Thursday, March 24, 2016

BAHAYANYA SIFAT BURUK SANGKA

Seorang ULAMA SUFI terkenal yang bernama HASSAN AL-BASRI telah melalui satu detik pengalaman yang menginsafkan diri beliau tentang bahayanya sifat buruk sangka. Berikut adalah kisahnya yang perlu kita ambil iktibar dan pengajaran berkenaan dengan bahayanya sifat buruk sangka yang terjadi dalam tingkah laku diri beliau apabila berlaku secara beliau tidak sedari.  Pada suatu hari, Hassan Al-Basri ternampak seorang pemuda yang sedang berasmara dengan seorang wanita di tepi Sungai Dajlah. 

RENUNGAN TENTANG SHALAT KHUSYUK

Mendirikan shalat dengan khusyuk memang sangat sukar sekali. Meskipun sudah berniat dengan sungguh-sungguh dan tekad yang kuat, tetap saja kadang tak cukup. Sebab, rasa khusyuk itu merupakan anugerah Allah. Maka, kita harus memohon kepada-Nya agar Dia menganugerahkan nikmat tersebut. Untungnya, shalat itu merupakan kewajiban yang telah ditetapkan waktunya dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, serta harus diamalkan berulang-ulang dan berulang-ulang setiap hari, sehingga manusia secara zahir dan batin merekam getar jiwa, gerak ritmis, dan penghayatan makna bacaan, gerak dan doa dalam shalat. Jika tidak dilakukan secara istiqamah nyaris tak mempunyai dampak fisik, psikis, apalagi sosial.

CARA MENJERNIHKAN HATI

Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj al-'Arus mengatakan: "Terdapat empat perkara yang dapat membantu membeningkan hati: 

1) Banyak berzikir.
2) Banyak diam.
3) Banyak khalwat.
4) Mengurangi makan dan minum."

IKUTI RASULULLAH LAHIR DAN BATIN

Syekh Ibnu Atha'illah mengatakan: "Engkau akan diremehkan jika tidak mengikuti Rasulullah SAW. Sebaliknya, engkau akan memperoleh kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah jika mengikuti Sunnah Nabi SAW. Dan, mengikuti Nabi terwujud dalam dua perkara; lahiriah dan batiniah.” Menurut Dr. Muhammad Najdat, perkara-perkara lahiriah yang dimaksud oleh Syekh Ibnu Atha'illah meliputi pelaksanaan syariat seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Sedangkan perkara batin meliputi keyakinan akan pertemuan dengan Allah dalam shalat disertai perenungan dan pemahaman tentang makna bacaan dan gerakkan dalam shalat.

NASIHAT SULTAN PARA WALI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan: “Allah Azza wa Jalla telah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s., “Berkasih-sayan­glah agar Aku menyayangimu! Sesungguhnya Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Barangsiapa yang menyayangi, maka Aku pun menyayanginya dan akan memasukkannya ke surga-ku.” Maka, sungguh beruntung orang-orang yang berkasih sayang. Umurmu telah habis untuk urusan makan, minum, pakaian dan mengumpulkan harta. Barangsiapa yang mengharapkan keberuntungan maka hendaknya ia bersabar dari perkara yang haram dan syubhat, dari keinginan nafsu, serta sabar dalam menunaikan perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya, juga sabar dalam mematuhi takdir-Nya.

MACAM-MACAM CAHAYA BATIN YANG MENGGODA

“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam)”.  Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal (keadaan spiritual) para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq (para ahli hakikat). Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah dan keindahan-Nya. Cahaya ini tak akan terlihat, kecuali para orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.

POKOK-POKOK AJARAN SYEKH IBNU ATHA’ILLAH

Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari adalah tokoh sufi yang berjasa besar bagi dunia tasawuf hingga hari ini. Karyanya yang berjudul "Al-Hikam" adalah magnum opus-nya yang sangat populer di seluruh dunia. Tokoh dan pewaris Tarekat As-Sadziliyah ini karya-karyanya banyak dipelajari tidak hanya bagi jamaah tarekatnya, namun juga menjadi rujukan tarekat yang lain. Syekh Ibnu Atha'illah berhasil menampilkan sosok tarekat dan tasawuf yang moderat, ramah, santun, dan rahmatan lil 'alamin.

BENARKAH KITA PUNYA RASA MALU?

Rasulullah SAW bersabda, "Malulah kalian pada Allah dengan sebenar-benar rasa malu.' Lalu para sahabat menjawab, "Sesungguhnya kami telah merasa malu, wahai Nabi Allah. Kami bersyukur kepada Allah (bisa berbuat demikian)”. Beliau bersabda, "Bukan demikian! Tetapi, orang yang malu pada Allah dengan malu yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya; menjaga perut dan apa yang dihimpunnya; dan ingatlah kalian pada kematian dan bahaya. Siapa yang mendaki ke Negeri Akhirat, maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Siapa yang mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar rasa malu." (H.R. At-Tirmidzi). Dzun-Nun Al-Mishri mengatakan, "Rasa malu adalah keberadaan rasa segan di dalam hati bersamaan dengan keterlepasan segala sesuatu yang telah lewat dari dirimu menuju ke hadirat Tuhanmu!" Dia juga katakan, "Cinta adalah bicara, rasa malu adalah diam membisu, dan rasa takut adalah menggelisahkan”. (Risalah Qusyairiyah, karya Imam Al-Qusyairi).

HAKIKAT KEMATIAN MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Dalam kitab Dzikr Al-Maut, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengungkapkan, "Ketahuilah bahwa manusia memendam gagasan yang lancang dan keluru tentang hakikat kematian. Sebagian orang mengira kematian sebagai kesirnaan atau kelenyapan. Dianggap tidak.ada kebangkitan atau pengumpulan, juga tidak ada pembalasan atas kebaikan ataupun kejahatan. Kematian manusia dianggap seperti kematian hewan dan atau seperti keringnya daun atau tanaman. Ini adalah pandangan kaum ateis (al-Mulhidin) dan mereka tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

TANGIS DAN AIRMATA PENYESALAN

Jika hanya bisa menangis, maka menangislah! Ungkapkanlah penyesalanmu kepada Allah dengan kesungguhan hati! Jika benar engkau merasa takut akan siksa-Nya mengapa kau tahan derai airmatamu? Tsauban meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Berbahagialah siapa pun yang dapat menguasai lisannya, yang rumahnya terasa luas baginya, dan dapat menangis atas kesalahan yang diperbuatnya.” (HR. Tabrani). Tak perlu merasa hebat dan kuat. Tak perlu sombong dan merasa amal ibadah kita lebih banyak daripada dosa dan kesalahan kita. Bermuhasabahlah dan jujurlah pada diri sendiri.