Sunday, January 6, 2013

WASIAT MUAZ BIN JABAL

Sebuah wasiat yang menakjubkan dari Shahabat Mu'adz bin Jabbal r.a. kepada salah seorang muridnya: “Aku memperingatkanmu atas kekhilafan orang bijak, karena syetan kadangkala ikut bertutur kata dari mulut orang-orang yang bijak suatu kalimat yang sesat, dan terkadang dari orang munafiq bertutur kata yang haq/ benar.” Muridnya lalu bertanya,” Bagaimana bisa terjadi demikian? Semoga Allah swt senantiasa menurunkan rahmat-Nya kepada Anda. 

Jika demikian keadaannya, bagaimana caranya aku mengetahui bahwa seorang yang bijak dan sholeh sedang berkata keliru/salah dan seorang munafiq sedang berkata benar? Bagaimana dapat aku ketahui, mana yang palsu dan mana yang benar?” Mu’adz bin Jabbal r.a. pun berkata,” Berhati-hatilah dengan ucapan;’ Perkataan apa itu?’ ‘ Bagaimana ia bisa berkata demikan?’ Janganlah kata-kata ini memalingkanmu dari orang-orang bijak. Kemungkinan ia akan menarik kata-katanya atau dengan bukti perbuatannya, sehingga engkau akan mendapatkan kebenaran ketika kamu mendengarnya, karena kebenaran itu memiliki nur di dalamnya.”

Mari kita renungkan beberapa hal dari nasehat yang diberikan oleh Mu’adz bin Jabbal r.a. di atas:

1). Mu’adz memberitahu bahwa tidak mutlak perkataan yang benar harus selalu keluar dari orang bijak/alim. Kadangkala orang munafik/ ahli maksiat pun dapat berkata benar. Ini menunjukkan bahwa dengan mendengar sekali saja kata-kata benar dari seseorang, hendaknya tidak harus diikuti secara fanatik. Biasanya kita sangat mudah menjadi pengikut setia (mu’taqid) seseorang hanya setelah mendengar ucapan atau tulisannya, dan lalu kita cenderung memujinya setinggi langit. 

Dan lebih buruk lagi, kadangkala kita menyadari dan memaklumi bahwa orang itu suka bermaksiat dan fasik, tetapi disebabkan ucapannya/ perbuatannya itu sesuai dengan hawa nafsu kita, maka kita berusaha membuktikan bahwa ia adalah seorang waliyullah yang kuat berpegang pada agama, sehingga kita (naudzubillah) menempatkannya hampir sederajat dengan para nabi. 

Tetapi di lain kesempatan, jika setelah itu, ia berbuat atau berkata sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan kehendak kita, maka kita melupakan semua ucapannya. Di satu sisi, kita mendukungnya dengan membabi buta, bahkan sampai meneriakkan yel yel (Hidup..si A .! Hidup si A. !!), tapi saat berikutnya kita bisa menghujatnya dengan kata kata makian (Mampus kamu !! Mati kamu !!). Bukankah ini sesuai dengan maksud hadits yang berbunyi, “Berpagi hari sebagai seorang mukmin dan bermalam hari menjadi seorang kafir?”

2). Mu’adz r.a.berkata bahwa terkadang orang bijak/ alim ulama pun dapat berkata salah dan menyebabkan kesesatan. Oleh sebab itu, jangan mudah berfanatik hanya dengan mendengar satu atau dua kali ucapan seseorang. Sepatutnya kita mengkaji, meneliti dan merenungkan terlebih dahulu perilaku dan keadaan orang tersebut. Jika kita mendapati atau melihat dengan jelas, bahwa kebanyakan kesibukan dan urusan-urusan orang tersebut sesuai dengan syariat yang suci dan mengikuti sunnah Rasulullah saw, maka tentu ia layak kita jadikan tokoh panutan. 

Tetapi jika sebaliknya, setelah kita amati dan kita menemukan dengan pasti (tahqiq) bahwa ternyata banyak sekali perilaku dan perbuatan orang tersebut yang tidak terpuji, hina dan perkataannya kacau, maka tidak selayaknya ia menjadi panutan kita, namun kita jangan menjauhinya. Barangkali (setelah ia mengkoreksi dirinya sendiri) akan menarik kembali pernyataannya. Jika ia tidak juga menyadari kekeliruannya, maka menjauhlah darinya. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Mu’adz r.a., baik secara ijmal (ringkas) maupun tafsil (panjang lebar), bahwa banyak hal yang perlu kita renungkan secara seksama.

Sekarang marilah kita melihat keadaan amalan kita, lalu cobalah kita menilainya. Hendaknya kita menyadari satu hal, yaitu: Apakah masalah yang umumnya berlaku? Mungkin dalam benak kita terdapat pemikiran yang tidak penting. Jika kita mendengar seseorang berbicara dan berpendapat atas suatu masalah, dan itu sesuai dengan jalan pikiran kita, kita akan memujinya dan mendukungnya, serta tanpa ragu-ragu kita akan menutupi kelakuannya yang bertentangan dengan syariat, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele, padahal itu adalah masalah yang berat dan suatu kezaliman. Seharusnya, hal-hal yang baik dan positif (sesuai syariat) darinya kita puji, sedangkan tindakannya yang bertentangan dengan syariat kita kecam. Atau sekurang-kurangnya kita berdiam/ tidak berkomentar atas keburukannya. Namun, hari ini, sebagian besar dari kita menganggap perbuatan-perbuatan tercela mereka sebagai sesuatu hal yang wajar dan lumrah.

