Tuesday, March 15, 2016

UNTUK APA BERDOA?

Dialog Sor Baujaun (di bawah Pohon Trembesi) antara Salik dan Matin siang ini terasa agak panas.
Salik (S): Kamu gak konsisten! Katanya sufi?!
Matin (M): Apa yang tidak konsisten?
S: Bukankah kamu mengajarkan untuk tidak banyak meminta kepada Allah? Tidak perlu banyak doa, banyak mengadu, banyak mengharapkan pahala dan meminta surga?
M: Hmmmm

RAHASIA SYUKUR PARA NABI

Menurut Imam Syibli, yang dimaksud dengan syukur adalah memerhatikan (Zat) yang memberikan kenikmatan, bukan pada kenikmatan-Nya. Pendapat lain menyebutkan bahwa syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada dan mencari sesuatu yang belum ada.

DAHSYATNYA SHALAWAT NABI

Allah memerintahkan kita shalat, tapi Dia tak shalat. Allah memerintahkan untuk berzakat, tapi Dia tak zakat. Allah memerintahkan untuk berhaji, tapi Dia tak berhaji. Tapi, Allah memerintahkan kita bershalawat untuk Nabi, Dia sendiri pun bershalawat untuk Nabi. Sungguh shalawat adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasih-Nya. Disebut sebagai rahmat yang sempurna, karena tidak diciptakan shalawat, kecuali hanya pada Nabi Muhammad SAW.

HAKIKAT SYUKUR MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus. Allah menyebut diri-Nya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (Asy-Syakur) dalam arti yang meluas. Maksudnya, Dia akan membalas para hamba atas syukur mereka. Membalas syukur juga disebut sebagai syukur.

PESAN HIKMAH SYEKH ABDUL QADIR JAILANI

Syekh Abdul Qadir Jailani bercerita: “Suatu ketika seorang laki-laki membeli seorang budak, dan budak itu kebetulan adalah salah seorang yang taat beragama dan saleh. “Wahai budak,” kata laki-laki itu kepadanya, “Kamu ingin makan apa?” “Apa pun yang Tuan berikan kepada saya maka akan saya makan.” “Pakaian macam apa yang ingin kamu pakai?”

MEMAHAMI 3 OBAT BAGI PENYAKIT HATI

“Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas kesempatan beramal yang engkau lewatkan dan tidak adanya penyesalan atas pelanggaran yang engkau lakukan”. (Syeikh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam). Sahabatku, setidaknya terdapat 3 penyebab utama matinya hati. Pertama, terlalu cinta kepada dunia. Kedua, kurangnya kehati-hatian dan kurang berzikir. Ketiga, selalu menuruti hawa nafsu.

REKAM JEJAK CINTA RASUL

Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam r.a.meriwayatkan:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ.

DOA DARI IBNU MAS’UD

Imam Nawawi Al-Bantani mengatakan bahwa dalam satu riwayat disebutan bahwa Ibnu Mas’ud biasa membaca do’a berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أّسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ وَقُرَّةُ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَانِ الْخُلْدِ

Alloohumma inni as-aluka iimaanan laa yartaddu wa na’iiman laa yanfadu wa qurrota ‘ainin laa tanqoti’u wa muroofaqota nabiyyika Muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallam fii a’laa janaani khuldi.

10 PANTANGAN BAGI SUFI

Dalam kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengungkap 10 pantangan yang harus dihindari bagi sufi yang sedang melakukan mujahadah dan muhasabah, yakni:

Pertama, pantang bersumpah demi Allah, terlepas dari apakah yang dikatakan itu benar atau bohong, baik sengaja atau tidak sengaja. Ketika seseorang telah mengokohkan prinsip tersebut dalam dirinya dan membiasakan pada lisannya, niscaya Allah akan membukakan satu pintu dari cahaya-cahaya-Nya, meninggikan derajatnya dan dikuatkan tekad dan pandangannya.

KUNCI SURGA MENURUT SAYYIDINA ALI

Sayyidina Ali r.a. mengatakan, "Barangsiapa mengumpulkan enam perkara, berarti ia telah berusaha meraih surga dan menjauh neraka, yakni:

1. Mengetahui Allah, lalu metaati-Nya.
2. Mengetahui setan, lalu mendurhakainya.
3. Mengetahui kebahagiaan akhirat, lalu berusaha mecarinya.
4. Mengetahui dunia, lalu meninggalkannya (kecuali sebatas untuk bekal kembali ke akhirat).
5. Mengetahui kebenaran, lalu mengikutinya.
6. Mengetahui yang bathil, lalu menjauhinya.
(Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani).