Friday, May 27, 2016

MEMBERI SALAM

Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz (Semoga Allah selalu menjaganya dan terus memberikan manfaat bagi ummah melalui ilmu dan akhlaknya, aamiin):


ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Segala Puji Syukur kepada Allah yang telah menuntun kita menuju Jalan yang lurus dan benar.


Imam al Haddad pernah berbicara tentang satu hal yang paling penting dan beradab dalam Islam; 'memberi salaam’. Beliau berkata bahwa 'Salaam' adalah ucapan selamat ummat Islam, lambang ummat Islam dan adalah sapaan penghuni jannah. Allah berfirman:


ﺗَﺤِﻴَّﺘُﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻧَﻪُ ﺳَﻠَﺎﻡٌ
 Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salaam:


ﺳﻼﻡ ﻗﻮﻻ ﻣﻦ ﺭﺏ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

"(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”.

Lambang ini (salaam) memiliki makna yang sangat dalam. Pahala telah ditetapkan bagi pengguna salaam, dan orang berilmu telah faham apa manfaat yang terkandung dalam salaam. Jika kita menyapa “Assalamu alaykum”, 10 pahala kebaikan tertulis untuk kita, dan kalau ditambah “wa rahmatullah” pahalanya menjadi 20, kemudian akan menjadi 30 kalau kita tutup salaam dgn “wa barakatuhu”. Hanya dengan mengucapkan sebaris kalimah sederhana ini, 30 pahala abadi dihadiahkan buat kita. (Seorang sahabat datang menemui Nabi s.a.w dan berucap “assalamu alaikum” dan Nabi menjawab salamnya sembari berkata asyra (10), sahabat lain datang dengan “assalamualikum warakhmatullah” dan Nabi s.a.w kembali jawab dan berkata 20, lalu sahabat ketiga masuk dan menyapa “assalamualikum warakhmatullah hiwabarokatuh” nabi s.a.w menerimanya dan berkata 30).

Salaam berarti Perdamaian dan Amaanah (kesetiaan dan keselamatan). Jadi jika kita menyapa dengan salaam berarti kita pada dasarnya tengah mendoakan kedamaian dan keselamatan bagi mereka yang menerima salam kita. Sehingga mereka aman dari prasangka buruk kita, atau kita tidak akan merugikan mereka, atau menipu mereka atau menyakiti mereka dengan cara apapun!!!.

Jika kita berucap assalamu-alaykum, tapi kemudian ber suudzon pada mereka, atau berbohong kepada mereka, atau menipu mereka, maka kita telah membantah diri sendiri dalam memberikan mereka ucapan dari salaam dan Kita tidak jujur dalam ucapan Kita. Bagaimana kita bisa mengatakan assalamu alaikum-dan kemudian mengkhianatinya? Bagaimana kita bisa mengatakan assalamu alaikum-dan kemudian menipunya? Ini adalah konsep yang sudah mengakar dengan orang Arab selama berabad-abad. Jika mereka berniat perang atau pembunuhan maka mereka tidak akan memberikan ucapan salam. Jika mereka memberi salaam maka mereka harus menjauhkan diri dari memukul, menyakiti atau membunuh. 

Dan jika seseorang masuk dan tidak menyapa dengan salam maka mereka akan memperingatkan bahwa ada masalah besar di tangan orang itu. Tapi jika dia mengatakan "assalamu alaikum-" maka mereka akan tahu bahwa masalah ini telah dipecahkan! Ini adalah pemahaman mereka tentang salaam itu. Namun, apa yang disebut orang berbudaya pada zaman sekarang tidak menghargai makna ini dan ia menyapa dengan "assalamu alaikum-" tapi kemudian ia mungkin menipu Anda atau memukul Anda atau bahkan membunuh Anda. Mereka telah kehilangan makna dan nilai salaam yang hakiki. Mereka tidak tahu nilai dan makna kata-kata dalam salaam.

Allah menjadikan pengucapan salaam sebagai ekspresi keyakinan (iman) dan Islam. Dan orang yang menyambut / menjawab Anda dengan salaam itu juga harus dianggap sebagai dari kalangan umat Islam. Allah Subhanahu Wa Ta'Ala berfirman: “dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin” (Surat An-Nisa 94).

