Wednesday, April 13, 2016

SYARIAT DAN MAKNA HAKIKAT

Syekh Ibnu ‘Atha’illah mengatakan: “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membantu menuju ketaatan, mendatangkan rasa takut pada Allah dan menjaga rambu-rambu-Nya. Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu tentang Allah. Orang yang banyak berbicara tentang tauhid, tetapi mengabaikan syariat berarti telah mencampakkan dirinya dalam samudera kekufuran. Maka, orang yang benar-benar alim adalah yang didukung oleh hakikat dan terikat oleh syariat. Karena itu, seorang ahli hakikat tidak boleh hanya berada pada tingkat hakikat atau berhenti pada tataran syariat lahiriah semata. Tapi, ia harus berada pada posisi keduanya. Berhenti pada syariat lahiriah saja adalah syirik, sedangkan hanya menetap pada hakikat tanpa terikat oleh syariat adalah sesat. Petunjuk dan hidayah terletak pada keduanya:. (Syekh Ibnu ‘Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus).

RAHSIA KEBAHAGIAAN SEORANG MUSLIM

Duduklah bersama ulama dengan akalmu

Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu

Duduklah bersama teman dengan etikamu

SABAR DENGAN PASANGAN

Kata Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sha’rawi, “Seseorang boleh diangkat darjatnya oleh Allah s.w.t dengan bersabar dengan perkara yang tak disukainya pada pasangannya”. Sebab Allah menjanjikan: “Jika kamu tak suka pada pasangan kamu tapi kamu bersabar, Allah s.w.t berjanji akan berikan kebaikan yang banyak”. Sabar dan Allah akan beri kebaikan yang banyak, atau jika kamu tak sabar, maka akan berlaku perceraian. Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sha’rawi menceritakan: Ada seorang itu jika datang ke majlis, wajahnya berseri-seri dan disanjung orang. Setelah beberapa lama, tiada lagi apa yang pernah dilihat padanya.

MENGAPA KETIKA MARAH BERTERIAK?

Suatu saat seorang guru  berjalan dengan para muridnya, lalu mereka melihat  sebuah keluarga yang tengah bertengkar, dan saling berteriak. Guru tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”. “Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak.” jawab salah satu murid dari mereka. “Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya? Bukankah pesan yang ia sampaikan, bisa ia ucapkan dengan cara halus?”. Tanya sang guru  menguji murid-muridnya. Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

ADAB WAJIB MENDAHULUI ILMU

Berkata guru kami : "Adab wajib mendahului ilmu”. Mrk yg mendahulukan ilmu daripada adab akn menjadi orang berilmu  dan menyampaikan ilmu tanpa adab, maka ilmu tersebut akn binasakan dirinya dengan menjadikan ia hina di sisi Allah dan Rasul serta dari kalangan orang-orang yang soleh:

ILMU MAKRIFAT DAN RASA MAKRIFATULLAH

Ilmu menyedarkan manusia akan adanya Allah dengan akal, sedangkan makrifat membawa manusia kehadirat-Nya. Ilmu diperoleh dengan mencari, mempelajari, menelaah sehingga memperoleh sebuah kesimpulan dan kesimpulan tersebut disebut sebagai pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan panca indera sebagai media penerimanya. 

LIMA JALAN TASAWUF

Terdapat 5 hal pokok yang harus dilalui bagi seorang si salik untuk meraih jalan sufi: 

1). MU’AHADAH: Mu’ahadah berarti mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum manusia lahir ke dunia, yakni ketika masih berada di alam ghaib atau alam arwah, Allah telah membuat “Kontrak Perjanjian Primordial” tauhid dengan para ruh. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (QSAl-Araf [7]: 172).

ZIKIR PEMBUKA PINTU LANGIT

Menurut Syekh Ibnu Atha'illah, sebagai tanda bahwa sebuah dzikir sampai pada sirr (nurani terdalam pada jiwa yang kelak menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah saat pedzikir dan objek dzikirnya lenyap tersembunyi.  Dzikir sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan dzikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah). 

KEMULIAAN PARA ULAMA

Bismillahhirrahmnirrahim

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ , الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن وَالَاهُ

Allah S.w.t berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“ Katakan (wahai Nabi s.a.w) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (Az-Zumar: 9)

APA YANG TELAH TIDAK HABIS, BARU DIBERI KEPADA ALLAH

Bila durian mula luruh suatu masa dulu, ayah menghimpun buah durian yg baik beberapa hari lalu dibuat kenduri. Bila ditanya, kenapa tak jual dulu kerana buah ini tentu mahal sebab awal musim, ayah hanya berkata, "Apa yang nak diberi kepada Allah, sepatutnya yang terbaik, yg paling kita sayang”. Mari kita fikir sikit hal ini. Bila bersedekah, kebanyakan orang akan memberi yang lebihan, mencari duit syiling untuk tabung masjid, mencari note seringgit untuk pemungut derma. Ada lebih duit, baru bagi. Hakikatnya apa yg disedekahkan, apa yg dibelanja di jalan Allah itulah yg kekal menjadi milik kita di akhirat, manakala yg dibelanja untuk diri di dunia ini tidak ada nilai pada sisi Allah, akan menjadi najis atau mereput ditinggalkan akhirnya. Jadi mengapa sedekah jariah  menunggu ada lebih baru bagi..