Friday, March 18, 2016

MENUTUPI AIB

Beruntunglah orang yang lebih disibukkan oleh aibnya sendiri daripada sibuk dengan aib-aib orang lain. Beruntunglah orang yang tidak mengenal orang-orang dan orang-orang pun tidak mengenalnya. Dan beruntunglah orang yang hidup, tetapi dia seperti orang yang mati; dan dia ada, tetapi dia seperti orang yang tidak ada. Dia telah menjadikan tetangganya terbebas dari kebaikan dan keburukannya. Dia tidak pernah bertanya tentang orang-orang, dan orang-orang pun tidak pernah bertanya tentang dirinya.

Maka hendaklah seseorang di antara kalian menjauhkan diri dari aib orang lain yang diketahuinya kerana dia mengetahui aib dirinya sendiri. Dan hendaklah dia menyibukkan diri dgn bersyukur kerana kesihatan yang diberikan Allah kpdnya, sementara org lain mendapatkan cubaan dgnnya (ditimpa penyakit). Maka bagaimana seorang pencela, iaitu yang mencela saudaranya dan mencemuh dgn musibah yg menimpa saudaranya itu? Apakah dia tidak ingat bahwasanya Allah telah menutupi dosa2nya, padahal dosanya itu lebih besar dpd dosa saudaranya yg dicela itu? Janganlah engkau tergesa2 mencela seseorang kerana dosanya. Sebab, barangkali dosanya telah diampuni. Dan janganlah engkau merasa aman akan dirimu kerana suatu dosa kecil. Sebab, barangkali engkau akan diazab kerana dosa kecilmu itu.

HADIS QUDSI TANDA CINTA

Allah Swt berfirman, “Wahai anak Adam, Aku tidak menciptakan kalian untuk memperbanyak jumlah kalian dari yang tadinya sedikit, tidak untuk berteman dengan kalian setelah tadinya kesepian, tidak untuk meminta bantuan kalian atas sesuatu yang Aku tidak mampu kerjakan, juga tidak untuk memetik manfaat dan menolak mudarat.

Tapi, Aku menciptakan kalian agar kalian terus mengabdi kepada-Ku, agar banyak bersyukur kepada-Ku dan agar bertasbih kepada-Ku, baik pagi maupun petang. Wahai anak Adam! Seandainya generasi dahulu dan kemudian dari kalian, jin dan manusia, yang kecil dan yang besar, yang merdeka dan yang menjadi hamba, semuanya berkumpul untuk taat kepada-Ku, hal itu takkan menambah kerajaanku sedikit pun.

Siapa yang berjihad, sebenarnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Allah Mahakaya, tidak butuh atas seluruh isi alam. Wahai anak Adam! Engkau akan disakiti sebagaimana engkau menyakiti. Dan engkau akan diperlakukan sebagaimana engkau berbuat.” (Kitab Al-Mawaizh fi al-Ahadis Al-Qudsiyyah, karya Imam Al-Ghazali). 

2). PAPAN PETUNJUK JALAN

“Allah mengetahui bahwa para hamba itu sangat mengharapkan agar ditampakkan rahasia pertolongan-Nya, maka dari itu Allah berfirman, “Dan, Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberi rahmat-Nya,” (QS Al-Baqarah: 105). Allah juga Maha Mengetahui bahwa seandainya Dia membiarkan mereka begitu saja, pasti mereka akan meninggalkan usaha karena hanya bersandar pada hukum azali semata. Karena itu, Allah berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-‘Araf: 56)”. (Syekh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam). 

Sahabatku, Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar kita merasa ridha dengan apa apu keputusan Allah. Kita juga diajarkan oleh Rasulullah untuk bersabar atas apa yang menimpa kita, seperti kesedihan, kegalauan, dan penderitaan, melalui ujian ini kita sebenarnya sedang diajarkan bagaimana cara bersyukur kepada Allah setiap saat, kapanpun dan dimanapun.Yakinlah bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT.

