Monday, July 4, 2016

BAGAIMANA ENGKAU MEMANDANG GURUMU?

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan:

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu disisi Allah tanpa ragu”. (al Manhaj as Sawiy: 217)

Imam Nawawi hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, “Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorang pun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku”. (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah: 155)

Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya:

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ

“Durhaka kepada orang tua dosanya dapat hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustazmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya”. 

Habib Abdullah al Haddad mengatakan, “Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu nescaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah redha kembali” (Adaab Suluk al Murid: 54). Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara Nabi Khidhir. Maka Nabi Khidhir berkata, “Tidakkah kau mengenalku?" 

Murid itu menjawab, “Ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir”. Nabi Khidhir berkata, “Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?”. Murid itu menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu” (Kalam al Habib Idrus al Habsyi:78). Al Habib Abdullah al Haddad berkata, “Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, “perintahkan aku ini, berikan aku ini!”, kerana itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya” (Ghoyah al Qashd wa al Murad: 2/177). Para ulama ahli hikmah mengatakan, “Barangsiapa yang mengatakan ‘kenapa?' kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya” (Al Fataawa al Hadiitsiyyah: 56). Para ulama hakikat mengatakan, “70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan antara murid dengan gurunya”. Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita.

No comments:

Post a Comment