Monday, July 4, 2016

MURSYID KAMIL MUKAMMIL

Mursyid kamil mukammil adalah seorang mursyid yang sudah sempurna dalam wushulnya kepada Allah dan dapat menyempurnakan muridnya untuk juga wushul kepada Allah. Mursyid kamil mukammil pastilah seorang waliyullah, tetapi sebaliknya, seorang waliyullah belum tentu seorang mursyid. Karena seoarang mursyid mampu menghunjamkan dzikir ke dalam qolbu seorang murid untuk mensucikan qolbunya dan sebagai biji iman yang siap dicangkul, dipupuk, dirawat, disirami sampai tumbuh dan berkembang yang akhirnya akan berbuah manisnya iman. Dengan biji iman yang ditanamkan ke dalam qalbu yang telah disucikan oleh mursyid kamil mukamil dan diiringi dengan ketekunan, keistiqamahan seorang murid dalam menjalankan petunjuk mursyid, insyaAllah akan terjadi perubahan dalam diri seorang murid menuju kemerdekaan yang hakiki iaitu bebas dari segala belenggu perhambaankepada dan terhadap apa pun kecuali hanya kepada Allah. 

Mursyid akan sentiasa mendoakan, membimbing, mengingatkan, mengarahkan, menuntun perjalanan murid menuju Allah yang sungguh sangat banyak tipu dayanya. "Ingatlah bahawa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah". Sebahagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikitpun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikitpun merasa gelisah atau susah. Para wali ini pun memilikki cahaya Nur Muhammad sesuai dengan tahap atau maqam di mana mereka ditempatkan dalam wilayah Ilahi di sana. Panduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas. Dalam kitab Al-Mafaakhirul Aliyah karya Ahmad bin Muhammad bin Ayyad ditegaskan (dgn mengutip ungkapan Sulthanul Auliya Syeikh Abul Hassan Asy-Syazily rah) bahawa syarat2 seorang Syeikh atau Mursyid yang layak ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diredhai.
5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syekh Abu Madyan rah. menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhluk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah       Swt.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasIhatmu.” Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang tidak membangkitkan dirimu utk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”. Seorg Mursyid yg hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorg Mursyid yg tidak memberikan beban berat kepada para muridnya. Dari kalimat ini menunjukkan bahawa banyak para guru sufi yg tidak mengetahui kadar batin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahsia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dgn mudahnya dan gegabah nya memberikan amaliyah atau tugas2 yg sangat membebani jasad dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dlm dunia sufi. Jika secara khusus, sifat para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun memiliki lima prinsip tarekat itu sendiri:

1. Taqwa kepada Allah swt zahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan mahupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit mahupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka mahupun duka.

Manifestasi Taqwa, melalui sikap wara’ dan istiqamah. Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yg baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan redha kpd Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah sepenuhnya dan perwujudan terhadap sikap kembali kpd Allah adalah dgn pujian dan rasa syukur dlm keadaan suka dan mengembalikan kpdNya ketika mendptkan bencana. Secara keseluruhan, prinsip yg mendasari di atas adalah:

1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorg Mursyid yg benar2 memenuhi ciri di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dlm penempuhan menuju kepada Allah Swt. Rasulullah saw. adalah teladan paling sempurna. Ketika hendak menuju kpd Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. sentiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini sbg Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorg Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syeikh. Dalam sebuah kitab kesufian disebut kan bahwa Guru Mursyid yang sah menjadi pewaris Nabi Muhammad saw diantaranya adalah :

1. Seorang yang pintar (alim ), karena yang bodoh tidak akan mampu memberi Irsyad (Petunjuk)

2. Tidak mencintai dunia dan pangkat

3. Baik dalam mendidik Nafsunya (Riyadlotun-Nafsi ), seperti sedikit makan dan minum, serta berbicara dan banyak solat, sedekah serta berpuasa.  

4. Mempunyai sifat dan akhlaq terpuji, spt: sabar, syukur, tawakkal, yakin, pemurah, qanaah, pengasih, tawadhu, shiddiq, haya, wafa, wiqordan syukur (untuk lebih jelasnya lihat kitab tersebut).

Dalam kitab Tanwirul Qulub karangan Syeikh Muhammad Amin Kurdi disebutkan bahwa syarat seorang Guru Mursyid Kamil itu ada 24 syarat, yang ringkasnya adalah Sirah Guru Mursyid tersebut seperti sirah (perilaku) Rasulullah saw. Diantaranya yang 24 itu adalah:

1) Harus seorang yang alim dalam segala keilmuan yang diperlukan oleh para murid.

2) Harus seorang yang arif terhadap kesempurnaan kalbu dan adab-adabnya, serta mengetahui segala
bencana dan penyakit nafsu serta cara menyembuhkannya.

3) Seorang yang lemah lembut, pemurah kepada kaum muslimin, khususnya kepada para muridnya. Apabila melihat para muridnya belum mampu untuk melawan nafsunya dan kebiasaannya yang jelak misalnya, Beliau lapang dada terhadap mereka setelah menasihatinya dan bersikap lemah lembut kepadanya sampai mereka mendapat petunjuk.

4) Selalu menutupi segala yang timbul dari aib yang menimpa para muridnya.

5) Bersih dari harta para muridnya serta tidak tamak terhadap apa-apa yang ada ditangan para muridnya

6) Selalu melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah, sehingga segala perkataannya berbekas pada diri para muridnya.

7) Tidak banyak bergaul dengan para muridnya kecuali sekadar perlu dan selalu mengingatkan hal-hal yang baru dalam hal tarekat dan syariah sebagai upaya membersihkan jiwa dan agar beribadah kepada Allah dengan ibadah yang benar.

8) Perkataannya bersih dari berbagai kotoran hawa nafsu, senda gurau, dan dari segala yang tidak bermanfaat.

9) Lemah lembut dan seimbang dalam hak dirinya, sehingga kebesaran dan kehebatannya tidak mempengaruhi dirinya.

10) Selalu memberi petunjuk kepada para muridnya dalam hal-hal yang dapat memperbaiki keadaannya. 

Itulah diantara berbagai ciri-ciri Guru Mursyid Kami yang akan mendidik kita agar sampai kepada Allah s.w.t berdasarkan pengalaman dirinya yang memang beliau sudah wusul kepada Allah s.w.t.

No comments:

Post a Comment