Thursday, May 12, 2016

ABU SULAIMAN DARANI, KETIKA SEORANG SUFI MENANGIS

Abu Sulaiman al-Darani, berasal dari Daran, Damaskus, Syria.  Yang wafat pada tahun 215 H. Abu Sulaiman al-Darani ber kata , “Tidak seorang pun bersikap asketis ( zuhud) terhadap pesona dunia ini kecuali yang ada pada kalbunya, oleh Allah, diletakkan cahaya yang membuatnya selalu terpesona oleh hal akhirat.” Dalam hal ini Abu Sulaiman al-Darani, menjadi landasan pengetahuan mistis serta pencapaian kolbu.

Al-Thusi dalam kitab al-Luma’ mengomentari Abu Sulaiman al-Darani : “Andaikan aku tahu bahwa di Mecca ada seorang tokoh yang bisa mengajariku ilmu tersebut (makrifat) sekalipun hanya sekalimat, niscaya ku datangi dia dengan berjalan kaki walau jauhnya seribu farsakh, sehingga aku bisa menyimaknya.”

Abu Sulaiman aal-Darani mengatakan : “Sufi itu suatu ilmu dari ilmu-ilmu tentang zuhud. Maka tidak pantas mengenakan kain suf dengan uang tiga dirham di tanganya kok dalam hatinya menginginkan lima dirham”.

 Pada tempat lain Abu Sulaiman al-Darani mengatakan : “zuhud adalah meninggalkan segala yang melalaikan hati dari Alloh”.

Ahmad bin Abu al-Hawari berkata, “Ketika aku menemui Abu Sulaiman ad-Darani, ia sedang menangis.”

Kemudian aku bertanya, “Saudaraku, apa yang membuatmu menangis?”

Dia menjawab, “Wahai Ahmad, Ahlul mahabbah (orang-orang yang saling mencintai), jika hari menjelang malam, ia mulai membentangkan telapak kaki mereka (berdiri mengerjakan Solat), air mata mereka membasahi pipi pada saat ruku’ dan sujud. Ketika itu Allah menyaksikan mereka dan memanggil, ‘Wahai Jibril, berdasarkan penglihatanku, siapakah yang sedang membaca firman-firmanKu dengan penuh kenikmatan itu dan kemudian istirahat untuk bermunajat kepadaKu?

Sesungguhnya Aku mengawasi mereka, mendengar perkataan, keluhan, kerinduan dan tangis mereka! Panggillah dan tanyakan kepada mereka, ‘Mengapa mereka berputus asa sebagaimana yang Aku lihat, apakah telah datang seseorang kepada kalian yang menyampaikan berita bahwa seorang kekasih akan menyiksa kekasihnya dalam bara api?

Jika perbuatan kejam seperti itu, tidak pantas dilakukan oleh seorang manusia yang hina terhadap kekasihnya, maka apakah layak sekiranya dilakukan oleh Allah Yang Maha memiliki segala sesuatu dan Mahamulia?! Maka demi kemuliaanKu, Aku bersumpah, sungguh Aku akan memberi hadiah kepada mereka, ketika menemuiKu pada hari Kiamat kelak yakni akan Aku singkapkan WajahKu yang mulia di hadapan mereka, Aku melihat mereka, demikian pula mereka dapat memandangKu langsung.’

Wahai Ahmad, jika kejadiannya seperti itu, apakah engkau masih akan mencelaku ketika aku menangisi keterlambatanku dari rombongan Ahlul mahabbah tersebut?”

Menurut Abu Sulaiman al-Darani, Hakikat berkaitan erat dengan syari’at. Seperti per kata annya, “Selama beberapa waktu aku tertimpa persoalan ini (para sufi) sementara ini aku tidak bisa menerimanya ( maksudanya menerima dari kalbunya) kecuali disertai dua saksi yang adil; al-Qur’an dan as-Sunnah.”

No comments:

Post a Comment