Wednesday, March 2, 2016

ANTARA BURDAH DAN BUSHIRI

Ada asumsi sementara kalangan yang mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi tidak boleh disanjung-sanjung dan dipuji, atau dengan kata lain mengkultus individukan. Sebenarnya memang, saking tawadlu' (rendah hatinya) sudah tentu, beliau nenolak untuk dikultus individukan umatnya. Khawatir mereka berlebih-lebihan dalam pujian seperti umat terdahulu terhadap para utusan Tuhan.

Sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani, yang menempatkan nabi-nabi mereka tidak pada posisi dan risalah-Nya, melainkan bahkan menjadikan sebagai Tuhan. Ingat ungkapan kitab suci yang menguak ini: "Kata orang Yahudi ‘Uzair itu anak Allah, kata orang Nasrani 'Isa itu anak Allah".

Memuji Nabi Muhammad bukanlah menganggap beliau sebagai Tuhan. Menyanjung Rasulullah adalah nengakui Muhammad saw sebagai lelaki pilihan. "Kami tidak utus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta" (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil'alamin). Itu firman Tuhan. Tidakkah ini pujian?

Sumber ajaran memuji dan mencintai Nabi tak lain adalah Islam itu sendiri. Dalam sebuah hadis populer disebutkan. "Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap, menyintai Nabi, keluarganya dan membaca al-Quran!". Untuk menyintai kekasih, apalagi beliau itu adalah kekasih Tuhan, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam. Sebagaimana tertera dalam kitabullah: "Sungguh Allah dan para malaikat bersholawat atas Nabi, hai orang beriman bersholawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormat salam." (QS. 33:56)

Shalat (jamaknya shalawat) jika datangnya dari Allah kepada Nabi-Nya bermakna rahmat dan kerelaan. Jika dari para malaikat berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya bermakna sanjungan dan pengharapan agar rahmat dan kerelaan Tuhan dikekalkan. Dalam surat yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan: "Sungguh engkau (hai Muhammad) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi". Allah tak pernah panggil namanya langsung, sebagai "hai Muhammad", tapi "hai Nabi", "hai Rasul", "hai pria yang berselimut"

Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap diri beliau? Seorang Nabi yang telah dilukiskan oleh Al-Quran sebagai "rahmat bagi seluruh alam semesta"  ini juga seperti diharapkan beliau dalam banyak hadits, agar kaumnya banyak menyebut nama Baginda.

"Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku", sabdanya. Bahkan dianjurkan umat islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum'at. Sebab, seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Muhammad SAW akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat.

Dan bermula dengan shalawat dan puja-puji inilah juga, Imam Al Bushiri menghias sajak-sajaknya dalam sebuah antologi yang kesohor disebut "Al Burdah" sampai sekarang ini. Nama lengkap penyair tersebut ialah Abu Abdillah Syarafuddin Abi Abdillah Muhammad bin Khammad Ad Dalashi as Shanhaji Asy Syadzili Al Bushiri, yang kemudian termasyhur dengan panggilan Imam Bushiri saja. Selain dikenal sebagai penyair. Bushiri juga kondang sebagai seorang yang tekun ketaqwaannya kepada Tuhan, luhur budi pekerti dan luas pengetahuannya.

Tahukah Anda mengapa himpunan puisi dan syair madah ini dinamakan. Burdah? Secara harfiah “burdah” memang bermakna: kain yang hitam pekat untuk selendang Al Bushiri membubuhkan judul antologinya dengan nama seperti tersebut di atas sesungguhnya bukan tanpa alasan. Sebab, dikisahkan di zaman Nabi dulu ada tokoh Ka'ab bin Zuhair namanya. Penyair ini semula seorang non muslim dan tergolong sebagai orang yang paling radikal menentang dakwah Rasulullah, kemudian sadar dan masuk Islam. Lantas menggubah sajak buat Nabi yang isinya kala itu terbilang sangat estetik. Intro (mathla') puisi itu:

Kudengar kabar
Rasulullah berjanji padaku
Dan ampunan itu
sungguh jadi tumpuan harapanku

Untuk itu konon Nabi memberinya cinderamata, berupa selendang berwarna hitam. Ka'ab bin Zuhair inilah pada hakikatnya yang telah mengilhami Bushiri, dan selendang hitam (Burdah) itu untuk judul gubahan sajak-ajaknya. Satu-satunya antologi klasik yang paling banyak pengagumnya. Di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, Burdah disenandungkan dan dihafal orang. Bahkan di sini menjadi nama majelis yang dimulai dengan pembacaan Burdah disertai tembang lagu merdu, adakalanya para penyenandung Burdah mengiringinya dengan musik.

Sehingga bacaan puitis ini bagi sementara kalangan kaum Muslimin dijadikan semacam bacaan standar untuk kelengkapan berbagai keperluan dan perhelatan. Dan kadangkala disenandungkan dalam lagu dan nyanyian diiring samroh dan dipadukan dengan qasidah-qasidah lainnya.

Tak heran, sebab susunan bahasanya indah lagi mudah untuk dilagukan. Burdah memang satu-satunya bentuk puisi dalam khazanah kesusasteraan Arab yang paling kuat bertahan. Sebab mudah dihafal dan memang telah banyak orang yang menghafalnya di luar kepala. Makanya sebagian sasterawan Arab pun ada yang mencoba untuk menirukan. Dalam misalnya, mathla' (awal bait dalam Burdah) yang diakui ternyata sulit ditirukan itu. Dr Zaki Mubarak, kritikus sastera Arab yang semula 'memandang remeh' Burdah, ternyata akhirnya berbalik mengakui nilai-nilai estetika yang amat tinggi pada karya Imam Bushiri yang tak tertandingi ini.

Sampai kini penyair-penyair yang berupaya menandingi Burdah, selalu mengalami kegagalan. De Sacy, seorang pengamat sastra Arab dari Universitas Sorbone Prancis mengakui kelebihan-kelebihan karya sastera Imam Bushiri. Menurutnya sampai saat ini belum ada penyair kontemporer Arab yang dapat menirukan Burdah.

Burdah terdiri dari 160 bait, berisi padat nasihat dan peringatan, umpamanya soal angkara nafsu, pujian pada Nabi, Keagungan Al-Quran, peristiwa Isra' Mi'raj, jihad prajurit Nabi Muhammad SAW, doa-doa (munajat tawassul) serta sholawat kepada Nabi, keluarga dan para sahabat.

Demikian uraian tentang Antara Burdah dan Bushiri semoga bermanfaat. Amiin.

No comments:

Post a Comment