Tuesday, March 22, 2016

MAN JADDA WAJADA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ajukanlah permintaan kalian kepada-Nya, dan bukan kepada siapa pun yang lain. Tegaskanlah ke-esaan-Nya, sebab dengan itu kalian akan disatukan. Orang yang mengukuhkan keesaan Tuhan akan mengalami penyatuan (man wa hhada tawa hhada). Orang yang mencari dan berjuang, akan mendapatkan (man thalaba wa jadda wajada).

Jika seseorang menyerahkan dirinya dan tunduk serta patuh kepada-Nya, maka orang itu akan aman dan selamat (man aslama wa taslama, salima). Jika seseorang menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, dia akan dibantu untuk berhasil (man wafaqa wuffiqa). Tetapi jika seseorang bertengkar dengan takdir (qadar), dia akan dipukul hingga binasa. Ketika firʽaun bertengkar dengan takdir dan menginginkan agar ilmu Allah diubah, maka Dia lalu membinasakannya dan menenggelamkannya di laut, dan menjadikan Mûsa dan Harun tetap hidup.

Ketika ibu Mûsa merasa takut kepada algojo-algojo yang disuruh Firʽaun menyembelih setiap bayi yang baru lahir, maka Allah lalu memberinya ilham agar dia melemparkannya ke laut. Tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Mûsa a.s. maka kepadanya dikatakan:

الْمُرْسَلِينَ [القصص :٧] وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ 

Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sebab Kami akan membawa dia kembali kepadamu,dan Kami akan menjadikannya salah seorang rasul (QS Al-Qashash (28):7). (Dengan perkataan lain:) “Janganlah engkau takut, sebab hatimu akan ditenangkan, dan wujud terdalammu (sirr) akan diistirahatkan. Janganlah engkau takut bahwa dia akan tenggelam atau binasa, sebab Kami akan mengembalikan dia kepadamu. Melalui dia kami akan mengubah kemiskinanmu menjadi kekayaan.” 

Karena itu Ibu Mûsa a.s. lalu mempersiapkan sebuah peti (tabût) baginya, lalu meletakkannya di dalamnya, dan melemparkan peti itu ke laut. Lalu peti itu mengapung di atas air sampai mencapai istana, di mana ia diambil oleh pelayan-pelayan Firʽaun dan istrinya, Ȃsiyah.

Segera sesudah mereka membuka peti itu, mereka pun melihat bahwa peti itu berisi seorang bayi laki-laki. Mereka semua menyukainya, dan hati mereka penuh dengan rasa sayang kepadanya. Maka mereka pun lalu menggosok bayi itu dengan minyak, mengganti popoknya dan memberinya baju baru. Dia menjadi salah seorang manusia yang paling dicintai oleh Ȃsiyah dan para pelayannya, dan dia juga dicintai oleh setiap anggota pengiring Firʽaun yang kebetulan melihatnya. Ini menjelaskan makna firman Allah SWT.:

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي [طه: ٣٩]

Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku (QS Tha Ha (20) :39) Dikatakan bahwa siapa pun yang memandang ke mata Mûsa pasti jatuh cinta kepadanya. Kemudian Dia mengembalikannya kepada ibunya dan membesarkannya di istana Firʽaun, bertentangan dengan kehendak Firʽaun sendiri, yang terbukti tidak mampu membinasakannya. Apabila seseorang telah dipilih dan dipelihara oleh Tuhan untuk Diri-Nya sendiri, bagaimana bisa orang membinasakannya?

Bagaimana bisa orang membantainya? Bagaimana bisa air menenggelamkannya? Dia dijaga dalam penjagaan-Nya dan berbicara dengan-Nya secara langsung. Apabila seseorang dicintai oleh Tuhan Yang Maha Benar, siapa yang bisa membencinya? Siapa yang bisa mendatangkan bahaya kepadanya? Siapa yang mampu menelantarkannya? Siapa yang bisa menjadikannya kaya? Siapa yang bisa menjadikannya miskin? Siapa yang bisa mengangkatnya ke derajat yang tinggi? Siapa yang akan mampu memecatnya? Siapa yang bisa mendekatkannya? Siapa yang akan mampu menjauhkannya?

Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu kedekatan-Mu. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mengabdi dan taat kepada-Mu, ke dalam kalangan mereka yang bertakwa sepenuhnya kepada-Mu, dan ke dalam kalangan tentara-Mu. Izinkanlah kami duduk di tikar dimana makanan anugerah-Mu disuguhkan, dan izinkanlah kami memuaskan dahaga kami dengan minuman persahabatan akrab-Mu. Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS Al-Baqarah (2) :201)”. (Dikutip dari kitab Jala Al-Khathir, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani). 

2). NASIHAT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI UNTUK JIWA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasihat: “Allah Azza wa Jalla telah menetapkan keimanan di dalam kalbu kaum Mukminin sebelum Dia menciptakan mereka. Ini adalah masa lalu. Kita tak boleh terpaku pada masa lalu dan bersikap tawakal terhadap masa lalu. Tetapi, kita mesti bersungguh-sungguh, berusaha, dan mengarahkan sikap zuhud. Kita harus bersungguh-sungguh dalam menghasilkan keimanan dan keyakinan, menggunakan anugerah Allah Azza wa Jalla dan senantiasa melazimkan duduk bersimpuh di pintu-Nya.

Dengan demikian hati kita senantiasa bersungguh-sungguh di dalam menggapai keimanan, sehingga mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menganugerahkan sesuatu kepada kita tanpa harus bekerja keras dan tanpa mengalami keletihan. Ya Allah, hindarkanlah kami dari segala sesuatu selain Diri-Mu dan hadirkanlah kami bersama-Mu. Ya Allah ya Tuhan kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani)

3). APAKAH KITA PUNYA WAKTU KHUSUS?

Rasulullah SAW bersabda: “Aku punya waktu khusus dengan Allah; dimana malaikat terdekat dan nabi yang diutus pun tidak punya kesempatan itu”. (HR Ibnu Rahawaih).  Saya menemukan hadis ini dalam kitab Sirrul Asrar karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, pada bagian muqaddimah kitab. Beliau menjelaskan tentang Ruhul Qudsi atau Tiflul Ma'ani (bayi maknawi), yakni kalbu yang suci, bersih, dan halus yang mampu merasakan nikmatnya musyahadah langsung kepada Allah. Di tingkat ini, badan dan ruh jismani--memang tidak mampu berhubungan secara langsung kepada Allah. Karena bukan mahramnya Allah. Mahramnya Allah itu Tiflul ma'nawi atau al-insan haqiqi.

Menurut Syekh, yang dimaksud "nabi yang diutus" pada hadis tersebut adalah basyariyah Nabi atau nabi secara manusia. Adapun yang dimaksud dengan "malaikat terdekat adalah ruhaniah Nabi SAW yang diciptakan dari cahaya sebagaimana malaikat juga dicipta dari cahaya.

Untuk masuk dan menjelaskan maqam seperti itu, saya tak bisa berandai-andai, sebab itu harus dijelaskan oleh orang yang sudah memahami dan mengenal apa itu al-insan haqiqi. Hadis ini bagi saya sudah cukup untuk menjadi garis panduan tentang bagaimana Rasulullah secara khusus memiliki waktu khusus dan kesempatan khusus secara pribadi untuk berkomunikasi dan bermunajat secara langsung kepada Allah.

Waktunya, boleh jadi malam, pagi siang, atau sore. Itu pasti Rahasia nubuwwah. Namun, sebagai pengikut sunnah Rasulullah, tentu kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran bahwa kita pun bisa memiliki waktu khusus bersama Allah ketika shalat, zikir, berdoa, bermunajat atau ketika bertawajjuh.Tentu sesuai tingkatan yang kita bisa capai. Intinya, kita sendiri yang berusaha untuk mendekat dan mendekat kepada-Nya, secara khusus, pribadi atau sangat personal antara kita dan Allah.

No comments:

Post a Comment