Saturday, May 21, 2016

SYEIKH AHMAD MUTAMAKKIN WALI QAWARIQUL ADAH

Syekh Ahmad Mutamakkin atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Mutamakkin itu. Beliau hidup di masa pemerintahan Amangkurat IV sampai dengan Paku Buwono II sekitar abad XVIII. Beliau menyebarkan agama Islam di desa Kajen, Margoyoso, Pati Jawa Tengah, terletak 18 km utara kota Pati. Banyak versi mengenai asal-usul beliau. Pertama, beliau berasal dari desa Cebolek daerah Tuban Jawa Timur. Kedua, berasal dari desa Cebolek juga, tetapi Cebolek yang berada di timur desa Kajen di Pati, Jawa Tengah. Ketiga, beliau dari Persia (Zabul), Propinsi Kasan, Iran selatan, seperti yang pernah diungkapkan Gus Dur pada Munas RMI IV. Dan pendapat yang valid sementara ini, beliau berasal dari Cebolek Tuban, Jawa Timur, seperti yang tertulis di Serat Cebolek.

Bagaimana Mbah Mutamakkin bisa sampai ke Kajen? Beliau mengawali misi dakwah Islamnya melalui perjalanan dari Kalipang, sebuah daerah di Sarang, Rembang. Lalu pergi ke desa Cebolek, Pati untuk menetap beberapa lama. Ada sebuah kejadian yang membuat beliau pergi ke Kajen, Pati. Suatu ketika, saat akan melakukan Solat isya’, beliau melihat sebuah cahaya menjulang keatas dari arah barat, beliau ingin tahu apa yang terjadi. Lalu pergi esok harinya setelah ashar untuk membuktikan isyarat itu. Maka sampailah beliau pada sebuah gundukan tanah yang berada di sebelah barat Mathaliul Falah.

Disitu beliau bertemu seorang lelaki yang sudah (ber)haji bernama Syamsuddin. Konon, beliau adalah orang yang pertama kali melakukan ibadah haji di desa tersebut. Atas dasar itulah desa itu dinamakan Kajen (Jawa: kaji ijen). Satu-satunya orang yang sudah haji. Kemudian haji Syamsuddin menyerahkan desa Kajen kepada Mbah Mutamakkin. Tentunya, untuk mendakwahkan agama Islam di desa Kajen. Pada masanya, beliau adalah seorang alim yang punya karakteristik “aneh” Qawariqul Adah. Kenapa aneh? karena beliau, seorang ‘alim, memelihara dua ekor anjing. Kontan, kebanyakan ulama pada masa itu menganggap apa yang dilakukan Mbah Mutamakkin bertentangan dengan ajaran Islam.

Kenapa sampai bisa beliau memelihara dua ekor anjing? Shahibul riwayat, menuturkan. Beliau mendalami agama Islam dengan tekun dan sungguh- sungguh, disamping itu, beliau juga melakukan riyadhah. Riyadhah berarti melatih jiwa dari serangan hawa nafsu. Beliau lakukan dengan banyak cara. Diantaranya dengan mengurangi minum, makan dan tidur. Puncaknya, dalam rangka mengendalikan hawa nafsu, beliau melakukan puasa 40 hari dan malam. Pada hari ke-40 Mbah Mutamakkin meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang paling enak di hadapannya, dan meminta istrinya untuk mengikat tubuhnya pada tiang di rumah.  Setelah itu, Mbah Mutamakkin mengendalikan hawa nafsunya sekuat tenaga. Atas kehendak dan ijin Allah, beliau mampu mengendalikannya. Saat nafsu dan syahwatnya keluar, keduanya menjelma menjadi dua ekor anjing. (Ada yang bilang seekor anjing dan seekor singa.) Kedua ekor anjing tersebut ingin masuk kembali, tapi beliau tolak. Kemudian, kedua hewan tersebut dinamai Abdul Qahar dan Qamaruddin .

Hal inilah yang kemudian menuai pertentangan. Karena dua ekor anjing dinamai dengan nama manusia. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia yang tak bisa mengendalikan hawa nafsu, sama seperti anjing. Selain karakter “aneh” yang tadi, beliau juga punya keanehan lain. menonton wayang kisah Dewa Ruci dan Bima Sakti. Karena kealiman dan kontroversinya, namanya langsung terdengar hingga keraton Mataram Islam. Kejadiannya ketika beliau menerima seorang musafir dan menyuguhinya dengan berkat dengan lauk ikan kering.

