Wednesday, March 4, 2015

ALLAH MAHA KUASA

Setelah sekian lama mengakhiri waktu di bangku kuliah, baru kemarin Na dipertemukan dengan lembar kerja siswa (LKS) murid 1 SD. Maksudnya, sudah lama sekali Na tidak menyentuh 'barang-barang sekolahan'. Terlebih lagi melihat LKS yang dibuat dari kertas daur ulang itu.. wah.. membuat memori semasa kecilku terulang kembali..

Namun bukan masalah childhood memories yg ingin Na sampaikan, tapi ini masalah keyakinan yang dibentuk saat kita kecil hingga kini. Ada yang pernah mengetahui atau mendengar kata "Nafi Isbat”? Singkatnya, Nafi Isbat adalah tentang pelajaran menafikkan hal yang nyata dan meyakini yang ghaib. Misalnya begini, Obat tidak dapat menyembuhkan. Allah yang menyembuhkan. Obat untuk menyembuhkan berhajat kepada Allah. Allah menyembuhkan tidak berhajat kepada obat. Jika Allah berkehendak Allah bisa menyembuhkan dengan obat, jika Allah berkehendak Allah bisa menyembuhkan tanpa obat. Jika Allah berkehendak ada obat tapi tidak sembuh-sembuh. Laa ilaaha illa Allah.

Dari rangkaian kalimat tadi, bisa kita tarik kesimpulan. Makhluk tidak bisa, Allahlah yang melakukannya. Makhluk untuk bisa berhajat pada Allah, Allah melakukannya tidak berhajat pada makhluk. Jika Allah berkehendak bisa dengan makhluk, jika Allah berkehendak bisa tanpa makhluk. Laa ilaaha illa Allah.

Keyakinan pada yang ghaib dan menafikkan yang nyata merupakan hal yang sangat minim ditemui di zaman yang serba canggih ini. Ternyata hal ini salah satu sebabnya juga karena sedari kecil, kita sudah diperkenalkan untuk lebih mempercayai hal yang nyata ketimbang hal yang ghaib. Mengapa bisa begitu? Ya itu, salah satu (lagi) contoh kasusnya adalah ketika kutemui pertanyaan 'aneh' dalam LKS sepupu mungilku itu di dalam LKS itu banyak pertanyaan2 yang membuatku harus berpikir keras..

“Yang menggerakkan mobil mainan adalah.... A)tangan B)roda C)baterai”

Spontan dalam hati bertanya

“kok nggak ada opsi 'Allah' atau 'Tuhan' ya?”

Tentunya adik sepupu Na yang masih kecil ini dengan lugunya menjawab bahawa yang menggerakkan mobil mainan adalah baterai. Memang ada penjelasan sebelumnya di LKS tersebut bahawa yang menggerakkan mobil mainan adalah baterai, sehingga sekarang adik sepupuku meyakini bahawa yang bisa menggerakkan mobil mainan itu adalah baterai dan bukan Allah.

Teringat juga dengan kejadian ketika salah seorang anak di madrasah bertanya pada Na dia bertanya apakah dengan berpose badan telengkup dan kedua kaki di ke-atas-kan bisa membuat salah satu dari keluarganya meninggal. Sebelum Na menjawab, temannya sudah ada yang berkomentar..

Fulan B: "Yah, ga mungkin lah! gimana sih!"

Fulan A: "ya abis kata temen begitu"

Fulan B: "ya memang kamu percayanya sama siapa? sama temen kamu apa sama Allah? yang nyabut nyawa kan Allah"

Na yang mendengar pun hanya tersenyum2 sambil membenarkan kata si fulan B. Memang pose seperti itu dulu pernah membuat 'heboh' dunia anak2. Katanya, dengan berpose seperti itu maka akan membawa kesialan pada salah satu keluarga kita, ternyata, itu sekedar kepercayaan adat aja.

