Friday, March 11, 2016

NASEHAT UNTUK BATINMU

Allah SWT berfirman: “Wahai anak Adam! Aku tidak menciptakan kalian bukan untuk memperbanyak jumlah kalian dari yang tadinya sedikit, bukan untuk mengajak berkawan dengan kalian setelah merasa kesepian, bukan pula untuk meminta bantuan kalian atas sesuatu yang Aku tak sanggup lakukan, bukan pula untuk mengambil manfaat atau menolak mudarat apa pun. Namun, Aku menciptakan kalian agar kalian senantiasa beribadah kepada-Ku, agar kalian banyak bersyukur kepada-Ku, serta agar kalian bertasbih kepada-Ku pagi dan petang.

HAKIKAT IMAN RABIAH AL ADHAWIYAH

Dalam kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha, Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa Abu Sulaiman berkata, “Siapa saja yang hari ini sibuk dengan dirinya sendiri, maka besok dia juga akan sibuk dengan dirinya sendiri. Siapa saja yang hari ini sibuk dengan Tuhannya, maka besok dia akan sibuk dengan Tuhannya.”

MEMBUKA PINTU REZEKI

Syekh Ibnu Atha'illah mengatakan: “Allah berfirman,'Datangilah rumah dari pintunya!'(QS Al-Baqarah:189),Ketahuilah, pintu rezeki adalah ketaatan kepada Sang Pemberi rezeki. Bagaimana mungkin rezeki diminta dengan cara bermaksiat kepada-Nya? Atau, bagaimana mungkin karunia-Nya diminta sedangkan Dia tidak dipatuhi? Nabi SAW bersabda, 'Apa yang terjadi di sisi Allah tidak dApat diraih dengan murka-Nya.'Artinya, rezeki Allah hanya bisa diminta dengan ridha-Nya. Maka, Allah berfirman menjelaskan hal ini, 'Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar."(QS At-Thalaq: 2). (Syekh Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-Arus). Dalam syarahnya, Syekh Muhammad Najdat mengutip Syekh Abul-Abbas r.a. dalam hizb-nya menyebutkan, "Rezeki yang lapang adalah yang tidak menjadi hijab kepada-Nya di dunia serta tidak dihisab, ditanya dan dihukum di akhirat. Para pemiliknya berada dalam hamparan tauhid dan syariat. Mereka selamat dari hawa nafsu, syahwat dan ketamakan.”

MAHAR CINTA UNTUK KEKASIH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Orang yang yang mencintai akan menjadi orang yang dicintai jika hatinya bersih dari selain Allah SWT, sehinga ia tidak berharap meninggalkan-Nya. Hati akan sampai ke tingkat ini disebabkan karena ia menunaikan berbagai ibadah fardhu, bersabar menghadapi perkara-perkara yang haram dan syubhat, selalu mengonsumsi sesuatu yang mubah dan halal, meninggalkan hawa nafsu dan syahwat, bersikap wara’, serta melakukan kezuhudan secara sempurna, yakni meninggalkan selain-Nya, melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu dan setan, serta menyucikan hati dari para makhluk, sampai akhirnya sama baginya antara pujian dan celaan, atau sama keadaanya saat diberi nikmat atau tidak diberi.

ANTARA AKU, TUHAN DAN ALAM

“Allah mengizinkanmu untuk merenungkan apa yang ada di seluruh alam. Tetapi, Dia tidak mengizinkanmu hanya berhenti pada benda-benda di semesta alam semata. ‘Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit,’ (QS Yunus 10: 101). Dia membuka pintu-pintu pemahaman bagimu. Dan, Dia tidak mengatakan: ‘Perhatikanlah langit itu!’ agar tidak hanya menunjukkanmu tentang adanya benda-benda semata.” (Syekh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam). 

MARI BELAJAR MAKRIFAT

Syekh Ad-Daqqaq mengatakan: “Makrifat itu memastikan datangnya ketentraman pada hati, seperti juga ilmu membawa ketentraman pada akal. Siapa bertambah nilai makrifatnya, bertambah pulalah rasa tentram pada hatinya”. (Risalah Al-Qusyairiyah).

MENGENAL ARTI CINTA

Sufyan bin Uyainah r.a.berkata:

مَنْ أَحَبَّ اللهَ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى وَمَنْ أَحَبَّ مَنَ أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى أَحَبَّ مَا أَحَبَّ فِيْ اللهِ تَعَالَى وَمَنْ أَحَبَّ مَا أَحَبَّ فِيْ اللهِ تَعَالَى أَحَبَّ أَنْ لَايَعْرِفُهُ النَّاسُ

EMPAT KENIKMATAN BERIBADAH

‘Utsman r.a pernah berkata: 

وُجِدَتْ حَلَاوَةُ الْعِبَادَةِ فِيْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا فِيْ أدَاءِ فَرَائِضِ اللهِ وَالثَّانِيْ فِيْ اجْتِنَابِ مَحَارِمِ اللهِ وَالثاَلِثُ فِيْ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَابْتِغَاءَ ثَوَابِ اللهِ وَالرَابِعُ فِيْ النَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ وَالِإتِّقَاءِ مِنْ غَضَبِ اللهِ

“Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam empat hal, yaitu:

MENGHIDUPKAN KALBU

“Boleh jadi cahaya-cahaya mendatangimu dan mendapati kalbu yang masih dipenuhi dengan hal-hal duniawi, sehingga cahaya-cahaya itu kembali ke tempat semula”. (Syekh Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam).  Sahabatku, kita harus terus mengolah batin, membersihkan dan mensucikan kalbu dari segala unsur-unsur selain Allah yang mengotori kalbu. Cahaya Ilahi tak akan mampu ditampung jika kalbu masih dikotori hasad, dengki, dendam, amarah, tamak, sombong dan angkuh, Jangan sampai, ketika Tuhan berkehendak untuk memantulkan cahaya-Nya, tetapi justru diri kitalah yang menolak dan menghindari pancarannya.

JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN ALLAH

Syekh Ibnu Ath'illah menjelaskan: “Ingatlah, jangan sampai engkau ikut mengatur bersama Allah. Orang yang ikut mengatur bersama Allah seperti orang yang diutus majikannya ke suatu daerah untuk membuatkan beberapa baju baginya. Si pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan setibanya di sana ia bertanya: 'Di mana aku akan tinggal? Siapa yang akan kunikahi?’