Monday, January 4, 2016

SIAPA NASHRUDIN HOJA

Nashrudin Hoja merupakan tokoh kocak pada kisah sufistik yang dikenal di seluruh dunia, terutama di negara-negara berpenduduk Muslim. Setiap kisah selalu menampilakannya dalam kondisi yang berbeza-beza melalui ide dan cara pandang humoris dan mengekspos komentar berani namun kocak dan penuh dengan hidup. Yang paling menarik dari cerita-cerita tokoh ini adalah meski lucu namun sarat dengan makna filosofis, sufistik; menggelitik nalar dan hati nurani.

Menurut berbagai sumber, sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol ini merupakan seorang filosof yang bijak dan penuh dengan cita rasa humor. Kisah-kisah Nasrudin telah dikenal hampir di seluruh belahan dunia. Tentu saja, seluruh kisah tentang Hoja dengan rentang waktu lebih dari 7 abad, tidak semua asli darinya.

Kebanyakan merupakan produk budaya humor secara kolektif bukan hanya dari Budaya Turki tapi juga dari masyarakat Islam lainnya. Meski begitu dikenal, Hoja merupakan tokoh yang masih diperdebatkan keberdaanya antara fiktif dan sejarah. Banyak teori tentang biografinya, namun sayangnya belum cukup memberikan data yang sahih.

Sejak Abad ke-16, tokoh ini semakin populer kerana ia menawarkan alternatif kepada masyarakat yang mulai bosan terhadap segala hal sifatnya formal dan kaku. Kisah tentang Nashrudin Hoja pada awalnya ditemukan dalam beberapa manuskrip pada awal abad ke-15. Cerita pertama ditemukan dalam Ebu'l-Khayr-i Rumis Saltuk-name (1480). Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Nashrudin merupakan murid sufi dari Sayyid Mahmud Hayrani di Aksehir, barat laut Turki modern.

Pada abad ke-19, Mufti Sivrihisar, Husein Efendi, menulis dalam Mecmua-i Maarif bahwa Nashrudin lahir pada 1208 di desa Hortu (sekarang disebut Nasreddin Hoca Koyu) bahagian dari Sivrihisar dan meninggal 1284 di Aksehir, setelah hijrah ke sana. Menurut sumber ini, Hoja belajar di Sivrihisar dan madrasah Konya. Hoja belajar fiqh serta belajar tasawuf langsung pada Maulana Jalaluddin ar-Rumi (1207-1273) di Konya. Kemudian Hoja mengikuti Sayyid Mahmud Hayrani, sebagi guru sufi keduanya, hijrah ke Aksehir dan menikah di sana.

Konon, Sewaktu masih muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apapun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.” Ramalan pun menjadi kenyataan.

Di Aksehir, Hoja menjadi Imam dan Hakim. Kerana rasa humor yang tinggi dan ulasan-ulasanya yang cemerlang, ia menjadi sangat tersohor dan terkemuka di kota itu. Kisah-kisah Nasrudin Hoja dikenal di seluruh Timur Tengah yang tentu kemudian diwarnai dengan budaya di mana cerita itu berkembang. Yang jelas, kebanyakan kisah Nasrudin diceritakan sebagai kisah lucu dan anekdot. Kisah-kisah ini tidak henti-hentinya diceritakan baik di kafe, di tempat orang-orang berkumpul untuk ngobrol, serta di rumah sebagi bahan cerita untuk anak. Meski begitu akrabnya kisah Hoja dengan masyarakat, satu karakter yang tetap melekat pada kisah Hoja ini adalah inti yang terkandung dari kisah lucu tersebut hanya orang-orang pada level inteletual tertentu yang mampu memahaminya. Kisah-kisah lucu namun kaya akan pesan moral, biasanya bahkan penuh dengan pesan-pesan spiritual yang mencerahkan dan tak jarang juga memuat perilaku dan jalan menuju maqam makrifatullah. Kerana itulah, tak jarang kisah-kisah Hoja ini menjadi materi pengajian sufi.

Kisah-kisah Hoja juga sarat dengan sindiran dan kritik yang cukup berani terhadap tirani dan kekuasan serta ketimpangan sosial dan egoisme elit. Kerana itulah, Nasrudin merupakan simbol keberanian, penentangan, sarkastis, ironis, dan komedi kritis di Timur Tengah. Di Indonesia, kemasyhuran Nasrudin Hoja hampir tidak kalah dengan Abu Nawas. Di tengah dahaga kaum Muslim Indonesia akan nilai-nilai spiritual, beberapa buku yang memuat kisah-kisah Nasrudin Hoja pun laris manis di pasaran.

Nashrudin Hoja adalah legenda dari masa kejayaan Islam pada periode abad ke-13. Legendanya tersebar dari mulai Turki, Persia, sampai ke pecahan negara-negara Soviet yang warganya banyak menganut Islam, seperti Tajikistan atau Kazakhstan. Ada banyak versi tentang asal kelahiran Nashrudin. Tapi semua versi rata-rata memang mengiyakan kalau ia hidup di abad ke-13. Sumber tertua tentang kehidupan Nashrudin ini termuat dalam buku terbitan tahun 1480 yang berjudul Saltukname.

Dalam buku itu disebutkan kalau Nashrudin di Sivrihisar, salah satu kawasan di Turki, pada 1208. Dari situ ia berkelana ke banyak tempat sampai akhirnya ia wafat pada 1284. Ada yang menyebutkan ia wafat di Konya, kota penting dalam tradisi sufisme dan mistisme Islam, kerana di sanalah Jalaluddin Rumi membangun dan mendirikan tarekat Maulawiyah, yang terkenal dengan tarian sama’nya yang berputar-putar (dengan kedua tangan merentang ke samping, satu telapak tangan menghadap ke atas, satu telapak tengan menghadap ke bawah).

Hoja yang ada di belakang nama Nashrudin sendiri kurang lebih berarti teacher atau scholar. Sedemikian populernya karakter Nashrudin, sampai-sampai di Turki pada setiap bulan Juli digelar “International Nashrudin Hoja Festival”. Pada 1996-1997, UNESCO pernah mendeklarasikan tahun itu sebagai “International Nasruddin Year”. Kisah-kisah Nashrudin yang kita baca dan kita dengar kemungkinan diambil dari kompilasi kisah-kisah yang dikumpulkan penulis Afghanistan, Idris Shah, yang sempat menerbitkan tiga volume buku tentang kisah-kisahnya. Paulo Coelho, dari wawancaranya di New York Book Review beberapa tahun lalu, menyebut Nashrudin sebagai “Si Bijak dari Timur”.

Bagi kalangan Islam, terutama mereka yang aktif sebagai penghayat sufisme dalam pelbagai thareqah, kisah-kisah Nashrudin sering digunakan sebagai alegori dalam pengajaran-pengajaran sufisme. Salah satu ciri dari pengajaran sufisme memang terletak pada –selain menekankan pada laku alias praktik– penyampaian-penyampaian nilai-nilai agama melalui kisah, anekdot, alegori, fabel dan yang sejenisnya, ketimbang menggunakan teori-teori al-Falasifa yang dikembangkan para failasuf. (Tulisan: Sya'roni As Samfuriy).

No comments:

Post a Comment