Ada beberapa hadits yang telah diriwayatkan sebagai penyebab turunnya wahyu ayat ini. [Telah diriwayatkan bahwa, "Seorang pria dari Bani Sulaim, seorang penggembala kawanan domba, melewati beberapa tentara muslim dan mengucapkan salaam kepada mereka. Mereka tentara / sahabat mengatakan (satu sama lain), "dia hanya mengucapkan salaam untuk melindungi diri dari kita" Kemudian mereka menyerang dan membunuhnya. Mereka membawa domba-dombanya kepada Nabi s.a.w, dan ayat ini diturunkan. (Diambil dari tafsir Ibnu Katsir)

Dalam riwayat lain, "Rasul Allah s.a.w mengirim sekelompok utusan termasuk Muhallam bin Juthamah menuju Idam. Ditengah perjalanan mereka melewati` Amr bin Al-Adbat bersama hewan hewan untanya. Ketika ia melewati mereka, Amr mengucapkan salaam kepada mereka, tetapi karena ada beberapa masalah pribadi sebelumnya dengan dia, Muhallam bin Juthamah membunuhnya dan mengambil untanya. Ketika mereka kembali ke Rasulullah s.a.w dan menceritakan apa yang telah terjadi, ayat ini diturunkan tentang mereka. (diambil dari tafsir Ibnu Katsir)]. 
Kejadian ini membuat Nabi s.a.w sangat kecewa dan menyesali tindakan Muhallam bin Juthamah. 


Dan ketika ia pergi menghadap Nabi s.a.w mencari pengampunan, Nabi s.a.w menjawab kepadanya: "Apakah Anda membunuhnya setelah ia menyambut Anda dengan salaam itu? Sungguh! Allah tidak mengampuni Anda! Allah tidak mengampuni Anda! Allah tidak mengampuni Anda!" Muhallam meninggal tak lama setelah itu dan ketika mereka menguburnya, Bumi menolaknya, dan ia dikuburkan lagi dan Bumi berulang kali menolaknya. Ketika mereka memberitahu Nabi s.a.w dari kejadian ini, nabi berkata; "Memang Bumi menerima orang yang lebih jahat dari dia, tapi Tuhan ingin menunjukkan kepada Kalian kesucian kehidupan seorang Muslim”. Ini adalah pelajaran yang sangat dalam tentang arti dan makna dari "salaam" bagi umat Islam, makna lahir dan batin, luar dan dalam dan kenyataan bahwa banyak dari kalangan Muslim zaman sekarang yang telah kehilangan makna dan arti salaam yang sejati.


ﺍﻟﻠّﻬﻢّ ﺻﻞِّ ﻋﻠﻰ ﺳﻴّﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤّﺪٍ ﻭﺁﻟﻪ

ﻭﺻﺤْﺒﻪ ﻭﺳﻠِّﻢ

Berkata Ulama’ sejatinya seorang muslim itu banyak mengucap salam kepada saudara-saudaranya manakala bertemu dengan mereka. bahkan jika ia pergi sebentar dan kembali lagi maka ulangi lagi mengucap salam. Ucapkanlah salam kepada orang yang ia kenal dan kepada orang yang ia tidak kenal, ucapkanlah salam kepada orang yang lebih besar dan kepada orang yang lebih kecil.

Jangan mengucap salam kepada perempuan Muda yg cantik. Jika si perempuan itu mengucap salam maka jawablah. Jika ia mengetahui bahwa jika mengucap salam kpd seseorang ia tak akan menjawabnya maka janganlah mengucap salam kepada nya. Mengucap salam adalah sunnah, dan menjawab nya adalah Wajib. Barangsiapa yang suka dan ingin mengetahui lebih banyak tentang hukum-hukum salam, maka hendaklah ia merujuk kepada Kitab (Al-adzkar oleh imam Nawawi) di sana luas dan lebih panjang penjabarannya. Sumber: Rawhah tgl 3 Ramadhan 1436.

No comments:

Post a Comment