Wednesday, May 18, 2016

AL-HARITS BIN AS’AD AL-MUHASIBI, TAHAP-TAHAP MAKRIFAT

Al-Harits bin As’ad al-Muhasibi, berasal dari Bashra yang meninggal di Baghdad tahun 243H. Beliau di beri gelar al-Muhasibi karena  suka melangsungkan introspeksi. Harits bin As’ad al-Muhasibi mengarang berbagai kitab yang terkenal salah satu kitab karyanya Al-Ri’ayah li Huquq al-Insan, salah satu karya Islam yang terindah tentang kehidupan batin. Harits bin As’ad al-Muhasibi, adalah seorang sufi yang mengkompromikan ilmu syari’at dan ilmu hakikat. Menurut al-Qusyairi, dalam ilmu, kerendahan hati dan pergaulannya yang terpelihara baik tidak ada bandingannya pada masa itu. Menurut  asy-Sya’rani, “Dia (al-Muhasibi) adalah seorang alim diantara tokoh-tokoh alirannya, menguasai ilmu-ilmu lahir, ilmu pokok agama, serta ilmu-ilmu muammalah.

Harits bin As’ad al-Muhasibi, berkata: “Rasa sedih itu berbagai macam, rasa sedih karena hilangnya sesuatu yang adanya sangat disenangi, rasa sedih karena khawatir tentang yang terjadi esok lusa, rasa sedih karena merindukan yang diharap bisa tercapai ternyata tidak tercapai dan rasa sedih karena ingat betapa diri menyimpang dari  ajaran-ajaran Allah.”

Diriwayatkan dalam Tadzkirah al-Aulia’ ath-Ththar, “landasan ibadah itu kerendahan hati, sementara landasan kerendahan hati itu taqwa. Landasan taqwa itu introspeksi, sementara landasan introspeksi itu rasa takut maupun rasa harap. Rasa takut maupun rasa harap muncul dari pemahaman terhadap janji dan ancaman Allah. Pemahaman terhadap janji dan ancaman Allah itu muncul karena ingat balasan Allah, dan ingat balasan allah itu sendiri muncul dari penalaran serta perenungan. Harits bin As’ad al-Muhasibi, membedakan amal menjadi dua, “Amal-amal kolbu, dalam mengkaji hal-hal goib, lebih luhur daripada amal-amal anggota tubuh luar.

Pendapat-pendapat Harits bin As’ad al-Muhasibi sangat berpengaruh terhadap Imam Ghozali, ketika menulis Ihya’ ulumuddin banyak mengutip dari Ri’ayah li Huquq al-Insan karya al-Muhasibi. Pengaruh al muhasibi bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung , terutama melalui muridanya, siri al-saqathi (paman dari al junaid). Psikologi al muhasibi bisa di temukan dalam karya-karya Abu Tholib al Makki mempengaruhi pemikiran Abu Hamid al Ghozali (w. 111 M) yang karya-karya tasawufnya terkenal di dunia islam. Hingga saat ini. Karya utama dari al Muhasibi adalah kitab al-Ar’ayat Lihukukillah yang berisi tentang analisis yang bagus dan mendalam tetang berbagai bentuk idealisme yang mendalam tentang berbagai bentuk egoisme manusia, cara untuk mengujinya, peringatan untuk bersikap waspada terhadap egoisme itu, dan peringatan agar kita tidak terikat dan di sibukan olehnya, demikian komentar micheal A.sells.

Bentuk-bentuk utama egoisme yang di bahas oleh al muhasibi dalam karyanya itu meliputi:
1. Kesombongan dan keinginan untuk menampilkan kebaikan diri (riya’)
2. Cinta kepada diri sendiri (narsisme)
3. Membangtgakan diri (kibr)
4. Angkuh (ujub) dan
5. Berhayal bahwa diri sendiri merupakan orang yang tepat (ghrah)

Setiap bentuk egoisme itu saling berhubungan satu sama lain, misalnya sikap selalu ingin bersaing, bermusuhan, serakah, dan membanggakan diri sendiri,dan obat penangkal egoisme dan turunnannya adalah sikap iklas yang di dasarkan atas perenungan terhadap tuhan tan maha esa, nilai-nilai al quran, serta akal manusia yang selalu bekerja dalam kerangka wahyu Tuhan.

Pemikiran Al Muhasibi Terhadap Tasawuf: Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi  menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat islam. Al-muhasibi menemukan kelompok didalamnya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Diantara mereka terdapat pula orang-orang terkesan sedang melakukan ibadah karena Allah,tetapi sesunguhnya tidak demikian.

Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Al muhasibi juga dikenal sebagai ulama yang cukup lama berkecimpung dalam ilmu hadist dan fikih maka tasawufnya yang dikembangkan adalah tasawuf yang berlandasan al quran dan hadist dan tidak melanggar batas-batas syariat . dan juga ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu kalam, maka tasawufnya sangat menghargai akal. Ia sangat menyakini peranan hadist ”Allah tidak akan menerima sholat, puasa, haji, umroh, sedekah, jihad, dan berbagai kebaikan yang di ucapkan dari seseorang yang tidak memahami hadits.

