Wednesday, May 18, 2016

IBRAHIM IBNU ADHAM, TIPS MENJAUHKAN DIRI DARI HAWA NAFSU

Ibrahim Ibnu Adham adalah zuhud angkatan awal. Ibrahim Ibnu Adham putra raja dari kerajaan Balkh, Dia lebih suka menjadi Sufi.  Suatu ketika Ibrahim Ibnu Adham , diberitahu tentang harga daging yang melonjak naik. Ibrahim Ibnu Adham ber kata, ” Apa kah ada orang-orang meminta harganya diturunkan?” atau lebih baik orang-orang tidak usah membelinya. Ibrahim Ibnu Adham pula membacakan liric: ” Di kala sesuatu menjadi mahal, niscaya aku kan meninggalkannya sehingga ia lebih murah dari harganya.” Ibrahim ibnu Adham.

KISAH ABU YAZID AL-BUSTHAMI, KITAB TAZKIROTUL AULIYA

Kakek Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah seorang di antara orang-orang terkemuka Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. “Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya,” ibunya sering berkata kepada Abu Yazid. “Engkau yang masih beraa di dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu ku muntahkan kembali.” Pernyataan si ibu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri. Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan, “Apakah yang terbaik bagi seorang manusia di atas jalan ini.” “Kebahagiaan yang merupakan bakat sejak lahir,” jawab Abu Yazid. “Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?” “Sebuah tubuh yang sehat dan kuat.” “Jika tidak memiliki tubuh yang sehat dan kuat?” “Pendengaran yang tajam.” “Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?” “Hati yg mengetahui.” “Jika tidak memiliki hati yg mengetahui?” “Mata yang melihat.” “Jika tidak memiliki mata yang melihat?” “Kematian yg segera.”

FANA DALAM KESATUAN AL-HARAWI AL-ANSHARI

Al Harawi al Anshari, yang nama lengkapnya, Abu Isma’il Abdullah bin Muhammad al-Anshari, yang lahir di Herat, Khurasan. Al Harawi al Anshari adalah seorang faqih Hambaliyah. Karya Al Harawi yang terkenal ialah Manazil as-Sa’irin ila Rabb al-‘Alamin. Di kitab tersebut dia berkata, “Kebanyakan ulama kelompok ini sependapat bahwa tingkatan akhir tidak dipandang benar kecuali dengan benarnya tingkatan awal, seperti halnya bangunan tidak bisa tegak kecuali didasarkan pada fondasi.

IMAM GHAZALI, LATIHAN ROHANIAH SEORANG SUFI

Menurut Imam Ghozali para sufilah pencari kebenaran yang paling hakiki, jalan sufi adalah paduan ilmu dengan amal, sebagai buahnya adalah moralitas. Keistimewaan para sufi tidak mungkin tercapai  hanya dengan belajar, harus dengan ketersingkapan batin, keadaan rohaniah, serta penggantian tabiat-tabiat. Lebih jelasnya menurut Imam Ghozali, Tasawuf adalah semacam pengalaman maupun penderitaan yang riil. Imam Ghozali menyatakan, para sufi adalah  ” orang-orang yang yang lebih mengutamakan keadaan rohani daripada ucapannya.”

AL-HARITS BIN AS’AD AL-MUHASIBI, TAHAP-TAHAP MAKRIFAT

Al-Harits bin As’ad al-Muhasibi, berasal dari Bashra yang meninggal di Baghdad tahun 243H. Beliau di beri gelar al-Muhasibi karena  suka melangsungkan introspeksi. Harits bin As’ad al-Muhasibi mengarang berbagai kitab yang terkenal salah satu kitab karyanya Al-Ri’ayah li Huquq al-Insan, salah satu karya Islam yang terindah tentang kehidupan batin. Harits bin As’ad al-Muhasibi, adalah seorang sufi yang mengkompromikan ilmu syari’at dan ilmu hakikat. Menurut al-Qusyairi, dalam ilmu, kerendahan hati dan pergaulannya yang terpelihara baik tidak ada bandingannya pada masa itu. Menurut  asy-Sya’rani, “Dia (al-Muhasibi) adalah seorang alim diantara tokoh-tokoh alirannya, menguasai ilmu-ilmu lahir, ilmu pokok agama, serta ilmu-ilmu muammalah.

SUNAN AMPEL, SUFI JAWA

Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Ibrahim Asmarakandi disebut juga sebagai Maulana Malik Ibrahim. Ia dan adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro. Ketiganya berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.

ABU HASAN SYADZILI, GURU IBNU ATHOILLAH AL-SYAKANDARI

Tarikat Syadziliyyah dinisbatkan kepada Abu Hasan Syadzili, yang berasal dari Syadzilah Tunisia, dan dari sana pula bersama-sama muridnya pergi ke Mesir lalu tinggal di kota Iskandariah, sekitar tahun 642H. Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi (wafat tahun 686H), yang kemudian menggantikan Abu Hasan Syadzili dlm memimpin Tariqoh ini kemudian digantikan oleh Ibnu ‘Atho’illah al-Syakandari.

WAHDATUL WUJUD, IBNU SABIN

Ibnu Sabin adalah seorang sufi dan juga Filosof dari Andalusia, yang mempunyai nama lengkap, ‘Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr. Dia dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin, kadang juga dipanggil Abu Muhammad. Beliau lahir tahun 614 H (1217-1218 M) di Murcia. Ibnu Sabin tumbuh dalam keluarga bangsawan, Ayahnya adalah penguasa di Murcia.  Ibnu Sabin berguru kepada Ibn Dihaq yang dikenal dengan Ibnu Mir’ah (wafat 611H) pensyarah karya al-Juwaini, al-Irsyad, selain itu Ibnu Sabin juga berguru pada al-Yuni (wafat 622 H), dan al-Hurrani ( wafat 538 H), keduanya ahli huruf dan nama. Hubungan antara Ibnu Sabin dan para gurunya banyak terjalin lewat  kitab daripada secara langsung. Pada tahun 640 Ibnu Sabin dan muridanya pergi ke Afrika, karena faktor-faktor politik di negerinya, dia dianggap melemahkan Dinasty al-Muwahhidin serta berakhirnya kebebasan berfikir di Andalusia.

IMAM GHAZALI, SUFI SUNNI

Ada beberapa Artikel yang membahas tentang Imam Ghazali, untuk sedikit memahami pemikiran dan meraba pengetahuan beliau yang sangat luas. Dengan begitu, arah menuju Allah adalah obat yang menyembuhkan Imam Ghozali, katanya: “Penyakit ini pun semakin merajalela. Dan hampir selama berbulan-bulan, dipaksa oleh kondisi yang ada dan bukannya berdasarkan logika sehat, aku berada dalam jalur kaum sufi. 

SYEIKH SITI JENAR: MANUNGGALING KAWULA GUSTI

Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. Tidak terdapat cukup bukti bahwa Syeh Siti Jenar menolak ajaran Syari’at, namun sayangnya informasi umumnya sampai kepada masyarakat Syekh Siti jenar dianggap menolak kewajiban syari’at.