Tamu alias musafir tadi makan dengan lahapnya. Sambil menemani, Mbah Mutamakkin menguji mental tamunya dengan kata sindirian. Dengan tersenyum, beliau berkata: anjing saya saja tidak suka ikan kering, tapi kamu melahapnya sampai tak tersisa. Sontak tamu tadi tertampar dan terhina. Seketika itu dia pulang dengan naik pitam, lalu membuka rahasia- rahasia Mbah Mutamakkin dengan buat selebaran. Selebaran itu berisi bahwa seorang alim, yang bernama Ahmad Mutamakkin memelihara dua ekor anjing dan gemar menonton wayang Dewa Ruci dan Bima Sakti. Lalu keadaan gempar.

Kabar tersiar hingga Mataram. Ulama sepakat mengadili Mbah Mutamakkin di Kartasura. Dalam sidang itu hadir Kiai Ketib Anom (Kudus), Kiai Witana (Surabaya), Kiai Busu (Gresik) dan ulama lainnya untuk mengadili Mbah Mutamakkin. Peristiwa ini berlangsung pada 1725-1726 pada pemerintahan Amangkurat IV dan Pakubuwono II. Pada 1725, raja mengundang ulama, aparatur pemerintah dan undangan lainnya ke Kartasura. Semuanya berjumlah 142 orang. Diantaranya ada 44 tokoh terpandang dan 11 ulama terkemuka.

Perlu diketahui, ketika berangkat untuk diadili, Mbah Mutamakkin sama sekali tidak sedih, bahkan tegar. Karena yakin dengan prinsipnya. Suasana tegang, raja meminta Raden Demang Irmawan (seorang utusan) untuk mengumpulkan info mengenai apa yang terjadi. Setelah mendengarkan keterangan dari Raden Demang Irmawan, maka Mbah Mutamakkin dipanggil untuk menghadap raja lewat serambi belakang.

Setelah sampai, Mbah Mutamakkin diminta raja untuk berterus terang bicara mengenai ilmu dan pedoman beliau. Berkali-kali raja mendesaknya, dan Mbah Mutamakkin menolak, karena mengingat amanat gurunya, sampai akhirnya, beliau pun berkata: “Apabila paduka bersedia hamba bai’at menjadi murid terlebih dahulu, barulah hamba menunjukkannya.” Singkat cerita. Lalu paduka raja diajak berjabat tangan dan diberi wejangan yang membuat hatinya tenang. Selesai pembai’atan, maka raja berkata dengan sendirinya ” apabila aku tidak menuntut ilmu dari KH. Ahmad Mutamakkin ini, niscaya aku akan mati kafir”. Bagaimana bisa? orang yang dituduh sesat oleh para ulama justru dijadikan guru oleh raja.

Entahlah, tidak ada yang tahu isi percakapan lengkap antara Mbah Mutamakkin dengan paduka raja. Lalu raja mengeluarkan keputusan yang berisi: Pertama, persoalan mengenai KH . Ahmad Mutamakkin dianggap selesai dan dinyatakan bebas dari hukuman. Kedua, dianjurkan kepada seluruh pihak agar menaati titah paduka raja. Dalam menyebarkan agama Islam, tentu tidaklah sedikit cobaan yang datang. Sebagai salah seorang Wali, begitu masyarakat menasbihkan, beliau memperjuangkan Islam di desa Kajen hingga jadi desa santri.

Dan dari beliaulah, muncul murid-murid seperti Kyai Ronggokusumo (Ngemplak), Kyai Mizan (Margatuhu), keduanya di Pati, dan Raden Sholeh. Yang murid-murid beliau tadi menurunkan ulama-ulama yang dalam ilmunya  KH. Abdullah Salam (Mbah Dullah Salam), KH. Mahfudh Salam. Keduanya adalah paman dan ayah dari seorang yang alim dan mumpuni dalam agama, yaitu KH MA Sahal Mahfudh (Mbah Sahal Mahfudh). Dan keturunan dari Mbah Mutamakkin mendirikan pesantren-pesantren di desa Kajen dan sekitarnya yang jumlahnya 40-an dan terdapat 8000-an santri. Mbah Mutamakkin wafat pada 10 muharram, tak diketahui tahun pastinya, namun haulnya diperingati setiap tahun sampai sekarang. Terlepas dari kontroversinya, beliau adalah salah seorang wali yang sangat dalam ilmu agama. tentunya, Mbah Mutamakkin benar-benar memperhitungkan setiap perilaku keberagamaannya.

No comments:

Post a Comment