Friday, March 11, 2016

MENGHIDUPKAN KALBU

“Boleh jadi cahaya-cahaya mendatangimu dan mendapati kalbu yang masih dipenuhi dengan hal-hal duniawi, sehingga cahaya-cahaya itu kembali ke tempat semula”. (Syekh Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam).  Sahabatku, kita harus terus mengolah batin, membersihkan dan mensucikan kalbu dari segala unsur-unsur selain Allah yang mengotori kalbu. Cahaya Ilahi tak akan mampu ditampung jika kalbu masih dikotori hasad, dengki, dendam, amarah, tamak, sombong dan angkuh, Jangan sampai, ketika Tuhan berkehendak untuk memantulkan cahaya-Nya, tetapi justru diri kitalah yang menolak dan menghindari pancarannya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan: “Wahai kalian yang kalbunya mati, kalian harus senantiasa mengingat Tuhan kalian, membaca Kitab-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan menghadiri majelis-majelis zikir. Dengan demikian kalbu kalian akan hidup kembali, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan yang menyegarkan.

Zikir yang terus-menerus adalah penyebab kebaikan yang terus-menerus di dunia ini dan di akhirat nanti. Apabila kalbu seseorang sehat, maka zikir akan menjadi hal yang terus-menerus terjadi di dalamnya. Zikir terukir di seputarnya dan di seluruh ruangnya, sehingga matanya boleh saja tertidur, tetapi kalbunya akan selalu mengingat Tuhannya. Dia mewarisi ini dari Nabinya Saw., yang biasa mengingat Allah di setiap saat.

Hamba-hamba Tuhan secara normal akan tidur hanya jika kantuk menguasai mereka secara tak tertahankan lagi, meskipun ada sebagian orang di antara mereka yang dengan sengaja tidur satu jam di malam hari, sebagai cara untuk membantu diri mereka agar bisa bangun sepenuhnya sepanjang sisa malamnya. Dengan memberikan sedikit kelonggaran ini kepada kepada kebutuhan diri rendahnya (nafs), mereka akan menenangkannya dan mencegahnya dari mendatangkan kesulitan serius kepada mereka.

Alkisah, diceritakan bagaiman seorang yang saleh (semoga Allah Yang Mahatinggi melimpahkan rahmat-Nya kepadanya) sedang memegang seuntai tasbih dan menggunakannya untuk menghitung puji-pujiannya kepada Tuhan, sampai suatu saat dia tertidur. Kemudian dia terbangun dan melihat bahwa biji-biji tasbihnya masih berputar di tangnnya, sementara lidahnya masih mengucapkan zikir kepada Tuhannya.

Seorang saleh yang lain lagi biasa memaksa dirinya untuk tidur di sebagian malam, dan akan mendapati dirinya siap untuk itu tanpa betul-betul membutuhkan istirahat. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Kalbuku melihat Tuhanku.” Dia mengatakan kebenaran dalam apa yang dikatakannya, sebab mimpi yang benar (manam shadiq) adalah wahyu dari Allah. Apa yang dia sukai ada di dalam tidurnya.

Apabila seseorang dekat kepada Allah, maka malaikat-malaikat-Nya akan diberi tugas mengawasinya setiap saat. Jika dia tidur, mereka akan duduk di arah kepalanya dan di arah kakinya; mereka menjaganya baik di depannya maupun di belakangnya. Setan mungkin akan mencoba menggodanya, tetapi dia tidak akan merasakan kedekatannya, sebab dia tidur dalam penjagaan Allah, dan dalam penjagaan-Nya dia akhirnya akan terjaga kembali. Apakah dia bergerak ataukah diam, dia selalu dalam penjagaan Allah Yaang Mahatinggi.

Ya Allah, jagalah kami dari semua keadaan, dan :Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat juga, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS 2:201). (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khawathir).

No comments:

Post a Comment