Sunday, February 14, 2016

TUHAN DIDALAM KALAM DAN DIDALAM TASAWUF

Tuhan di dalam Kalam adalah Tuhan "yang dipikirkan", sedangkan Tuhan di dalam tasawuf adalah Tuhan "yang dirasakan". Perlu dicamkan, bahwa kalam tidak memandang sesat orang yang MERASA dekat dengan Tuhan asal saja ia tidak menentukan ukuran dekatnya itu dengan tempat dan waktu. Kerana itu, atas dasar kalam yang mana kita akan mengatakan bahwa orang yang MERASA menyatu dengan Tuhan sebagai sesat sementara ia juga tidak menentukan tempat bagi-Nya. 

Perlu diketahui bahwa ungkapan-ungkapan tentang "kemenyatuan" itu jika benar-benar dari mulut seorang sufi, maka itu namanya "Syathahat". Syathahat itu adalah ungkapan yang keluar dari mulut sufi yang sedang fana sehingga kesadaran manusiawinya lenyap dalam kesadarannya tentang Tuhan. Ia tidak dapat mengontrol dirinya. Lalu, ia pun berceloteh tentang perasaannya itu. Hallaj, Suhrawardi al-Maqtul dan lain-lain, dihukum mati kerana ucapan-ucapan begini, tapi bukan kerana ucapannya. Akan tetapi, lebih kerana besarnya fitnah yang timbul kerananya. Yang menjatuhkan hukuman kepada mereka bukanlah para mutakallimin, tetapi para fuqaha', bukan ahli kalam, tetapi ahli fiqh. 

Apakah mereka menentang hukum? TIDAK. Mereka bahkan menganggap bahwa orang-orang yang menjatuhkan hukuman itu mendapat pahala kerana mempertahankan syari'at.

No comments:

Post a Comment