Monday, June 13, 2016

MELIHAT TUHAN DENGAN HATI ( QALBU)

NABI MUHAMMAD SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi HATI/QALBU sebagai Raja bagi kehidupan.  Apabila kita menjadikan AKAL kita sebagai raja dan HATI menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. HATI kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal ALLAH . AKAL menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di OTAK (AKAL). Sehingga kitapun lebih mempercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup.
 Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan AKAL dan mengesampingkan HATI NURANI.  Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ILMU namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran ALLAH SWT. Berbeda halnya apabila HATI kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran ALLAH SWT dalam hidup kita.  Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah HATI sebagai raja bagi diri kita.

Orang yang tidak melatih HATInya saat hidup di dunia ( sehingga HATInya tertutup ) maka mereka akan dibangkitkan oleh ALLAH SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Tuhan berfirman dalam surat Thahaa: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thahaa 20 : 124). Dalam Hadits Nabi disebutkan: “Hati manusia itu ibarat sehelai kain putih yang apabila manusia itu berbuat dosa maka tercorenglah / ternodailah kain putih tersebut dengan satu titik noda kemudian jika sering berbuat dosa lambat-laun sehelai kain putih itu berubah menjadi kotor / hitam”.  Jika HATI NURANI sudah kotor maka terkunci NURANInya, dan akan sulit menerima petunjuk dari ALLAH .

Ada Empat (4) Tahapan Untuk Menajamkan atau Membersihkan Mata Batin :


1. Mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, benci, dan dari sifat keduniawian.

2. Membuang daya khayal yang mengganggu keyakinan hati kemudian berpikir tentang hal-hal yang ghaib yang kita ketahui.

3. Mendawamkan ( kontinue ) SHOLAT dan berZIKIR pada malam hari karena kesepian malam dapat menambah kekhusuk-an hati.

4. Meningkatkan Iman dan Kecintaan kepada ALLAH yaitu : mencintai ALLAH dari segala-galanya selalu Munajad ( mohon pertolongan ALLAH ), dan Istikharoh ( meminta petunjuk dari ALLAH SWT )

Orang Mukmin yang taat kepada ALLAH s.w.t, kuat melakukan ibadat, akan meningkatlah kekuatan rohaninya.  Dia akan kuat melakukan tajrid yaitu menyerahkan urusan kehidupannya kepada ALLAH s.w.t. Dia tidak lagi khawatir terhadap sesuatu yang menimpanya, walaupun bala yang besar. Dia tidak lagi meletakkan pergantungan kepada sesama makhluk. Hatinya telah teguh dengan perasaan rida terhadap apapun juga yang ditentukan ALLAH s.w.t untuknya. Bala' tidak lagi menggugat imannya dan nikmat tidak lagi menggelincirkannya.. sebab baginya bala dan nikmat adalah sama, yaitu takdir yang ALLAH s.w.t tentukan untuknya. Apa yang ALLAH s.w.t takdirkan itulah yang paling baik, dan ALLAH s.w.t akan karuniakan kepadanya kemampuan melihat dengan mata hati dan bertindak melalui Petunjuk LADUNI, tidak lagi melalui fikiran, kehendak diri sendiri atau angan-angan.

Pengalaman tentang hakikat dikatakan memandang dengan MATA HATI/ BASHIROH yg melihat atau menyaksikan ke-esa-an ALLAH s.w.t kemudian HATI merasakan akan keadaan ke-esa-an tsb, sehingga hanya melihat pada Wujud ALLAH s.w.t (tidak lagi melihat kepada wujud dirinya). Dalam proses mengenal Tuhan, Rohani manusia melalui beberapa tingkatan. 


Tahap pertama terbuka MATA HATI dan NUR QALBU memancar menerangi AKALnya.  Seorang Mukmin yang AKALnya diterangi NUR QALBU akan melihat betapa dekatnya ALLAH s.w.t.  Dia melihat dengan ILMUnya dan mendapat keyakinan yang dinamakan ILMUL YAQIN.. Ilmu berhenti di situ.

Tahap kedua, MATA HATI yang terbuka sudah bisa melihat. Dia tidak lagi melihat dengan mata ILMU tetapi melihat dengan MATA HATI. Keupayaan mata hati memandang itu dinamakan KASYAF.  KASYAF melahirkan pengenalan atau MAKRIFAT.  Seseorang yang berada di dalam makam MAKRIFAT dan mendapat keyakinan melalui KASYAF dikatakan memperoleh keyakinan yang dinamakan AINUL YAQIN.

