Saturday, January 9, 2016

7 KEUNTUNGAN UNTUK ORANG YANG MAKRIFAT

(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

CIRI ORANG YANG MAKRIFAT adalah dia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Kerana itu, kualiti Makrifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum Makrifat. Sebab, orang yang Makrifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktiviti dapat membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah. Salah satu ciri orang Makrifat adalah selalu menjaga kualiti ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan 7 keuntungan hidup:

SYARIAT TAREKAT HAKIKAT MAKRIFAT

(4 Cabang Ilmu). Kekeliruan sering wujud di dalam memahami apa itu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Ramai yang mungkin masih dalam kekeliruan tentang perbezaan diantara Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Kebingungan bertambah ketika kebanyakkan ilmu di antara fahaman Tasawuf atau Mazhab-mazhab ilmu Fiqah yang semakin memperuncing perbezaan diantara ilmu tersebut. Padahal, masing-masing merupakan jalan menuju kepada "Keikhlasan dengan Allah s.w.t." dengan kaedah-kaedah ilmu yang berbeza. Tujuan atau matlamat kesemuanya adalah sama iaitu menuju kepada Allah, satu-satu Zat yang wajib di Tauhidkan, di Esakan, di Makrifatkan dengan penuh “Keikhlasan".

LAA ILAAHA ILLALLAH

1. LA (لا ) : di nama kalimat nafi, maksudnya: tidak ada yang lainnya yang di maksudkan dengan Allah itu melainkan HUWAL AWALU (هوالاول ),yakni AINUL HAQ yang yang awal-awal ada dengan sendirinya.

2. ILAAHA (اله ) : di namakan kalimat mumfi, maksudnya: yang sungguh-sungguh meniadakan akan yang lainnya melaikan HUWAL AWWAL itulah Allah yang di maksudkan.

3. ILLA (الا ) : di namakan kalimat istbat, maksudnya: menetapkan akan yang sebenarnya di maksudkan.

4. Allah (الله ) : di namakan kalimat mustbat, maksudnya: yang sungguh-sungguh menetapkan akan yang sebenarnya di maksudkan. Bahwa sesungguhnya: HUWAL AWWALU, HUWAL AKHIRU, HUWAZ ZAHIRU, HUWAL BatinU itulah Allah yang sebenarnya di maksudkan.

Maka makna LAA ILAAHA ILLAllah itu menurut ilmu Alqur'an tidaklah ada makna sembah atau yang di sembah,melaikan menetapkan keESAan HU (هو ) semata-mata.

Ketahuilah bahwa kata bahasa TUHAN itu asalnya adalah perkataan pada zaman sebelum Islam, yang di maksud adalah SANG HIYANG WIDI yakni maha raja DEWA, kemudian setelah islam masuk di Nusantara ini maka TUHAN itu telah di gunakan kepada kalimat TAUHID sekadar makna pendekatan saja,yakni bukan makna yang tetap atau mutlak, seterusnya SOLAT di maknakan solat, asalnya adalah menyembah atau memuja-muja SANG HIYANG WIDE itu. Maka segala makna itu adalah semuanya harus atau boleh saja, asal saja telah di kaji akan maksud yang sebenarnya menurut Alqur'an.

Kemudian ketahuilah bahwa yang menjadi pokok kalimah tauhid itu adalah dua(2) kalimat yaitu: ILAAHA dan Allah, adapun LAA dan ILLA adalah untuk menetapkan dan mengarahkan kepada sasaran yang dimaksudkan.

Adapun ILAAHA itu di dalam ilmu makrifat di namakan kalimah mabda wun (مبدو ) yaitu kalimah yang telah menghimpunkan akan segala sifat kesempurnaan yang Qahhaariyah (قهاريه ) yang terdahulu dari segala sesuatu. Mabdawun artinya yang terdahulu dari segala sesuatu, maka kandungan ILAAHA itu ialah JALAAL, JAMAAL, QAHHAR, KAMAAL.

