Thursday, February 25, 2016

TASAWUF FALSAFAH DAN TASAWUF PRAKTIS

Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang merupakan perpaduan antara tasawuf dan juga filsafat atau bisa juga disebut mistik metafisis. Aliran tasawuf ini dikembangkan oleh para sufi yang juga sekaligus para filosof. Aliran ini menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis. Sesuai dengan namanya, tasawuf filsafat menggunakan argumen-argumen yang kaya dan luas tentang ide-ide ketuhanan. Hakekat tasawuf sendiri adalah mendekatkan diri kepada allah dan mejauhi keduniawian. Yang di dalamnya terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu.

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa objek utama dalam tasawuf falsafi ada empat perkara, yaitu:

1). Latihan rohaniah dengan rasa intuisi serta instropeksi diri yang timbul dari dirinya.

2). Iluminasa atau hakikat yang tersingkap dari alam ghoib, misalnya sifat-sifat robani ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang ghaib maupun yang Nampak, dan susunan yang kosmo, terutama tentang penciptanya serta penciptaanya.

3). Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.

4). Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.

Tasawuf filosofis ini mulai muncul dengan jelas dalam khazanah Islam sejak abad keenam hijriyah meskipun para tokohnys baru dikenal seabad kemudian. Para sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf filososfis mengenal dengan baik filsafat Yunani serta berbagai alirannya misalnya Socrates, Plato, Aristoteles, aliran stoa, dan aliran Neo-Paltonisme.

Selama abad kelima hijriyah, aliran tasawuf akhlak terus tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, aliran tasawuf falsafi mulai tenggelam dan muncul kembali dalam bentuk lain pada pribadi-pribadi sufi yang juga filosof . Hal ini disebabkan karena sedang berjayanya aliran sunni dan kritikan keras terhadap filosof sufi dengan pernyataan-pernyataan ganjil mereka.

Sejak abad keenam Hijriyah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Lebih jelasnya,tidak bisa dikatakan sebagai tasawuf maupun filsafat. Di antara mereka yaitu, Syukhrawardi Al-Maqtul, Ibnu Arabi, Ibnu Faridh. Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat Yunani dan khusunya Neo-Platonisme.

Neo-Platonisme dimana, menurut Plotinus, jiwa disinari oleh cahaya dari Yang Esa, sementara materi adalah kegelapan yang tidak mempunyai keberadaan yang nyata. Segala sesuatu itu satu, sebab segala sesuatu berasal dari Tuhan. Bayang-bayang jauh di dalam gua yang jauh dari cahaya, menurut teori gua, menandakan bahwa ia mendapat pijaran cahaya yang lemah atau jauh dari Tuhan. Yang paling dekat dengan gagasan-gagasan kekal yang merupakan bentuk pertama dari semua makhluk. Jiwa manusia sebenarnya adalah “sepercik cahaya”. Yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa kita.
Dengan munculnya para sufi yang juga filosof ini, orang-orang mulai membedakannya dengan tasawuf yang sebelumnya tengah berkembang, yakni tasawuf akhlaki, yang kemudian identic dengan tasawuf sunni.

Tasawuf praktis atau biasa disebut tasawuf sunni akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang diformulasikan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplian tingkah laku secara ketat, guna mencapai kebahagiaan yang optimal. Berupaya untuk menghindari akhlak mazmumah dan mewujudkan akhlak mahmudah. Aliran tasawuf ini memagari diri dengan Al-Qur’an dan al-hadith secara ketat dengan penekanan pada aspek amalan dan mengaitkan antara ahwal dan maqamat. Aliran ini dikembangkan oleh kaum salafi pada abad V Hijriyah.