Hal yang sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang yang menentang atau tidak sejalan dengan ide/ pemikiran kita, kita akan membencinya hingga menganggap semua perbuatannya itu aib belaka, sehingga kita tidak sempat melihat sifat-sifat baik yang ada padanya.

Menurut syariat dan paham rasional, setiap sesuatu hendaknya diletakkan di tempat yang sesuai, tidak dapat ditinggikan atau direndahkan kedudukannya begitu saja. Nabi saw bersabda, “Dudukkanlah manusia itu menurut kedudukannya (tidak ditinggikan atau direndahkan)”. Tetapi malangnya, kebanyakan kita telah melampaui batas dalam melihat setiap permasalahan, tidak ada kesederhanaan dan pertimbangan lagi.

Maulana Zakariyya rah.a. tidak hanya menyetujui pemikiran yang menyatakan bahwa memang terkadang di antara para ulama terdapat perbedaan yang tajam, tetapi kita sebagai orang awam juga mesti tahu lebih dulu duduk persoalannya, dan tidak patut berkomentar sembarangan. Perbedaan tajam di antara para ahli kebenaran dalam hal ini ulama, tidaklah serta merta merendahkan martabat mereka dan tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan jika terjadi perbedaan di antara ulama maka (pada derajat yang sama) kedua hujjah/ argumen mereka menjadi semakin kokoh. 

Lebih luas perbedaan mereka, maka akan lebih kuat lagi jenis hujjah yang mereka hasilkan. Misalnya jika seorang Imam berpendapat bahwa suatu perintah itu wajib, sedangkan Imam lainnya menyatakan bahwa hal tersebut makruh tahrimi (sangat tidak disukai), maka sudah tentu hujjah/ argumen keduanya sangat kuat. Inilah yang menyebabkan bahkan para shahabat Nabi saw pun terpaksa bertikai, sehingga terjadi perang di antara mereka.

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, seorang shahabat ‘A’ telah mengatakan bahwa sholat witir itu wajib, namun shahabat lainnya, ‘B’, yang tidak sependapat mengatakan bahwa shahabat A tersebut kadzab (dusta). Atas masalah ini, alim ulama menafsirkan kembali kata-kata yang secara zhahir terlihat seakan-akan menjatuhkan kepribadian shahabat A tersebut. Walaupun kita berusaha menerjemahkan ucapan Shahabat B dengan lebih halus, demikianlah terjemahan ucapan itu. Namun demikian, menjadi tugas kita, apabila menemukan ucapan seseorang yang keras, hendaknya ucapan itu diterjemahkan dengan hati-hati agar tidak memberi kesan bahwa seseorang itu sedang ‘diserang’. Contoh mengenai hal ini banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits.

Para shahabat Nabi telah dimaafkan, walaupun kerap menggunakan kata-kata (seolah-olah) keras, karena Rasulullah saw besabda, “Ketahuilah ! Janganlah karena merasa segan dengan kehebatan seseorang, ia takut berkata yang haq/ benar, sedangkan ia mengetahui masalah itu (meyakini kebenaran tersebut).”

Ketika Abu Said Al Khudri ra. Meriwayatkan hadits ini, beliau menangis, lalu berkata, “Kita telah melihat banyak urusan dan karena kekaguman terhadap seseorang, telah mencegah kita dari berbicara mengenainya.”

Terdapat lagi hadits yang masyhur, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia cegah dengan lidahnya. Dan jika masih tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan ini adalah selemah-lemah iman.”

Banyak lagi nash mengenai masalah ini yang telah kami kemukakan dalam Risalah Tabligh. Inilah perintah yang mendorong para alim ulama berkata lantang apabila mereka menganggapnya suatu kebenaran. Ketika masalah itu semakin penting, mereka akan lebih tegas dan kokoh lagi pendiriannya dan semakin siap menentang lawan mereka. Namun harus diperhatikan dengan cermat bahwa lawan yang ditentang, memang layak untuk ditentang. Dan ulama yang menentang itu memang ahli dalam ilmunya. Dan tidak semua orang dapat ditentang. Tindakan menentang/ menyerang seseorang itu hendaknya tidak sampai menimbulkan kebingungan dan kesedihannya.

Oleh sebab itu, Maulana Zakariyya berharap dan berdoa agar seluruh kaum muslimin, khususnya alim ulama agar dapat bersatu pandangan terhadap politik yang terbaik bagi masa depan ummat. Namun hal ini tentu akan menimbulkan kegelisahan dan ketidakenakan, karena kita tidak mungkin menyenangkan kedua belah pihak yang saling berbeda pendapat. Di sisi lain, mungkin saja hal ini akan mendatangkan mudharat dari perilaku para pengikut kedua pihak yang berseberangan, yang kadangkala terlalu berlebihan dan keluar dari jalur syariat.

No comments:

Post a Comment