Sunday, March 20, 2016

SYARIAT SEBAGAI DASAR TASAWUF

Imam Al Ghazali mengatakan: "Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang tasawuf) mengatakan, "Jika engkau melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan."

PENTINGNYA MUJAHADAH BAGI SALIK

Niat dan kesungguhan dalam menjalankan ketaatan terhadap perintah Ilahi memerlukan energi besar. Energi itu sangat diperlukan agar kita mampu istiqamah di jalan takwa. Tak ada cara instan untuk bernakrifat, semuanya memerlukan proses. Lalu berpasrah, meminta Allah menurunkan anugerah-Nya.

PESAN SYEKH ABDUL QADIR UNTUK ANAK MUDA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Wahai anak muda! Engkau harus berjuang dengan sepenuh kemampuanmu untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Engkau harus melakukan setiap upaya untuk memberi kepada orang-orang yang tidak mau memberi kepadamu, menyambungkan tali silaturahim dengan orang-orang yang memutuskannya denganmu, dan memaafkan mereka yang menzalimimu. Engkau harus melakukan sepenuh kemampuanmu setiap usaha agar berhasil, sedangkan matamu tetap berada bersama dengan hamba-hamba Allah yang taat, sedangkan kalbumu bersama Allah dan hamba-hamba itu.

RENUNGAN MALAM BAGI SEORANG HAMBA

“Allah menerangi alam lahir dengan cahaya makhluk-Nya, dan menerangi kedalaman batin dengan cahaya sifat-Nya. Karena itulah cahaya alam lahir terbenam, sementara cahaya hati dan kedalaman batin tak akan terbenam. Maka katakanlah, ”Sesungguhnya matahari siang terbenam ketika malam, tetapi matahari hati tak pernah terbenam.” (Syekh Ibnu ’Atha’illah dalam Al-Hikam). Sesuatu yang bersifat lahiriah bisa sirna dan tenggelam oleh waktu, namun cahaya hati dan kedalaman batin tak pernah terbenam. Pada setiap perbuatan dan wujud selalu mengandung makna dan sifat, ia hanya bisa dipahami oleh mereka yang mempunyai hati yang yang tercerahkan oleh pancaran cahaya Ilahi. Jadi, realitas-realitas lahiriah bisa berubah atau bahkan menghilang oleh ruang dan waktu, namun kesadaran batin selalu berkembang dan bersifat abadi. Tinggal bagaimana kita melakukan riyadhah agar bisa menerima pancaran cahaya Ilahi dengan mudah dan tercerahkan.

KUATKAN KEYAKINAN, RAIHLAH CAHAYA RABBANI

Al-Faqih Muhammad bin Abdurrahman Mazru’ bertanya, “Mengapa seseorang lebih cenderung kepada makhluk dan bagaimana jalan menuju selamat dari jalan itu?” Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, menjawab: “Ketahuilah bahwa hal tersebut disebabkan oleh lemahnya keyakinan. Dan, obat yang dapat menyelamatkan dari hal tersebut adalah keyakinan yang kuat. Pertama, merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara, yakni ayat-ayat Al-Qur’an dan merenungkan ayat-ayat yang diam, yakni keajaiban-keajaiban alam yang di atas atau yang di bawah. Dan, ini oleh AL-Muhaqqiqin (para peneliti) dinamai dengan al-fikr (berfikir).

MARI MENUJU PINTU REZEKI ALLAH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasihat: “Wahai anakku, janganlah kalian memutuskan diri dari kenikmatan yang sudah aku jelaskan kepadamu. Berlarilah agar rezeki itu berjalan di belakangmu. Ini adalah sesuatu yang sudah aku coba, serta telah disaksikan oleh orang-orang selainku yang menempuh jalan ini. Janganlah tergesa-gesa, sesuatu yang hilang dari kalian bukanlah milik kalian.

BUKAN SEKADAR CINTA BIASA

Menurut Imam Al-Ghazali, Allah SWT pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s.: “Wahai Dawud! Sampai kapan engkau menyebut-nyebut surga dan tak pernah meminta perasaan rindu kepada-Ku?” Nabi Dawud a.s. bertanya, “Siapakah orang-orang yang merindukan-Mu, ya Allah?” Lalu, Allah menjawab, “Orang-orang yang merindukan-Ku adalah mereka yang Aku bersihkan dari segala kotoran dan Aku peringatkan mereka agar selalu waspada dan berhati-hati. Aku lubangi hati mereka agar mereka dapat melihat-Ku. Aku genggam hati mereka dengan tangan-Ku dan Aku letakkan di lapisan-lapisan langit-Ku. Lalu, Aku panggil malaikat-malaikat-Ku. Setelah berkumpul, mereka lalu bersujud kepada-Ku.

BAHASA CINTA ALLAH UNTUK SEORANG HAMBA

Menurut Imam Al-Ghazali, telah diriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa Allah SWT memberi wahyu kepada salah seorang shidiqqin sebagai berikut: “Aku mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Ku. Aku juga mencintai mereka. Mereka merindukan-Ku. Aku pun merindukan mereka. Mereka mengingat-Ku. Aku pun mengingat mereka. Mereka memandangi-Ku. Aku punmemandangi mereka. Jika kamu mengikuti jejak mereka, maka Aku pun mencintaimu. Namun, jika kamu berpaling dari mereka, maka Aku akan membencimu.” Dia bertanya, “Wahai Tuhanku! Apakah tanda-tanda mereka?”

JANGAN TINGGALKAN ZIKIR SAAT MULAI TERGODA

“Jangan tinggalkan zikir hanya karena tidak bisa fokus/berkonstrasi kepada Allah (merasakan kesadaran hudhur) ketika berzikir. Sebab, justru kelalaianmu (terhadap Allah) ketika tidak berzikir jauh lebih buruk daripada kelalaianmu ketika berzikir. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran, dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari zikir yang disemangati kehadiran-Nya menuju zikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. ‘Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar” (QS 14: 2) (Syekh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam). 

BELAJAR ZUHUD DARI PARA ULAMA SUFI

Imam Al-kattani menegaskan, “Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama Kufah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan hati dan memberikan nasihat kepada orang lain. Yakni, tidak satu pun dari ulama yang berpendapat bahwa persoalan-persoalan ini merupakan perilaku yang tidak terpuji". Suatu ketika Yahya bin Muadz ditanya oleh seseorang, “Kapan aku dapat memasuki pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud, dan duduk bersama-sama orang yang zuhud?”