Monday, June 13, 2016

SYAHADAT

1). Syahadat Adam a.s: Rasul yang pertama adalah Nabi Adam a.s, Bunyi syahadatnya begini: “ASHADU ALA ILAHA ILLALLAH WA ASHADU ANNA ADAM KHALIFATULAH”. Perintah Allah: Hai Adam, kamu adalah untusanKu. Kamu jangan mempunyai keinginan makrifat kepadaKu. “WALLAHU BATINUL INSAN AL INSANNU DOHIRULLAH”. Artinya: ketahuilah wujud kamu, kenallah diri kamu, wujud kamu adalah keadaan wujud Aku. Hai Adam, setelah kamu memahami dan mengerti wujud kamu adalah wujud Aku, sekarang kamu harus solat dua rakaat maka solatlah adalah agar kamu menerima kebaikkan. 

RASULULLAH MENANGIS DI PADANG MAHSYAR

Dari Usman bin Affan dari Abbas, Rasulullah bersabda, “Aku adalah orang yang paling awal dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat yang tiada kebanggaan. Bagiku ada syafaat pada hari kiamat yang tiada kemegahan. Bendera pujian di tanganku dan nabi-nabi keseluruhannya berada di bawah benderaku. Umatku adalah umat yang terbaik. Mereka adalah umat yang pertama dihisab sebelum umat yang lain. Ketika mereka bangkit dari kubur, mereka akan membuang tanah yang ada di atas kepala mereka. Mereka semua akan berkata, ‘Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah serta dibenarkan oleh para rasul’.”

SYAHADAT (SASAHIDAN INGSUN SEJATI), SYEIKH SITI JENAR

Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat mengucapkannya, walau kebanyakan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi.

ILMU HAKEKAT USUL DIRI

“MAQOM SARABA AMPAT” B E R H I M P U N

Berhimpun Syareat, Tarekat, Hakekat dan Makrifat dinamakan Diri yang empat
Berhimpun Iman, Islam, Tauhid, Makrifat dinamakan Nurani
Berhimpun Ujud, Ilmu, Nur, Syuhud dinamakan Syawa’an
Berhimpun Hayat, Kudrat, Iradat, Ilmu dinamakan Sirr
Berhimpun Nafas, Anfas, Tanafas, Nufus dinamakan Insan
Berhimpun Tanah, Air, Api, Angin dinamakan Jisim
Berhimpun Badan, Hati, Nyawa, Rasa dinamakan Rohani
Berhimpun Wadi, Maddi, Mani, Manikam dinamakan Basyariah
Berhimpun Kulit, Daging, Tulang dan Urat dinamakan Jasad
Berhimpun Loh, Kalam, Nur, Akal dinamakan Manusia
Berhimpun Warna, Rupa, Rasa, Penciuman dinamakan Jasad
Berhimpun Roh, Nur, Kalam, Akal dinamakan Ruh Idhafi
Berhimpun Dzat, Sifat, Asma, Afaal dinamakan Allah
Berhimpun Jamal, Jalal, Kamal, Kahar dinamakan Ya Dzal Jalalli wal Ikram.

STRATEGI DAKWAH WALI SONGO

Oleh: Asy-Syaikh As-Sayyid KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini (Peneliti Sejarah & Nasab Wali Songo, Mursyid Thariqah Wali Songo dan Pimpinan Majelis Dakwah Wali Songo).

Menurut sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Walisongo adalah perintis awal dakwah Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, yang dipelopori Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil merekrut murid-murid untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara sejak abad ke-14. Walisongo yang terkenal dan Masyhur terdiri dari sembilan wali, yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

KAUM MUSYRIKIN MENGIMANI RUBUBIAH (KETUHANAN) ALLAH

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata: Al-Imam Al-Mujaddid Al-Mushlih Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

ﺍَﻟْﻘَﺎﻋِﺪَﺓُ ﺍﻷُﻭْﻟﻰَ : ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻠَﻢَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻗَﺎﺗَﻠَﻬُﻢْ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳُﻘِﺮُّﻭْﻥَ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻖُ ﺍﻟْﻤُﺪَﺑِّﺮُ ، ﻭَﺃَﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻢْ ﻳُﺪْﺧِﻠْﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ . ﻭَﺍﻟﺪَّﻟِﻴْﻞُ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﴿ﻗُﻞْ ﻣَﻦْ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﻣَّﻦْ ﻳَﻤْﻠِﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺪَﺑِّﺮُ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻓَﺴَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻘُﻞْ ﺃَﻓَﻠَﺎ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ
[ ﻳﻮﻧﺲ : 31 ]

SANGKAN PARAN

Asal usul kejadian Diri (SANGKAN PARAN) adalah sebuah mata rantai kejadian DIRI. memiliki suatu urutan proses kejadian, ini penting untuk diketahui.. krn siapa kenal dirinya akan kenal TUHANnya, dan awal dari kenal diri itu mesti kenal asal usul adanya diri, asal usul ini adalah gambaran dzahir, yang menggambarkan sebuah gambaran hakiki tentang keberadaan. yang pertama mesti diketahui adalah tentang "AIR KEHIDUPAN", tirta maya, atau air maya, atau disebut juga MAA' AL-HAYAT. AIR KEHIDUPAN ada di OTAK manusia, adanya di hipotalamus, yaitu OTAK primitif manusia, berada ditengah kepala dibawah otak besar. ditempat yang disebut sbg "NUN" yaitu mangkuk/wadah dari air kehidupan. 

AKAL, HATI & NAFSU

Didalam jasad manusia ALLAH telah menjadikan HATI (NURANI), AKAL dan NAFSU. Diantara ketiga-tiganya jasad batin itu mempunyai peranan atau fungsi yang tersendiri dan berbeda di antara satu sama lain. Dalam JASAD manusia selalu berkolaborasi antara NAFSU, AKAL, dan HATI NURANI, dan tidak ada lagi yang lainnya. Manusia tanpa salah satu diantara ketiga hal tersebut, bukan lagi seorang manusia. Dan hal itulah yang menjadi prinsip dasar perbedaan antara manusia dan makhluk hidup lainnya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang selalu mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata), ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS 3:190-191)

MELIHAT TUHAN DENGAN HATI ( QALBU)

NABI MUHAMMAD SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi HATI/QALBU sebagai Raja bagi kehidupan.  Apabila kita menjadikan AKAL kita sebagai raja dan HATI menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. HATI kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal ALLAH . AKAL menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di OTAK (AKAL). Sehingga kitapun lebih mempercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup.

SESUNGGUHNYA MANUSIA DALAM KEADAAN MERUGI

"Haqiqat Diri versi Syekh Siti Jenar (S. Al-Ashri)”. WAL ASRI yang artinya : ”Demi yang lembut" Allah SWT BERSUMPAH dengan AL-ASHR pada diawal surah pendek ini, bersumpah dengan zaman/masa, bersumpah dengan umur dan bersumpah dengan waktu. INNAAL-INSAANA LAFII KHUSRIN yang artinya : “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”. Ayat ini memiliki dua tau’kid (PENGUAT) yaitu : inna (yang artinya sesungguhnya) dan la taukid (dalam la-fi yang artinya benar-benar atau sungguh-sungguh).