abdul Wahab Sya'rani.ra bahwa adab berzikir itu banyak, tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum berzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berzikir dan 3 (tiga) adab dilakukan setelah selesai berzikir.

NASIHAT SYEIKH BAHAUDDIN AN-NAQSYABANDI

1). Mengamalkan tareqat berarti berkekalan di dalam melaksanakan ‘ubudiyyah kepada Allah, secara zahir dan batin, dengan kesempurnaan komitmen (iltizam) mengikuti as-Sunnah, dan menjauhkan segala bid’ah dan segala kelonggaran (rukhsah), pada setiap gerak dan diam.

2). Jalan kita ialah dengan menuruti jejak langkah baginda Rasulullah s.a.w dan para sahabat. Aku telah dibawakan ke jalan ini melalui Pintu Kurnia, karena dari permulaan jalan hingga ke akhirnya, tiada yang aku lihat melainkan pengaruniaan-pengaruniaan dari Allah.

3). Di dalam tarekat ini, pintu-pintu kepada ilmu-ilmu langit akan dibukakan kepada as-Salikin yang teguh menuruti jejak langkah Rasulullah s.a.w. Mengikuti as-Asunnah adalah cara yang paling utama untuk membuka pintu-pintu ini.

RIWAYAT MENGENAI ZIKIR KHAFI

Ketika Nabi Muhammad Saw. dan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. bersembunyi di Gua Hiro, kaum Quraisy yang Kafir, memburu Nabi ke gua itu, dan mereka mencari berada di mulut gua itu.Sayyidina Abu Bakar sangat bimbang, khawatir mereka mengetahui bahwa Nabi Saw. berada di situ. Kemudian Nabi Saw. bersabda. sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 40: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita" (QS.9 At-Taubah : 40).

PERJALANAN TASAWUF DALAM KAITAN TAKHALLI, TAHALLI DAN TAJALLI

Dalam pandangan Kaum Sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Ia cenderung ingin menguasai dunia atau berusaha agar berkuasa di dunia. Menurut Imam Al-Ghazali, cara hidup seperti ini akan membawa manusia ke jurang kehancuran moral. Kenikmatan hidup di dunia telah menjadi tujuan umat pada umumnya. Pandangan hidup seperti ini menyebabkan manusia lupa akan wujudnya sebagai hamba Allah yang harus berjalan di atas aturan-aturan-Nya.

TIMBANGKAN SETIAP PERKATAANMU

Orang menghitung dengan tasbih banyaknya mereka melafalkan "Asma Allah" dengan rasa puas-diri, tapi mereka tidak memakai tasbih untuk menghitung kata-kata kosong yang mereka ucapkan. Khalifah Umar bin Khattab ra berkata, "Timbanglah baik-baik kata perbuatanmu sebelum ditimbang di hari perhitungan."

PEMAHAMAN TENTANG DUA KALIMAH SYAHADAH

Oleh: Syeikh Amdan Maulana

Di dlm dua kalimah Syahadah terhimpunnya syariat, tarikat, hakikat dan makrifat. Oleh krn penerangan ini utk memudahkan kpd faham, yg berkeinginan utk mendapat hidayah dari Allah, berdoalah kpd Allah dan bertanyalah kpd guru makrifat. Bagaimana nak berguru kepada Allah. Untuk belajar menerima kebenaran belajar lah dari peristiwa Nabi Musa dengan Nabi Khidir,(jangan dipersoalkan) ilmu ini BUKAN drp daya pemikiran sifat tabi'ei fizikal tetapi ilmu kerohanian. Ilmu awal didalam ugama iaitu 'awaluddin makrifatullah.'

MARTABAT WALI

(Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat)

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah s.w.t berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat. Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

KULIAH ZIKIR DARI SYEIKH IBNU ATHA’ILLAH

KULIAH ZIKIR DARI SYEIKH IBNU ATHA’ILLAH DALAM MIFTAH AL-FALAH WA MISBAH AL-ARWAH

KULIAH PERTAMA

Zikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bahwa zikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun melalui lisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengingat lafal jalalah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya atau suatu tindakan yang serupa. Zikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya,wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa takarub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita.

TATA CARA ZIKIR TAREKAT NAQSYABANDIYAH


Tarekat Naqsandiyah, seperti juga tarekat yang lainnya mempunyai tata cara ritual tersendiri, sebagai berikut:

1. Husy dar dam , “sadar diwaktu bernafas” suatu latihan dimana seseorang harus menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah. Hal ini dikeranakan setiap keluar masuk nafas yang hadir beserta Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih dekat kepada Allah. karena kalau orang lupa dan kurang perhatian berarti kematian spiritual dan mengakibatkan orang akan jauh dari Allah.

KRONOLOGI DAN PERKEMBANGAN TASAWUF DAN TARIQAT

Pada artikel sebelum ini, telah disentuh golongan sufi terawal di zaman Rasulullah SAW iaitu ahli suffah yang menjalankan kehidupan zuhud dan ilmu disamping membantu Rasulullah SAW menjalankan urusan pentadbiran negara, samada domestik atau luar negara. Diantaranya ialah Salman al-Farisi, Abu Hurairah, Abu Zar al-Ghiffari, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Saad bin Abi Waqqas, Uqbah bin Amir, Tamim ad-Daari dan lain-lain. Pada peringkat ini, nama tasawuf dan tariqat belum muncul kerana kedua-duanya masih bersepadu dalam kehidupan mereka.