Tuesday, August 9, 2016

SANDARKAN SEGALANYA KEPADA ALLAH

Rasulullah s.a.w mendekati kami dan bersabda: “Hai manusia, rendahkanlah suara kalian ketika berdoa, sebab kalian tidak menyeru zat yang tuli lagi tidak ghaib, hanyasanya kalian menyeru kepada Zat Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat”. Kemudian Baginda bersabda: “Hai Abdullah bin Qais, maukah kamu ku ajari kalimat yang menjadi harta karun Syurga?, iaitu ucapan ‘LAA-HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH’." (Sahih Bukhari)

CARA BERTEMU ALLAH DAN RASULNYA

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani mengatakan: “Wahai anak muda! Engkau mengaku sebagai Sufi, tetapi engkau merasa terganggu dan bingung. Sufi adalah org yg lahir dan batinnya telah dimurnikan (shafâ) dgn mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW semakin meningkat kemurniannya, dia semakin muncul dari lautan eksistensinya dan meninggalkan kehendak, pilihan serta kemauannnya sendiri dikarenakan kemurnian kalbunya. Ketika kalbu seseorang telah murni, maka Nabi SAW akan menjadi duta antara dia dan Rabbnya, sebagaimana halnya Jibril. 

KEAGUNGAN ALLAH MELALUI MUSYAHADAH

Saban hari kita menyebut Allahu Akbar (Allah Maha Besar) pada setiap kali kita mendirikan solat. Malang nya kebesaran Allah masih belum meresap dan menyelera di dalam jiwa sanubari kita. Intipati atau ciri-ciri keimanan ialah merasakan Kebesaran dan Keagungan Allah di dalam diri setiap masa dan ketika dalam semua keadaan. Pendek kata tebal atau nipisnya iman seseorang bergantung kepada bagaimana dia merasakan Kebesaran Allah di dlm hatinya.  Keyakinan dan keimanan terhadap Allah menjadi pendorong utk melakukan ibadat sbg pengabdian diri kpd-Nya. Allah menjadikan, memiliki dan memerintah sekalian alam ini. Malahan diri kita juga adalah kepunyaanNya. 

HAKIKAT WUDHU DALAM PERSPEKTIF AHLI TASAWWUF

Surat Al-Qashash ayat 88 artinya: "Tiada yang wujud hanya ZatNya semata mata, maka setiap sesuatu (yg zahir) adalah terhapus (tiada sebenarnya) kecuali yang zahir itu adalah wajahNya semata2. Dialah yg benar2 berhak dan kepadaNyalah harus dikembalikan.” Kita menyatakan hidup kita, ilmu kita, pandangan kita, penglihatan kita, kuasa kita, kata2 kita, semuanya adalah Hak Allah bukan semata mata hak kita dan sesungguhnya konsep tersebut diatas adalah Hakikat Wudhu pada pandangan Tasawwuf. 

KISAH SYAIKH ABDUL QADIR AL JILANI DAN IBLIS

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berjalan-jalan dengan muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Mereka pun merasa letih dan dahaga. Tiba-tiba, sekumpulan awan muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam air muncul di hadapan mereka. Mereka terpesona. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan, muncul dari celah awan di hadapan mereka dan terdengarlah satu suara dari dalamnya yang berkata:

MANFAAT ZIKIR BAGI KITA

Tidak ada ibadah yg lebih bermanfaat bagimu dpd zikir. Sebab, zikir adalah ibadah yg boleh dilakukan org tua dan org sakit yg sudah tidak mampu lagi berdiri, rukuk, dan sujud. Bersihkan cermin hatimu dengan khalwat (bersendiri) dan zikir hingga kelak kau berjumpa dengan Allah swt. Hatimu harus selalu ingat Allah sehingga cahaya menyinarimu. Jgn spt org yg ingin menggali perigi, kemudian dia menggali di satu tempat sedalam satu jengkal lalu menggali di tempat lain sedlm satu jengkal pula. 

KISAH SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI DENGAN ISTERI

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, isteri-isteri Syeikh Abdul Qadir  al-Jilani bertemu dengannya dan berkata: “Wahai suami kami yang terhormat, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan tanda kesedihan. 

KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID

Aku wasiatkan dirimu untuk membaca kalimat La ila ha ilallah setiap waktu, khususnya pada saat sedih, sibuk dan mengalami kesempitan hidup. Sebab, sesungguhnya kalimat tersebut akan memperluas rezeki. Menurut tabiatnya, kalimat ini bersifat sejuk, bahkan ia dapat membuat seseorang tertidur.

MELIHAT ALLAH DENGAN MATA HATI

Ulama sepakat bahwa Rasulullah saw pernah melihat Allah dengan hatinya, berdasarkan Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: “Beliau s.a.w melihatNya dengan hatinya.” [HR.Muslim]

JANGAN SOMBONG: SUATU KISAH ABU YAZID AL BUSTAMI

Suatu ketika ketika Abu Yazid Al Bustami sedang duduk, di benaknya terlintas pemikiran bahwa dirinya adalah seorang besar, seorang wali pada zamannya. Tak lama kemudian dia sadar bahwa dirinya telah melakukan dosa besar. Dia segera bangkit dan pergi ke Khurosan. Sesampainya di sana dia menginap di sebuah tempat.