Ada pun Allah itu di namakan kalimah maujud, yaitu kalimah yang bermakna nama jumlah segala puja dan puji untuk memuji kesempurnaan sifat ILAAHA yang telah maujud atau telah nyata pada kejadian alam langit dan bumi dan insan diri Adam dan seterusnya lagi. Maka kesempurnaan sifat ILAAHA itu yang telah maujud lagi sangat mulia di dalam alam ini ialah insan diri MUHAMMAD RASULULLAH S.A.W.

Ketahuilah bahwa malaikat-malaikat tidaklah hanya sujud kepada insan diri Adam, tetapi lebih-lebih lagi sujud kepada insan diri MUHAMMAD RASULULLAH yang sangat mulia itu, bahwa hal keadaan Muhammad Rasulullah itu adalah امام الانبياءوالمرسلين وامام اهل الجنة عبا دالله المو منين .

Adapun ILAAHA dan Allah itu oleh ulama-ulama ahli makrifat telah di satukan di dalam makna ISTBAT, kemudian LAA dan ILLA itu di satukan di dalam makna NAFI.

Tadi kalimat tauhid itu mengandung makna di dalam ilmu makrifat adalah NAFI dan ISTBAT, adapun hal keadaan yang mustahil itu selama-lamanya tidak ada. Oleh kerana itu tidak ada yang di tiadakan oleh LAA dan tidak ada yang di kecualikan atau yang di sisih oleh ILLA, maka ketetapan makna lagi di dalam ilmu makrifat hanyalah ISTBAT semata-mata, oleh kerana telah berkata di antara ulama-ulama ahli makrifat: "tatkala aku mengatakan LAA maka sendirinya adalah ILLA", maka kesudahan Faham tentang makna kalimat tauhid itu adalah terhimpun di dalam zikir sir yakni zikir hakikat ¤HU-Allah¤.

Telah berkata imam Al Ghazali: "dan hanya sanya puncak makna yang di maksud oleh kalimat tauhid itu adalah yang mudah bagi kematian seseorang muslim,tidaklah kosong di dalam qalbinya dengan zikrullah".

Maka yang mudah itu ialah HU-Allah (هو * الله ) pada masuk dan keluar napas, bahwa lidah kemungkinan boleh kelu. hanya tinggal lagi masing-masing menanyakan kepada guru yang mursyid, apakah yang sebenarnya di Esakan dengan zikir HU-Allah itu.

Menurut ahli-ahli tauhid adalah meng Esakan Dzat beserta kesempurnaan sifat Dzat, kemudian bagaimana Faham ahli-ahli tasawuf atau aulia-aulia Allah, sudah tentu ada perbezaannya. Oleh kerana itu tuntutlah dan carilah sampai dapat dan difahamkan oleh Nya.

Kemudian ingatlah: janganlah LAA itu di artikan meniadakan Allah yang di katakan oleh orang-orang yang bukan islam, dan ILLA itu jangan pula di artikan mengecualikanNya, Bahwa yang di katakan Allah oleh mereka itu adalah yang batil semata-mata.

Bunyi ayat: انما المشركون نجس artinya: hanya sanya yang di katakan Allah oleh orang-orang yang bukan islam itu adalah sebagai najis di dalam pandangan hukum islam(mensyirikkan Nya).

Mengenai maksud MAKNA LAA ILAAHA ILLAllah DALAM ILMU Makrifat, semoga kita semua di beri pemahaman yang benar(sodiq) dan di beri syafaat dan hidayah oleh-Nya. Aminnn…

BERDOALAH KEPADA ZAT YANG PINTUNYA TAK PERNAH TERTUTUP

Syekh Abdul-Qadir Al-Jailani qaddasAllahu sirrahu mengatakan: “Janganlah mengatakan, “Aku tidak mahu berdoa kepada Allah SWT. Kerana apabila sesuatu yang aku minta itu memang sudah menjadi bahagianku, Allah swt akan memberikannya, baik aku memintanya atau tidak. Dan jika itu memang bukan menjadi bahagianku, Allah tidak akan pernah memberikannya kepadaku, meskipun aku memintanya.”Tetapi, mintalah kepada-Nya semua yang kamu inginkan dan yang kamu hajatkan dari semua kebaikan dunia dan akhirat, selama sesuatu itu tidak mengandungi unsur keharaman dan kerosakan. 