Pada tahap AINUL YAQIN, MAKRIFATnya ghaib dan dia juga ghaib dari dirinya sendiri. Maksud ghaib di sini adalah hilang perhatian dan kesadaran terhadap suatu perkara. Beginilah hukum MAKRIFAT yang berlaku. MAKRIFAT lebih tinggi nilainya dari ilmu pengetahuan. ILMU Pengetahuan adalah pencapaian terhadap persoalan yang terpecah-pecah bidangnya. MAKRIFAT adalah hasil pencapaian terhadap hakikat-hakikat yang menyeluruh yaitu hakikat pada hakikat-hakikat. Tetapi, penyaksian MATA HATI jauh lebih tinggi dari ILMU dan MAKRIFAT karena penyaksian itu adalah hasil dari kemauan keras dan perjuangan yang gigih disertai dengan upaya HATI dan PENGALAMAN.

PENYAKSIAN adalah setinggi-tinggi keyakinan. PENYAKSIAN yang paling tinggi ialah PENYAKSIAN HAKIKI oleh MATA HATI. Ia merupakan keyakinan yang paling tinggi dan dinamakan HAQQUL YAQIN. Pada tahap PENYAKSIAN HAKIKI MATA HATI, mata hati tidak lagi melihat kepada ketiadaan dirinya atau kewujudan dirinya, tetapi ALLAH s.w.t dilihat dalam segala sesuatu, segala kejadian, dalam diam dan dalam tutur-kata. PENYAKSIAN HAKIKI MATA HATI melihat-NYA tanpa dinding penutup antara kita dengan-NYA. Tidak ada lagi antara atau ruang antara kita dengan DIA.

ALLAH berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadiid 57 : 4). DIA tidak terpisah dari kamu. *PENYAKSIAN HAKIKI ialah melihat ALLAH s.w.t dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu.* Pandangannya terhadap makhluk tidak menutup pandangannya terhadap ALLAH s.w.t. Inilah makam keteguhan yang dipenuhi oleh ketenangan serta kedamaian yang sejati dan tidak berubah-ubah, bernaung di bawah payung Yang Maha Agung dan Ketetapan Yang Teguh. Pada PENYAKSIAN HAKIKI tidak ada lagi ucapan, tidak ada bahasa, tidak ada ibarat, tidak ada ilmu, tidak ada makrifat, tidak ada pendengaran, tidak ada kesadaran, tidak ada hijab dan semuanya sudah tidak ada... sebab Tabir hijab telah tersingkap, maka DIA dipandang tanpa ibarat, tanpa huruf, tanpa abjad.

ALLAH s.w.t dipandang dengan mata keyakinan bukan dengan mata zahir atau mata ilmu atau kasyaf. Yakin, semata-mata yakin bahwa DIA yang dipandang sekalipun tidak ada sesuatu pengetahuan untuk diceritakan dan tidak ada sesuatu pengenalan untuk dipamerkan. Orang yang memperoleh HAQQUL YAQIN berada dalam suasana HATI yang kekal bersama-sama ALLAH s.w.t pada setiap saat, setiap ruang dan setiap keadaan.  Dia kembali pada kehidupan seperti manusia biasa dengan suasana HATI yang demikian, di mana mata hatinya senantiasa menyaksikan Yang Hakiki.  ALLAH s.w.t dilihat dalam 2 perkara yang berlawanan dengan sekali pandang. Dia melihat ALLAH s.w.t pada orang yang membunuh dan orang yang kena bunuh. Dia melihat ALLAH s.w.t yang menghidupkan dan mematikan, menaikkan dan menjatuhkan, menggerakkan dan mendiamkan. Tidak ada lagi perkaitannya dengan kewujudan atau ketidakwujudan dirinya. Wujud ALLAH Esa, ALLAH s.w.t meliputi segala sesuatu.
MENGENAL TUHAN Nabi MUHAMMAD SAW dalam salah satu hadistnya menegaskan “Awaluddin Makrifatullah” awal beragama adalah mengenal Tuhannya. Bagaimana kita berdo’a, bagaimana kita memahami perintah-perintahNYA apabila kita sama sekali tidak mengenal-NYA. Setelah manusia “Mengenal Tuhannya” Barulah dia “Bersaksi”. Untuk dapat “BERSAKSI” langkah awal yang dilakukan adalah “MELIHAT” terlebih dahulu, baru kemudian“MENGENAL” dan pada tingkat terakhir barulah manusia boleh “BERSAKSI”.

No comments:

Post a Comment