Sunday, April 3, 2016

KEAJAIBAN SHALAWAT FATIH

Sebagian dari kita baru menyadari kebesaran Allah justru pada saat dirinya tertekan, stress dan depresi berat. Namun akhirnya, kesedihan dan kegalauannya justru membawa pada kedekatan luar biasa kepada Allah. Saat dirinya benar-benar terpuruk karena masalah hutang, Hamid mencoba mengadukan masalahnya. “Saya bingung. Usaha saya bangkrut. Saya banyak ditipu oleh orang, uang saya banyak di tangan mereka. Istri saya minta cerai. Anak-anak saya sudah dititipkan orangtua di kampung. Tiap hari saya didatangi debt collector. Utang saya besar. Sudah tidak ada yang bisa bantu saya,” ungkapnya. 

DOA & TAWASUL DARI RASULULLAH

Di zaman Rasulullah, ada seorang lelaki yang tertimpa musibah dan sakit hingga matanya mengalami kebutaan. Karena tak kuasa dengan penderitaan yang dialaminya, dia pergi menghadap Nabi s.a.w. Dia memohon agar kepada Nabi untuk mendoakan dirinya agar bisa sembuh dari penyakitnya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Pergilah ambil wudhu dan shalatlah dua rakaat, lalu bacalah bacalah doa ini:

SAAT RASULULLAH MENGAJARKAN DOA KEPADA SAHABAT

Suatu hari Rasulullah SAW memanggil sahabat bernama Buraidah dan mengajarkan doa berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِّ فِيْ رِضَاكَ ضَعْفِيْ وَخُذْ إِلَيَّ الْخَيْرَ بِنَاصِيَتِيْ وَاجْعَلِ الْإِسْلَامَ مُنْتَهَى رِضَائِيْ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِّنِيْ وَإِنِّيْ ذَلِيْلٌ فَأَعِزَّنِيْ وَإِنِّيْ فَقِيْرٌ فَارْزُقْنِيْ

Allahumma ini dha’ifun faqawwini fi ridhaka dha’fi, wa khudz ilayyal khaira binashiyati waj’alil islama muntaha ridha’i. Allahuma inni dha’ifun faqawwini wa inni dzalilun fa-a’izzani wa inni faqirun farzuqni

MENJAWAB DAKWAH SALAFI-WAHABI

Alhamdulillah…Ternyata, buku karya Mufti Agung Mesir, Prof Dr. Ali Jum’ah banyak diminati kaum terdidik. Tidak menyangka, ternyata laris manis. Saya bersyukur karena generasi Muslim kita tahu bagaimana harus belajar, dan tidak mudah terbawa hasutan kelompok lain. Buku ini memang layak menjadi rujukan bagi mereka yang haus pengetahuan agama. Sebagai hadiah atas rasa syukur saya, berikut saya kutip penjelasan dalam buku ini tentang pemahaman konsepsi Bid’ah yang salah dari kelompok yang sering menyebut diri mereka pembela Sunnah.

TIPUAN DUNIA YANG MENGGODA

Imam Al-Ghazali mengatakan: “Dunia cenderung menipu dan memperdaya manusia, yang mewujud dalam beragam rupa. Misalnya, dunia berpura-pura seakan-akan ia akan selalu tinggal bersamamu, padahal kenyataannya, secara perlahan ia bakal pergi menjauhimu dan berpisah darimu, layaknya suatu bayangan yang tampaknya tetap, tetapi kenyataannya selalu bergerak. Atau, dunia menampilkan dirinya dalam rupa penyihir yang berseri-seri, tetapi tak bermoral, ia berpura-pura mencintai dan menyayangimu, namun kemudian membelot kepada musuhmu, meninggalkanmu mati merana dilanda rasa kecewa dan putus asa. Nabi Isa a.s. melihat dunia melihat dunia dalam bentuk seorang wanita tua yang buruk rupa.

HADIS QUDSI PEMBERSIH JIWA

Allah Ta'ala berfirman: “Sabar untuk tidak berbuat maksiat yang sedikit lebih mudah bagimu daripada bersabar terhadap siksa Jahannam yang begitu besar. "Sungguh siksa Jahannam sangat membinasakan." (QS Al-Furqan:65). Dan, sabar untuk tetap taat sebentar saja kelak akan membuatmu bersenang-senang selalu dengan disertai nikmat yang kekal.

DOA MENEPIS GALAU SEBELUM TIDUR

Alkisah. Seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan mengadu bahwa ia sering terperanjat ketika sedang tidur, karena rasa resah dan gelisah yang menimpanya selama ini. Lalu, Rasulullah SAW menyarankan agar dia membaca doa berikut ini setiap kali hendak tidur:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ 

`a'ûdzu bikalimatil-lahit-tammati min ghadhabihi wasyarri 'ibadihi wamin hamazatisy-syayathini wa`an yahdhurûn

"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang Mahasempurna dari kemurkaan-Nya dan dari kejahatan semua makhluk-Nya, dan dari bisikan setan yang menggoda.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, dan Al-Hakim).

TEKNIK MENGATASI KEGALAUAN

Salik merasa galau karena tekanan ekonomi yang datang bertubi-tubi. Dia mengadu kepada Matin di Sor-Baujan (di bawah pohon Trembesi) agar mendapatkan jurus menghilangkan kegalauan.
Salik (S): Bro, kenapa akhir-akhir ini saya merasa galau?
Matin (M): Hahaha. Katanya belajar tasawuf?!
S: Memang kalau belajar tasawuf nggak boleh galau?

MUKASYAFAH MENURUT SAYYID ABDULLAH ALWI AL-HADDAD

Ahmad bin Ali bin Da’fah bertanya apa yang dirasakan oleh seseorang, terutama arif billah, dalam beribadah dan berzikir kepada Allah, yang telah mencapai makrifat dan mukasyafah (tersingkapnya rahasia Ilahi). Apakah mukasyafah itu berlangsung selamanya atau hanya pada beberapa keadaan saja? Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menjawab, “Mukasyafah pada sifat-sifat Allah Al-Jalal (Keagungan) dan Al-Jamal (keindahan) tidak akan berlangsung selamanya. Jika hal tersebut terjadi pada seseorang, maka ia tidakakan bisa membedakan sesuatu. Bahkan, ia tidak akan sadar terhadap dirinya dan sisi kemanusiaannya. Hal ini terjadi pada sebagian orang untuk beberapa waktu yang lama, lalu akan hilang sesudahnya.

OBROLAN MALAM SOR-BAUJAN

Pembicaraan tingkat tinggi antara Salik dan Matin di sor baujan (bawah pohon trembesi). Bila tak suka jangan dibaca, bila suka sebarkan pada yang lain.
Salik (S): Bro, kapan kita tak perlu berzikir? Saya capek mengikuti nasihatmu. Zikir lagi...zikir lagi, gak selesai-selesai!