Ajaran-Ajaran Tasawuf Al-Muhasibi: muhasibiSebagaimana diterangkan diatas, al Musahibi melanjutkan dan memperluas pandangan tasawuf makruf al-karhi. Kalau makruf al-karkhi menyatakan bahwa puncak cinta itu apabila yang mencintai kenal (makrifah) kepada yang di cintai. Inilah puncak cinta yang mencapai ke titik ketenangan. Al muhasibi menjelaskan lagi cinta cinta hamba kepada Allah adalah semata karunia Allah, yang ditempatkan didalam hati yang di cintainya .kalau cinta telah bersemayam dan tumbuh serta berkembang dalam jiwa, belum sampai kepada yang dituju sebelum ia merasakan bersatu (ittihad) denga yang di cintai . inilah ajaran tasawuf al muhasibi yang nantinya di kembangkan lagi oleh para shufi dibelakangnya. Berikut ini beberapa ajaran-ajarannya;

Pandangan Al-Muhasibi tentang ma’rifat: Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun, dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasan-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami pengertian batin agama. Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hasits Nabi yang berbunyi, “Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Berdasarkan hadits diatas dan hadis-hadis senada, Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah.

Tahapan-Tahapan Ma’rifat: Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:

a. Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud kongkrit ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan semata. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.

b. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.

c. ada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.

d. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dan fana’ yang menyebabkan baqa’

Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Roja’: Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya.yakni, ketika disifati dengan khauf dan roja’, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal waro’, menurutnya, adalah ketakwaan pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat al-nafs); pangkal introspeksi diri adalah khauf dan roja’, pangkal khauf dan roja’ adalah pengetahuan tentang janji dan ancaman Allah; pangakal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.

Khauf dan roja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu  dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah.Untuk itu, ia menganggap apa yang diungkapkan ibnu Sina dan Rabi’ah al-‘adawiyyah sebagai jenis fana atau kecintaan kepada Allah yang berlebih lebihan dan keluar dari garis yang telah di jelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dari kalangan ahlusunnah, Al-muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Ajakan ajakan Al-quran pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (suggesti) dan tarhib (ancaman). Al-quran jelas pula berbicara tentang surga dan neraka. 15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, 16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. 17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. 18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Raja’, dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi

Wejangan-Wejangan Al-Muhasibi: Apabila motivasi dalam mengajari dan membantu orang adalah ridha Allah semata, pahala pasti didapat. Tetapi jika motivasinya adalah hasrat untuk dihormati, dikagumi, dipuji dan diberi keuntungan duniawi, jangan lakukan kebaikan itu hingga motivasi anda berubah, sebab apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. (Q.s. Al Qoshosh : 60). Kalau hati kacau karena kedua motivacsi silih berganti mengisi relung hati, jangan memaksakan diri hingga motivasi anda benar-benar mengharapkan ridha Allah Swt. Kalau anda melakukan ibadah ritual atau ibadah sosial dengan ikhlas, lalu ada orang yang melihat hingga timbul semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah, ada dua kemungkinan:

1.Kalau motivasi peningkatan kualitas adalah ria.
2. Kalau motivasinya ikhlas, anda pengikhlas sejati.

Apabila anda ragu dan tidak tahu sedang ria atau masih ikhlas, perbaharuilah niat anda dengan keikhlasan! Meskipun tidak memperbaharui niat, ibadah tetap sah, karena anda yakin akan ikhlas dan ragu akan ria. Ikhlas dan ria pada hakikatnya adalah hasrat yang membonceng keinginan beribadah. Keinginan beribadah adalah hasrat melaksanakan perintah. Ikhlas adalah mendambakan pahala Allah Swt semata dan tidak peduli dengan keadaan duniawi. Ria adalah ambisi mendapatkan pujian, kehormatan dan tujuan-tujuan lain dalam beribadah. Ada orang yang tidak tenang karena dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya. Jalan keluarnya adalah mencermati jiwa. Kalau jiwanya tidak suka dan hatinya gelisah ketika dicela, dihina dan dilecehkan masyarakat, jelas ia telah ria. Sebaliknya, jika sikap masyarakat tidak mempengaruhi kalbunya, ia ikhlas. Mungkin pada awalnya ia ria dan senang dipuji, tetapi kemudian terlintas kesadaran untuk mengabaikan pujian, masih bisa dikategorikan ikhlas.

 Karya-karya Al Muhasbi: Al muhasibi menulis karya tulis sebanyak 200 buah, yang berbentuk risalah. Dalam risalah itulah ia mengemukakan pandangannya, baik dalam bidang fikih, dan ilmu kalam dan banyak risalah tentang tasawuf, namun dari sekian banyak karya tulisnya . hanya sedikit yang ditemukan di antaranya:

1. Ar-riayat lihukukillah(memelihara hak-hak Allah )
2. Al washiyah an-nasaih (wasiat atau petunjuk)
3. Risalah al-mutarsidin (orang-orang yang memperoleh peunjuk)
4. Al masa’ilfi amal al qulub wa al-jawarih wa al-aql(tentang aktifitas hati,anggota tubuh, dan akal)
5. Al fahmi al quran (memahami al quran)

No comments:

Post a Comment