Saturday, May 14, 2016

JUNAID AL-BAGHDADI DIUJI DENGAN WANITA CANTIK

Junaid al Baghdadi yang paling mendalam  pemahamannya. Nama lengkap beliau adalah Abu al-Qasim al Junaid al Baghdadi. Junaid al Baghdadi digelari Syeikh al-Thaifah (guru kelompok sufi). Keluarga al Junaid berasal dari Nehwand beliau lahir dan dewasa di Irak beliau berguru pada pamannya, al-Sirri al-Saqathi serta pada al-Harits ibn ‘Asad al-Muhasabi (meninggal tahun 297H).

Junaid al Baghdadi,Saqati,Abu Ubaidah,karomah Umar bin Khattab,Karomah Abu BakarPendapat al Junaid yang diriwayatkan oleh al-Qusyairi:  ” Suatu ketika al Junaid ditanya tentang tauhid. Maka jawab al Junaid : Pribadi-pribadi yang bersatu yang merealisasikan kebersatuan-Nya dengan kesempurnaan kebersendiriannya, berkeyakinan bahwa Dia (Allah ) Yang Maha Esa, Dia tiada beranak dan tidak diperanakkan, dan Dia menegaskan segala yang terbilang banyak, berhitungan, bisa disamai, segala sesuatu yang disembah selainNya, yang tidak diserupakan, diuraikan, digambarkan, dan dibuatkan contoh-Nya. Dia tanpa padanan, dan Dia Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”

Dalam kitab al-Luma’ karya al-Thusi, menuturkan: “Suatu ketika al Junaid ditanya tentang tauhid kelompok khusus. Jawab Junaid al Baghdadi : Hendaklah seseorang menjadi pribadi yang berada di tangan Allah dimana segala keberlakuan-Nya berlaku bagi dirinya. Dan ini tidak bisa tercapai kecuali dengan membuat drinya fana dari dirinya sendiri dan dari seruan mahluk kepadanya, dengan sirnanya perasaan dan gerakannya, akibat apa yang dia kehendaki Yang Maha Benar.

Junaid al Baghdadi adalah tokoh penting dalam ilmu tasawuf, beliau memadukan syariat dan hakikat , cara-caranya diikuti oleh al-Ghazali dan al-Syadzili. sumber: Sufi dari zaman ke zaman (Taftazani). Setiap insan yang ingin mencapai keridhaan Allah selalunya menerima ujian dan cobaan. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan popularitas Imam Junaid. Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil. Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.

Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh siapapun. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati. Khalifah yang mendapat tahu Kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid karena menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah. Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah. “Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.

Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke Al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, “Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku.” Al-Junaid berkata, “Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara.” “Apa yang harus kulakukan?” tanya asy-Syibli. “Pergilah dan jadilah penjual belerang.” Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, “Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis.” Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. 

Ia kembali ke Al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya: “Bagi umat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka.” Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan merdeka. Sekembalinya asy-Syibli, Al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya. Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.

Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas. Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat. Dia berkata: Bagi pikiranmu, aku gila. Bagi pikiranku, engkau semua bijak. Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku. Dan meningkatkan kebijakanmu ‘Kegilaanku’ dari kekuatan Cinta; Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran. Syekh Junaid mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu. Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia (Allah) tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia (Allah) masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia (Allah) masih menemaniku. Aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku, aku merasa dimanapun dan kapanpun aku berada disitu selalu ada Dia (Allah). Demikian jawaban dari santri muda tersebut.

No comments:

Post a Comment