Tuesday, March 22, 2016

APABILA HAJAT DOA INGIN DIKABULKAN, AWALI DENGAN BISMILLAH, SHOLAT DAN SEDEKAH

Suatu hari, Abu Nashr, seorang nelayan yang hidup serba kekurangan bertemu dengan Syeikh Ahmad bin Miskin, seorang Ulama Besar, generasi Tabiin. Saat ditanya oleh Syeikh, ia menjawab : saya tengah sedih memikirkan keadaan keluargaku. Syeikh pun mengajaknya ke laut dan SHOLAT DUA ROKA'AT. Usai Shalat merekapun siap mencari ikan. Ucapkanlah Bismillah, pinta Syeikh Ahmad Setelah mengucapkan, ia pun segera melempar jalanya ke laut. Alhamdulillah, seekor ikan besar berhasil ia dapatkan. Lalu Syeihk berkata." Jualah ikan itu dan belilah makanan untuk istri dan anakmu. 

Ia pun pergi menjual ikan dan membeli dua bungkus nasi untuk diberikan kepada Syeikh. Lalu Syeikh menolak pemberian nasi bungkus tersebut dan berkata." saya hanya ingin membantumu. Syeikh menjelaskan." Jika saja aku mengharapkan sesuatu darimu, maka engkau tidak akan mendapatkan ikan sebesar itu. Bawalah makanan itu untuk keluargamu. Ditengah perjalanan, ia melihat seorang Ibu dan anaknya, merintih kelaparan. Karena tak sampai hati, ia pun memberikannya. Hingga mereka sangat gembira.  Setelah itu ia kembali memikirkan istri dan anaknya yang kelaparan dengan hati sedih ia terus berjalan kembali ke rumah.

Sesaat kemudian, seseorang menunjuk kepadanya, sambil bertanya: Benarkah engkau Abu Nashr, nelayan di desa ini ?. Benar jawabnya. Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu meminjamkan uang padaku. Dan aku tidak tahu bahwa ayahmu telah meninggal maka ambilah 30.000 dirham milik Ayahmu ini. Kemudian Abu Nashr menyedekahkannya 1000 dirham. Kini ia mempunyai rumah indah dan perdagangan yang maju.

ALLAH SWT Berfirman: Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan carilah Karunia ALLAH SWT dan ingatlah ALLAH sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. AL-JUMU'AH : 10). Marilah belajar IKHLAS didalam perbuatan hal apapun agar kehidupan ini menuai penuh keberkahan dari Allah SWT.

2). JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU

“Engkau ingin berjuang mengendalikan nafsu, namun engkau menguatkannya dengan syahwat sehingga nafsu mengalahkanmu! Jangan berbuat seperti orang sakit yang berkata, 'Aku tidak mau berobat sampai sembuh sendiri,' sehingga kita bisa katakan kepadanya, 'Engkau tak akan sembuh sebelum berobat.' Perjuangan memang tak terasa manis. Maka, berjuanglah mengendalikan nafsu, karena perjuangan itu merupakan jihad yang paling besar. Ketahuilah bahwa wanita yang berduka tidak memiliki hari raya. Hari raya hanya milik mereka yang dapat mengendalikan nafsu. Hari raya milik orang yang menghimpun seluruh kekuatannya”. (Syekh Ibnu Atha'illah dalam Taj Al-‘Arus). 

3). OBAT BAGI HATI YANG GELISAH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Janganlah kalian gelisah karena makanan yang akan kalian makan, minuman yang akan kalian minum, pakaian yang akan kalian pakai, dan rumah yang akan kalian huni. Kegelisahan atau kegalauan semacam itu merupakan hasutan hawa nafsu dan syahwat semata.” Lalu, apa sebenarnya hakikat kegelisahan itu? Bagaimana seharusnya kegelisahan itu terjadi? Apakah mungkin kegelisahan bisa lenyap dari diri kita?

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani kegelisahan dapat terjadi pada tiap manusia, pada semua tingkatan sesuai dengan tingkat spiritualnya yang berbeda-beda. Dan, hakikat kegelisahan yang sesungguhnya adalah ungkapan kegelisahan seorang hamba yang bermohon kepada Allah SWT. Kegelisahan adalah sesuatu yang membuat kita bimbang, takut, sedih, haru, bingung, dan tak tahu harus bagaimana. Maka, larilah kepada Allah, adukan semua bebanmu kepada-Nya. Hanya Dialah yang memberi kedamaian.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Maka, jadikanlah kegelisahan kalian sebagai pengaduan kepada Allah SWT. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Dunia ini memiliki pengganti, yakni akhirat. Hanya Allah yang tak dapat tergantikan. Jika kalian terlena dengan sesuatu di dunia ini, akibatnya akan terjadi di akhirat. Dan, kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Berhitunglah mulai hari ini! Usia kalian adalah yang tersisa. Maka, bersiaplah menghadapi akhirat! Bersiaplah menerima kedatangan Malaikat Maut!” (Kitab Al-Mawaizh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani). 

4). POHON DAN AIR KEHIDUPAN RUHANI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Pikirkanlah terlebih dahulu akibat buruk atas apa yang kau lakukan. Agar kau lebih mudah meninggalkan yang buruk. Selama ini kau masih berlindung di bawah pohon lupa. Karena itu, keluarlah dari naungan kelalaianmu. Dengan begitu, kau dapat melihat cahaya hidayah dan mengetahui jalan yang benar. Pohon lupa disuburkan oleh air kebodohan. Sedangkan pohon zikir dan makrifat disuburkan oleh tafakur. Pohon tobat disuburkan oleh air penyesalan. Dan, pohon cinta disuburkan oleh air keridhaan kepada Allah”. (Kitab Al-Mawaizh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani).

5). MERAIH KEJERNIHAN HATI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Engkau tidak akan menemukan kedamaian abadi di dunia ini, karena dunia merupakan tempat yang keruh dan rusak. Maka, kau harus keluar dari dunia, serta mengeluarkan dunia dari hati dan tanganmu. Jika tidak mampu melakukannya, biarkanlah dunia di tangan, tetapi keluarkan dunia dari hatimu. Ketika engkau telah mampu, keluarkan dunia dari tanganmu dan berikanlah kepada fakir dan miskin. Apa yang merupakan rezekimu tidaklah akan luput dari dirimu. Bagaimana pun keadaannya, engkau harus menyadari hal tersebut, baik kaya atau miskin, zahid atau bukan. Semua itu demi kesembuhan, kejernihan hati dan nurani kalian. Hati dan nurani menjadi jernih dengan menuntut ilmu, mengamalkannya, ikhlas, dan tulus mencari ridha Allah Azza wa Jalla”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Fathu Rabbani).

No comments:

Post a Comment