Lalu, kita merasa butuh, sehingga kita berdoa kepada-Nya. Namun, harus diingat bahwa sebenarnya amal yang kita lakukan dan kebutuhan kita bukanlah penyebab dari kemurahan dan rahmat Allah. Sebab sebenarnya, cinta, ampunan dan rahmat Allah itu telah mendahului eksistensinya. Ia telah ada sejak di zaman azali. Menurut Syekh Fadhlalla Haeri, amal kita itu mengikuti papan petunjuk jalan, padahal sesunggunya kita telah ada di kota-Nya.

3). TENTANG HAKIKAT DIRI DALAM SHALAT

Syekh Ibnu Athaillah berkata, "Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili r.a. Mengatakan, 'Keadaan dirimu bisa diukur melalui shalat. Jika engkau meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi maka kau bahagia. Tapi, jika tidak, tangisilah dirimu. Jika kaki ini masih sulit dilangkahkan menuju shalat, adakah orang yang tidak ingin berjumpa dengan Kekasihnya?!

Allah SWT berfirman, “Shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut 29: 45). Maka, barangsiapa yang ingin mengenal hakikat dirinya di sisi Allah dan mengetahui keadaannya bersama Allah, perhatikanlah shalatnya. Apakah ia melakukan shalat dengan khusyuk dan tenang atau dengan lalai dan tergesa-gesa?

Jika engkau tidak menunaikan shalat dengan khusyuk dan tenang, sesalilah dirimu! Sebab, orang yang duduk dengan pemilik kesturi, ia akan dapatkan wanginya. Sementara, ketika shalat, sesungguhnya engkau duduk bersama Allah. Jika engkau ada bersama-Nya tetapi tidak mendapatkan apa-apa, berarti ada penyakit dalam dirimu, mungkin berupa sombong, ujub, atau kurang beradab. Allah SWT berfirman, “Akan Ku-palingkan dari ayat-ayat-Ku orang yang bersikap sombong di muka bumi dengan tidak benar”. (QS Al-A'raf 7: 146).

Karena itu, setelah menunaikan shalat, janganlah terburu-buru pergi meninggalkan tempat shalat. Duduklah untuk berzikir mengingat Allah seraya meminta ampunan atas segala kekurangan. Bisa jadi shalatnya tidak layak diterima. Tapi, setelah berzikir dan beristigfar, shalatnya menjadi diterima. Rasulullah Saw. sendiri selepas shalat selalu membaca istigfar sebanyak tiga kali”. (Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-‘Arus).

4). PERJALANAN KALBU MENUJU KE HADIRAT ALLAH

Syekh Ibnu Atha’illah mengirim surat kepada sahabatnya: “Sesungguhnya permulaan (bidayah) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan akhir (nihayah). Barangsiapa yang permulaannya selalu bersandar kepada Allah, pasti akhirnya akan sampai kepada-Nya.”

Sahabatku, ungkapan di atas menjelaskan kondisi salik sejak awal hingga akhir perjalanan sampai ia menempati kedudukannya. Lalu, Syekh Ibnu Atha’illah menyebut adab suluk (meniti jalan Allah) dan cara wushul untuk sampai kepada Allah.

Maksud dari “permulaan” di sini adalah permulaan segala perkara. Sedangkan yang dimaksud dengan “cermin yang memperlihatkan akhir” adalah gambaran akhir segala perkara. Artinya, permulaan seorang murid adalah gambaran akhirnya. Jika di awal permulaan ia sudah memiliki tekad kuat untuk menghadap Allah dan berjuang dalam ibadah, serta melakukan riyadhah, maka hal tersebut adalah bukti bahwa di akhir ia akan mendapatkan kemenangan besar. Ia akan sampai kepada tujuannya dalam waktu singkat. Tetapi, jika awalnya dia lemah, maka kemenangan dan wushul-nya pun akan lemah.

Barang siapa sejak awal telah bersandar kepada Allah, selalu meminta pertolongan Allah dalam beribadah dan riyadhahnya, maka di akhirnya, ia pasti akan sampai kepada Allah. Ia akan berhasil mengesakan-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Zahir dan Batin. Dengan begitu, ia akan merasa dirinya sirna dan hilang di hadapan Allah.

Syekh Ibnu Atha’ilah mengatakan: “Hal yang harus dikerjakan adalah amal ibadah yang engkau sukai dan semangat dalam melakukannya, sedangkan yang harus engkau tinggalkan adalah hawa nafsu dan urusan dunia yang sering mempengaruhinya”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi).

