Monday, July 4, 2016

10 KEDUDUKAN ULAMA

1. Orang alim adalah lampu Allah di bumi. Maka, barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu.

2. Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu bila buahnya jatuh kepadamu.

3. Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan solat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya).

KESUCIAN DAN KEMULIAAN ILMU

1. Tiada kemuliaan seperti ilmu.

2. Ilmu adalah pusaka yang mulia.

3. Serendah2 ilmu adalah yg berhenti di lidah dan yg paling tinggi adalah yg nampak di anggota2 badan.

4. Tetaplah mengingat ilmu di tengah org2 yg tidak menyukainya dan mengingat kemuliaan yang terdahulu di tengah org2 yg tidak memiliki kemuliaan, kerana hal itu termasuk di antara yg menjadikan keduanya dengki terhadapmu.

ADAB MURID TERHADAP TERHADAP DIRINYA SENDIRI

Adab-adab murid yang harus diperhatikan untuk dirinya sendiri dalam kehidupan tarekat banyak sekali, tetapi yang terpenting dan yang paling utama ialah bahwa ia meyakini Allah Ta’ala dan mengawasi dia dalam segala tingkah lakunya dalam segala keadaan. Oleh kerana itu hendaklah ia selalu ingat kepada-Nya baik sedang berjalan, duduk atau sedang sibuk dengan salah satu pekerjaan kerana semua tidak dapat mencegah dia daripada zikir dan ingat kepada-Nya. Bahkan sedemikian rupa sehingga nama Tuhan itu mengalir ke seluruh pojok dan liang2 hatinya. Lain daripada itu, pertama harus meninggalkan semua teman-teman yang jahat dan mencari serta bergaul dgn org2 yg baik. Nabi Musa as memperoleh wahyu dari Tuhannya: “Janganlah kamu bergaul dengan ahli hawa, mereka akan memberi bekas pada hatimu yg tidak layak”. Bergaul dgn org baik memperoleh kebajikan, bergaul dgn org jahat memperoleh kejahatan. 

ILMU DIDATANGI BUKAN MENDATANGI

Pernah satu ketika seorang Imam diminta oleh Pembesar di zamannya untuk mengajar anaknya di rumah. Pelawaan pembesar itu ditolak oleh Imam itu sambil mengatakan: “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”. Perkataan ringkas daripada seorang Imam ini mengajar kita bahawa ilmu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diperoleh, akan tetapi memerlukan kesungguhan serta kesabaran untuk memilikinya. Perhatikan perkataan seorang Tabi’in iaitu Yahya bin Abu Kathir dari ayahnya:

AKHLAK GURU ROHANI (MURSYID)

Seorang guru rohani tidak akan menjadi guru sejati kecuali jika dia memiliki dua belas jenis sifat. Dua di antaranya adalah menyembunyikan aib manusia dan seluruh makhluk, bukan hanya dari orang lain, tetapi juga dari dirinya sendiri dan bersedia memaafkan kesalahan yang paling berat sekalipun.

MENCARI GURU MURSYID

Berkata Imam al-Ghazali:  “Ilmu Tasawwuf adalah fardu ain kerana tidak sunyi seseorang itu daripada aib atau sakit batinnya melainkan para Nabi”. Setengah al-Arifin berkata: “Barangsiapa tiada baginya ilmu kaum ini, yakni ilmu tasauf nescaya ditakuti atasnya su’ul khatimah yakni mati di dalam maksiat”. Kata Syeikh Abu Hasan asy-Syazili: “Barangsiapa tiada masuk lagi mahir di dalam ilmu ini, yakni ilmu tasauf nescaya mati ia padahal ia mengekali atas beberapa dosa yang besar padahal ia tiada mengetahui akan yang demikian itu”. 

BAGAIMANA ENGKAU MEMANDANG GURUMU?

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan:

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu disisi Allah tanpa ragu”. (al Manhaj as Sawiy: 217)

MURSYID KAMIL MUKAMMIL

Mursyid kamil mukammil adalah seorang mursyid yang sudah sempurna dalam wushulnya kepada Allah dan dapat menyempurnakan muridnya untuk juga wushul kepada Allah. Mursyid kamil mukammil pastilah seorang waliyullah, tetapi sebaliknya, seorang waliyullah belum tentu seorang mursyid. Karena seoarang mursyid mampu menghunjamkan dzikir ke dalam qolbu seorang murid untuk mensucikan qolbunya dan sebagai biji iman yang siap dicangkul, dipupuk, dirawat, disirami sampai tumbuh dan berkembang yang akhirnya akan berbuah manisnya iman. Dengan biji iman yang ditanamkan ke dalam qalbu yang telah disucikan oleh mursyid kamil mukamil dan diiringi dengan ketekunan, keistiqamahan seorang murid dalam menjalankan petunjuk mursyid, insyaAllah akan terjadi perubahan dalam diri seorang murid menuju kemerdekaan yang hakiki iaitu bebas dari segala belenggu perhambaankepada dan terhadap apa pun kecuali hanya kepada Allah. 

MEMILIKI GURU YANG KAMIL MUKAMIL

Hujjatul Islam Al Ghazali berkata: “Murid” pasti memerlukan Syaikh dan guru yang dijadikan Panduan agar menunjukan padanya jalan yang lurus . Kerana sesungguhnya jalan agama itu samar. Sedangkan jalan2 syaitan banyak dan jelas. Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka syaitan pasti akan menuntunya menuju jalan2 syaitan. Siapa saja yang menyusuri jalan pedalaman gurun yg merusak pengamanan, maka ia telah membahayakan dirinya sendiri dan menghancurkanya. 

MAKRIFAT HATI TERHADAP ALLAH SWT

Apabila hati sudah dlm keadaan bersih, maka hati akan memancarkan cahayanya. Cahaya ini dinamakan Nur Qalbu. Nur Qalbu ini akan menerangi akal sehingga akal dapat berfikir jernih dan merenung tentang hal-hal keTuhanan yang menguasai alam dan juga dirinya sendiri. Perenungan yang dilakukan akal terhadap dirinya sendiri membuatnya menyadari akan perjalanan hal-hal ketuhanan yg menguasai dirinya sendiri. Kesadaran ini membuat nya merasakan dgn jelas betapa dekatnya Allah s.w.t dengannya. Tumbuhlah didalam hati Nuraninya perasaan bahwa Allah s.w.t sentiasa mengawasinya. Allah s.w.t melihat segala aktifitasnya, mendengarkan segala ucapannya dan mengetahui bisikan hatinya.