Tuesday, May 17, 2016

JALALUDIN RUMI, ARAK MENJADI CUKA

Jalaludin Rumi mengundang Gurunya Syamsuddin Tabriz rumahnya. Untuk menghormati gurunya, Jalaludin Rumi mengadakan jamuan makan malam. Setelah semua hidangan makan malam telah dihidangkan di hadapan mereka berdua. Maka Syamsuddin Tabriz bertanya pada murid kesayangannya itu: Jalaludin Rumi Menjamu Sang Guru: “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (khamr)

Rumi kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’. “Iya”, jawab Syams. Jalaludin Rumi masih terkejut, “maaf, saya tidak mengetahui hal ini”. “Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”. “Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan khamr?”. “Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”. “Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”. “Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”. “Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”. “Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani. Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang. Mereka melihat Jalaludin Rumi masuk ke sebuah kedai Khamr. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar. Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam Solat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman”. Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Jalaludin Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli Khamr dan akan dibawa pulang”. Wajah Rumi diludahi mereka dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Ketika Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, mereka semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya. Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu, kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan”. Seseorang dari mereka masih mengelak. “Ini bukan cuka, ini khamr”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”. “Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan  botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat. Ambilah manfaat dari kisah ini, silakan disimpulkan sendiri. 

No comments:

Post a Comment