MAULID NABI

1). MAULID NABI DI CHICAGO

Dahsyat! Di Negeri Cowboy pun bershalawat. Mereka merayakan kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW. Sungguh ini adalah perkembangan Islam yang luar biasa. Barisan muda pemeluk Islam di Amerika Serikat ini memiliki kepercayaan diri luar biasa sebagai Muslim dan meningkatkan populasi tinggi di negeri tersebut.

PESAN SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI TENTANG CINTA

“Aduhai engkau yang mengaku mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, namun masih juga mencintai lainnya! Dia-lah yang jernih dan selainnya adalah keruh. Apabila engkau mengeruhkan kejernihan itu dengan mencintaiselain-Nya, maka Dia akan membuatmu sedih. Allah Ta’alla akan melakukan seperti yang dilakukan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Yakub a.s. Ketika keduanya cenderung kepada anak mereka masing-masing, Dia lantas menguji dengan anak yang mereka cintai itu.

APAKAH MASIH ADA MANISNYA DOSA DI HATIMU?

Menurut Imam Al-Ghazali, tobat adalah ungkapan penyesalan yang mendalam, yang menimbulkan tekad kuat dan tujuan untuk memperbaiki. Sedangkan penyesalan lahir dari adanya pengetahuan dan kesadaran (ilm) bahwa segala kemaksiatan itu adalah dinding penghalang antara seseorang dan Sang Kekasih.

TEKNIK DAN RAHASIA DOA MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Jangan salahkan Allah jika Dia menangguhkan penerimaan doamu dan jangan pula kau jemu untuk berdoa. Sebab sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau pun tak rugi. Jika Dia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi, maka Dia akan menyisakan bagimu pahala di kehidupan kelak”. Rasulullah SAW bersabda, "Pada Hari Kebangkitan, hamba-hamba Allah akan mendapati dalam kitab amalnya berbagai amal yang tak dikenalinya. Lalu, dikatakan kepadanya bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan dunianya yang belum dikabulkan disana."

QANA'AH MEMBUAT HATI TENANG DAN DAMAI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Wahai saudaraku, mengertikah engkau apakah yang dimaksud dengan qana'ah? Qana'ah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas dengan memperbanyak bersyukur dan menghindari sifat rakus. Itulah yang disebut qana'ah. Berhentinya keinginan terhadap ара yang sudah diberikan kepadamu, dan tidak ada lagi keinginan untuk memintah tambahan lagi, maka itulah sikap orang arif (ma'rifat).

NIAT IKHLAS KARENA ALLAH

Dari Amir al-Mukminin, Abu Hafs Umar bin Khattab r.a bin Nufail bin Abd al-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Riyah bin Adi Ka’ab bin luay bin Ghalib al-Quraiys al-Adawi berkata, ”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung dengan niat. Setiap orang akan memperoleh dari apa yang diniatkannya. Jika seseorang itu hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut diterima oleh Allah dan Rasul. Namun, jika hijrahnya itu untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya tersebut sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

KEWAJIBAN DI JALAN TOBAT

Imam Al-Ghazali mengungkapkan: “Ketahuilah, sesungguhnya kewajiban bertobat itu telah sangat jelas dinyatakan dalam banyak hadis dan ayat Al-Qur'an. Bahkan, sangat nyata jika dilihat melalui cahaya mata batin (bashirah) bagi orang yang telah terbuka bashirahnya dan kalbunya telah dilapangkan Allah dengan adanya cahaya iman sehingga ia mampu memandan dan menerobos gelapnya kebodohan, tanpa perlu seorang pemandu yang akan menuntunnya di setiap langkah.

PETUA SYEKH ABDUL QADIR JAILANI TENTANG KASIH SAYANG

“Jagalah Tuhanmu Azza wa Jalla dalam keadaan sunyi atau ramai. Jadikan Dia sebagai pusat perhatianmu, seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihatmu.Barangsiapa yang berzikir dengan hatinya, berarti ia telah mengingat-Nya. Sedangkan yang tidak berzikir dengan hatinya, ia tidak mengingat-Nya.