Na pernah bertanya pada sahabat Na sambil bercerita bahawa anak-anak madrasah terkadang sering menyatakan keyakinan mereka bahawa memang ada malaikat pencatat amal baik dan buruk pada pundak mereka. Na bertanya, apakah kita saat kecil masih terlalu lugu dan polos hingga mempercayai hal-hal ghaib yang dikisahkan oleh kedua orangtua kita dengan begitu saja? tidak seperti orang-orang dewasa, yang baru bisa menerimanya jika sesuai dengan akal logika mereka?

Ternyata bukan itu jawabnya, melainkan karena suasana agama.

Sahabat menjelaskan bahawa jika kedua orangtua kita dulu paham agama dengan baik maka dengan mudahnya suasana2 agama terbentuk ketika kita masih kecil. Orangtua kita sudah memasukkan akan keyakinan2 terhadap hal yang ghaib kedalam pikiran kita ketimbang keyakinan terhadap hal yang nyata.

Ketika kita berbuat salah, maka kita ditakutkan bukan kepada murkanya makhluk melainkan kepada murka Allah. Ketika kita sakit, maka kita diingatkan bahawa yang bisa menyembuhkan hanya Allah dan bukan obat. Ketika kita mau meminta sesuatu, maka kita diharuskan untuk meminta sama Allah bukan sama Ayah atau Ibu kita.

Lain dengan kita yang sekarang tumbuh dengan keyakinan penuh pada benda nyata daripada hal yang ghaib. Contohnya lagi ketika waktu Na sakit, sebahagian besar memang lebih menyarankan Na untuk mengkonsumsi obat-obatan kimia walau memang sebahagian yang lain juga menyarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan sunnah seperti madu, habbats, menjalankan amalan2 dan sebagainya. Jika ada orang yang sakit dan berusaha ingin sembuh dengan menggunakan cara2 yang sunnah maka orang2 disekitarnya seperti mengeluarkan pernyataan, jika tetap menggunakan secara sunnah maka tidak akan sembuh atau seperti ragu akan sunnahnya Rasulullah Saw

Padahal sudah jelas, di dalam sunnahnya Nabi SAW ada kejayaan, namun otak ini sudah dipenuhi dengan keyakinan akan benda-benda yang nyata. Kalau belum menggunakan benda2 ini rasanya kurang sip, kurang PD, nggak yakin dan kalau kita ketahuan lebih percaya dengan hal ghaib dibilang cupu, tradisionil bange t,memalukan, bahkan ada yang sampai mengatakan, “Itu kan dulu, jaman Nabi belum kenal nasi!"Astaghfirullah. Benar-benar menyedihkan ya sebenarnya kita.

Kita sudah mengganggap alat2 teknologi super canggih yang ada di zaman ini membawa kita pada era ke-emasan, kepandaian, kesuksesan tapi siapa yang mau sadar, bahawa di zaman yang serba modern ini, masih ada aja yang namanya perang? di zaman yang serba mewah ini masih ada aja yang mati kelaparan? di zaman yang serba pandai ini masih ada orang yang buta huruf?
dan di zaman yang sudah mau mendekati Kiamat ini masih ada aja orang yang tidak shola t?Astaghfirullah.

Na sendiri baru mendapat tarbiyah dari Allah SWT akan Nafi Isbat ini dan sekarang pun masih tertatih-tatih untuk mengamalkannya. Kembali mengumpulkan keyakinan-keyakinan pada yg ghaib yang sudah tercecer dan hilang dimakan waktu. Kembali mentarbiyah diri sendiri bahawa Allah Kuasa makhluk tak kuasa. Laa ilaaha illa Allahu. Yuk ah teman, kita selamatkan diri kita sendiri dari fitnah yang makin merajalela di dunia ini. Semua teknologi canggih itu hanyalah sekedar alat yang bisa berkarat dan akhirnya rusak. Tidak seperti Rabb kita yang Maha Kekal. Sudah ada ketika menciptakan suatu keadaan dan tetap ada ketika mengakhirkan suatu keadaan. Kita tanamkan dalam diri kita, untuk menafikkan yang nyata dan meyakini yang ghaib, Insya Allah.

Jadi, percayakah engkau bahawa dengan sepotong kayu lautan bisa terbelah?

No comments:

Post a Comment