Friday, March 11, 2016

MENGENAL ARTI CINTA

Sufyan bin Uyainah r.a.berkata:

مَنْ أَحَبَّ اللهَ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى وَمَنْ أَحَبَّ مَنَ أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى أَحَبَّ مَا أَحَبَّ فِيْ اللهِ تَعَالَى وَمَنْ أَحَبَّ مَا أَحَبَّ فِيْ اللهِ تَعَالَى أَحَبَّ أَنْ لَايَعْرِفُهُ النَّاسُ

1) Siapa mencintai Allah, maka pasti ia mencintai orang yang dicintai Allah.
2) Siapa mecintai orang yang dicintai Allah, maka ia akan mencintai sesuatu karena Allah.
3) Siapa yang mencintai sesuatu karena Allah, maka ia senang jika amalnya tidak diketahui oleh orang lain.”

Cinta kepada Allah ada dua macam, yaitu: Yang bersifat harus; faktor inilah yang membangkitkan seorang hamba mengerjakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan ridha menerima takdir-Nya. Yang bersifat anjuran; faktor inilah yang menggerakkan pelakunya rajin mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dan menjauhi hal-hal syubhat.

As-Shiddiq telah mengatakan bahwa bagi siapa yang merasakan manisnya cinta kepada Allah, niscaya tidak akan memburu duniawi dan merasa asing bila bergauk dengan orang lain. Rasulullah saw pernah bersabda:

صِدْقُ الْمَحَبَّةِ فِيْ ثَلَاثِ خِصَالٍ أَنْ يَخْتَارَ كَلَامَ حَبِيْبِهِ عَلَى كَلَامِ غَيْرِهِ وَيَخْتَارُ رِضَا حَبِيْبِهِ عَلَى رِضَا غَيْرِهِ

“Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu:

1) Memilih kalam kekasihnya (Al Quran) daripada kalam lain-Nya (hasil produk manusia);
2) Memilih bergaul dengan kekasih-Nya daripada bergaul dengan yang lain;
3) Memilih keridhaan kekasih-Nya daripada keridhaan yang lain.”

Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, is menjadi hambanya. Yahya bin Mu’adz sehubungan dengan pengertian ini telah mengatakan: “Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.” (Kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani).

No comments:

Post a Comment