Tuesday, April 26, 2016

KISAH WALI ALLAH DI LOMBOK

Lalu Gede Mambalan (Seperti Diceritakan oleh TGH. Muhammad Najmuddin Makmun). Di Desa Mambalan Lombok Barat, ada sebuah makam wali Allah yang terkenal ramai di ziarahi orang banyak, pemilik makam bernama “Lalu Gede” dalam bahasa sasaknya. Beliau berdakwah, mengajar mengaji di desa Mambalan dan sekitarnya. Sewaktu Lombok masih dijajah oleh pemerintahan Gusti Anak Agung Bali.

Lalu Gede memang merupakan wali Allah yang berpangkat tinggi, yang memiliki kekeramatan tinggi. Beliau secara lahiriah bergaul seperti adanya manusia biasa. Beliau membuat layangan dan layangan kapal. Semuanya ada maknanya. Bagi orang yang makrifat/waskita itu dimaknai bahwa kelak akan banyak pesawat terbang. Lalu Gede juga memelihara ayam jago dalam kurungannya, ayam yang siap diadu, semuanya berderet rapi di halaman rumahnya. Hal tersebut bertujuan untuk mengelabuhi petugas kerajaan Bali agar mereka mengira tempat itu adalah tempat perkumpulan orang yang gemar sabung ayam. 

Jadi mereka tidak mengira bahwa tempat tersebut tempat orang mengaji agama yang mengorganisir orang yang ingin memberontak terhadap kerajaan Bali. Akhirnya Lalu Gede tetap aman mengajar ngaji dan berkumpul membahas wacana keagamaan. Begitulah cara Lalu Gede menyembunyikan diri, menyamarkan diri karena tidak berani membuka rahasia Allah, kecuali rahasia-rahasia yang ada izin Allah untuk dibuka atau diceritakan.

Sekarang kami ceritakan sebuah kisah Lalu Gede yang boleh diceritakan yang ada izin diceritakan dari Allah. Pada suatu hari Lalu De (sapaan untuk Lalu Gede), lewat disebuah sungai bertemulah ia dengan seorang perempuan yang sedang mencuci, Lalu De berkata kepada perempuan itu, “Ayo bu, ikuti aku berjalan”. “Anakku di rumah masih kecil kalau aku ikut nanti mereka menangis”, Jawab perempuan itu. Lalu De berkata,”tidak apa apa, dia menangis, ayo ikut saja denganku”. Akhirnya perempuan tersebut ikut berjalan dibelakang Lalu De. Kata Lalu De: “ikuti aku berjalan, kemana langkah kakiku itu harus kamu ikuti dan kamu injak bekasnya”. 

Maka perempuan tersebut melangkah dibelakangnya tidak berani menengok ke yang lain karena khawatir salah menginjak. Beberapa saat kemudian Lalu De berhenti melangkah, perempuan itu tiba-tiba melihat sebuah rumah besar lagi indah yang memiliki pengawal atau penjaga. Perempuan itu terdiam di luar terkagum-kagum karena baru pertama kali melihat rumah seperti istana raja. Lalu De kemudian berkata: “Inilah yang namanya Baghdad, tunggu saya di luar, aku akan masuk ke dalam”. Beberapa lama kemudian Lalu De keluar dari istana kemudian mengajaknya pulang seperti cara kedatangannya tadi. Tiba-tiba sudah sampai di rumah. Sebelum berpisah maka Lalu De berpesan: “Jangan kamu bercerita ya, karena kalau kamu bercerita maka bisa memendekkan umur dan cepat mati”. “Ya” kata perempuan itu. 

Ketika dilihat datang oleh orang banyak maka perempuan tersebut langsung ditanya: “Hai, sudah kemanakah kamu meninggalkan anakmu, apakah dia tidak akan menangis nanti sebab lama sekali kamu tinggal?” Maka perempuan tersebut mengoceh bercerita: “Saya sudah diajak jalan oleh Lalu De ke sebuah desa yang sangat indah. Kata lalu De daerah itu bernama Budad, Oh, orang banyak menyahut: “Bughdad”, Ya, maksudku Bughdad kata perempuan itu. Karena bercerita tentang rahasia Tuhan maka tidak berapa lama perempuan tersebut dicabut umurnya oleh Allahu Ta’ala. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Demikianlah sebuah cerita yang saya (TGH.Muhammad Najmuddin Makmun) terima dari seorang yang saleh, sahabat dekat Lalu De.

Pada kesempatan lain Lalu De berkata kepada salah seseorang yang akan berangkat haji ke Mekkah: “Besok tunggu aku di Mekkah di dalam Masjidil Haram pada hari ini dan tanggal ini (sambil menyebutkan hari dan tanggal) aku akan kesana nanti”. Benar juga begitu tiba pada hari dan tanggal dia disuruh menunggu itu, datanglah satu rombongan jamaah haji masuk kedalam Masjidil Haram, dikawal oleh petugas-petugas. Kata orang banyak: “Raja Baghdad telah tiba, Raja Baghdad datang berhaji”. Begitu orang Lombok itu mendekat maka dia diajak berbicara: “Aku ini Lalu Gede, kalau di Baghdad namaku Sayyid Abu Rijal”.

Begitulah perjalanan kehidupan para Wali Allah. Di satu tempat namanya berbeda dengan di tempat lain. Disini namanya lain, padahal raga hanya satu adanya. Namun bisa dilihat orang menjadi banyak. Kesemuanya tergantung tingkat karamah masing-masing Wali tersebut. Seperti yang di tegaskan oleh Syekh Ibrahim al-Laqqaniy: “Nyatakanlah dengan pasti akan adanya kekeramatan bagi para Wali Allah itu. Dan Barangsiapa yang menyatakan bahwa karamah para Wali itu tidak ada maka buanglah pernyataan itu”. Begitulah kata Syeikh Ibrahim al-Laqqaniy dalam Matn al-Jauharah.

No comments:

Post a Comment