Para sufi berpendapat bahwa manusia masih sering terbawa oleh hawa nafsu sehingga mereka lebih terlena dengan kehidupan di dunia. Kaum sufi berpendapat, kalau kenikmatan hidup duniawi bukanlah tujuan, tetapi hanya sekadar jembatan. Hal inilah yang menyebabkan kerusakan moral. Maka dari itu, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk mematikan hawa nafsu sampai ke titik terendah dan atau menekan hawa nafsu sampai tidak ada sama sekali. Menurut aliran ini ada 3 tahapan dalam sistem pembinaan akhlak:

a). TAKHALLI: Berarti mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi dan akhlak tercela. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala ben tuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu.

b). TAHALLI: Berarti mengisi dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. Berusaha agar dalam setiap gerak perilaku selalu berjalan di atas kententua Agama, baik kewajiban yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Dengan kosongnya jiwa setelah takhalli tadi maka harus diisi dengan kebiasaan yang baru. Jiwa manusia, kata AL-Gazali, dapat, dilatih, dapat dikuasai, bisa diubah, dan dapat dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri.

c). TAJALLI: Terungkapnya nur ghaib bagi hati yang telah bersih sehingga mampu menangkap cahaya Ketuhanan. Apabila jiwa telah terisi dengan butr-butir mutiara akhlak dan organ-organ tubuh sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur, maka agar hasil yang telah diperoleh itu tidak berkurang, perlu penghayatan rasa Ketuhanan. Satu kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran yang optimal dan rasa kecintaan yang mendalam, akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

Pada mulanya tasawuf muncul dengan berkembangnya pemahaman intuisi-intuisi dalam Islam. Sejak zaman sahabat dan thabiin, kecenderungan pandangan orang terhadap ajaran Islam secara analitis mulai muncul. Ajaran islam  dipandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriyah(“Luar”) dan aspek bathiniah(“dalam”). Pendalaman dan pengamalan aspek “dalamnya” adalah yang paling utama tanpa mengabaikan aspek “luarnya” yang dimotifasikan untuk membersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih berorientasi pada aspek “dalam”, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan Tuhan dan bebas egoisme.

Sejarah perkembangan tasawuf akhlak sebenarnya mulai dirintis pada abad ketiga hijriyah. Dimana para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang  berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Lalu, pada abad kelima hijriyah muncullah Imam Al-Ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Selama abad kelima hijriyah, aliran tasawuf salafi (akhlaqi) terus tumbuh dan berkembang.

Tasawuf pada abad kelima hijriyah cenderung mengalami pembaharuan, dengan mengembalikannya kepada landasan AL-Qur’an dan As-Sunnah. Tokoh-tokoh aliran ini yang cukup terkenal adalah Al-Qusyairi dan Al-Harawi. Dalam kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah memperlihatkan dengan jelas bagaimana mengembalikan kembali kepada doktrin ahlussunnah wal jamah. Dalam penilaiannya, ia menegaskan bahwa para tokoh sufi aliran ini membina prinsip-prinsip tasawuf atas dasar ajaran tauhid yang benar sehingga terpelihara dari penyimpangan.

Tokoh lainnya yang seirama dengan AL-Qusyairi adalah Abu Ismail AL-Anshari atau biasa disebut Al-Harawi. Ia dipandang sebagai pengasas aliran pembaharuan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapannya seperti Abu Yazid Al-Bustami dan Al-Hallaj.

Dengan demikian, jelas sekali adanya klasifikasi tasawuf Sunni yang lebih berorientasi menampilkan akhlak, dan tasawuf falsafi dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun Hulul.

Bila tasawuf Sunni memperoleh bentuk yang final pada pengajaran Al-Ghazali, tasawuf Falsafi mencapai puncak kesempurnaannya pada pengajaran Ibnu Arabi. Inti dari pengjarannya adalah, bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayngan dari “realita” yang sesungguhnya yaitu Tuhan. Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah sentral tentang kesatuan wujud (Wahdatul Wujud).

Kalau bagi sebagian sufi (Sunni) mengartikan ma’rifah sebagai penngenalan Allah melalui qalb dan merupakan maqam tertinggi yang dapat dicapai manusia, tetapi bagi sementara sufi (Falsafi), manusia masih dapat melewati maqom ma’rifah itu, yaitu bersatu dengan Allah, yang kemudian dikenal sebagai ittihad.

No comments:

Post a Comment