BENTENG ALLAH

"Allah tidak akan dijumpai sehingga kita betul-betul mahu bertemu denganNya, seperti orang yang hampir kelemasan mahukan pertolongan”. “Rahsia itu dibukakan kepadaku tatkala aku tenggelam dalam cinta Allah.” (Abu Muhammad Imam Ja’afar Al-Sadiq). “Dengki dan cinta kepada dunia mestilah disingkirkan dari hati orang yang betul-betul menuju Allah.” (Habib Al-Ajmi). 

KISAH WALI YANG TERSEMBUNYI

Inilah Kisah Seorang Wali Yang Tersembunyi, tersembunyi kerana masyarakat tidak mengetahui bahwa beliau adalah seorang Wali. Kejadian ini diambil dari Buku Harian Sultan Murad IV. Di dalam buku hariannya itu, diceritakan bahwa suatu malam sang Sultan Murad merasa sangat gelisah dan galau, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia pun memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar dari istana dengan menyamar sebagai rakyat biasa.

MELIHAT ALLAH

Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur'an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati. Dalam konteks hubungan dengan "Melihat Allah" dan "Seakan-akan melihat Allah", maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Allah. "Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diriMu padaKu, aku ingin memandangMu." Allah menjawab, "Kamu tidak bisa melihatKu." (al-A'raf 143). Ayat lain menyebutkan: "Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci." (Thaha 12).

MENDEKAT DIRI KEPADA ALLAH SWT

Dalam rangka mendekat diri kepada Allah itu, perlu tanjakan atau tingkatan-tingkatan dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Seperti lazim dikerjakan oleh Kaum Sufi yang merupakan kesempurnaan Agama Islam. Sebagaimana Ilmu Tasawwuf menerangkan, bahwa Syari’at itu hanya peraturan-peraturan belaka. Tarekatlah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan Syari’at itu. Apabila Syari’at dan Tarekat itu sudah dapat dikuasai, maka lahirlah Hakikat yang tidak lain dari pada perbaikan keadaan Ahwal. Sedangkan tujuan terakhir ialah Makrifat, iaitu mengenal Tuhan yang sebenar-benarnya serta mencintainya sebaik-baiknya. Syari’at ialah pengenalan jenis perintah dan Hakikat ialah pengenalan pemberi perintah.

MENCARI ALLAH

Mencari Allah itu bukan didalam gua, bukit, masjid, surau dan bukan di Mekah atau di Negeri Cina. Tempat mencari Allah itu, ada didalam diri masing-masing. Belajarlah mengenal diri (roh), agar Allah dapat kita kenal dengan terang dan nyata, Manakala tanggungjawab dan janji Allah kepada kita sebagai hamba-hambanya adalah tidak sekali-kali menganiayai hamba-hambanya. Kita tidak perlu takut kepada Allah, kerana Allah itu maha pemurah, maha pengasih dan maha penyayang. Tidak pendendam. Tidak pembohonh, tidak pendusta dan tidak mungkur dengan janjinya dan tidak akan menganiaya hamba-hamba nya, asal saja kita, tidak menyengutu, mensyarikatkan dan syirik kepada Nya. Bagaimana Untuk Menzahirkan Allah?

RAHSIA DALAM RAHSIA AKU

Badan kita ini merupakan tempat tersembunyinya roh. Manakala disebalik roh pula, adalah tempat tersembunyi rahsianya Allah. Diri kita ini menanggung dua rahsia. Pertama, menanggung rahsia roh. Keduanya, menanggung rahsia Allah. Rahsia Allah tersembunyi di dalam roh, manakala wajah roh pula tersembunyi didalam dada-dada kita semua. Untuk mengintai kedua-dua wajah itu, tiliklah kedalam diri kita sendiri. Apabila sifat roh telah dapat kita kenal dengan rata, insyaAllah kedua-dua rahsia wajah itu akan dapat kita kenal dengan nyata dan rata (jelas dan terang).