Friday, May 27, 2016

TUJUH KOTA ATAU WILAYAH NAFAS DALAM DIRI MANUSIA

oleh : As Syaikh Bahauddin An Naqsyabandi ra - Pendiri dan Al Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah. Beliau, As Syaikh Bahauddin An Naqsyabandi ra - menggambarkan setiap stasiun di dalam diri manusia sebagai kota/wilayah, satu sama lainnya saling menempati. Bacalah dengan membawa diri kita sebagai pelaku pengembara dalam setiap Kota/Wilayah yang digambarkan, agar kita mendapatkan makna didalamnya untuk diri kita sendiri, sehingga kita dapat mengetahui dimanakah kita sekarang ini berada.

BAHAGIAN I - NAFAS TIRANI: 

Bagaikan dalam mimpi, aku tiba pada sebuah kota yang gelap. Kota tersebut sangatlah luas, aku tidak dapat melihat maupun membayangkan batasnya. Kota tersebut dihuni oleh manusia dari berbagai bangsa dan ras. Seluruh perilaku buruk dari setiap mahluk hidup, seluruh dosa, baik yang kuketahui maupun yang tidak berada di sekelilingku. Apa yg kuamati membawaku pada pemikiran bahwa sejak semula cahaya matahari kebenaran tidak pernah menyinari kota ini. Tidak hanya langit, jalan2, maupun rumah2 di kota tersebut berada di dalam gelap gulita, tetapi para penduduknya, yang bagaikan kelelawar, memiliki pikiran dan hati segelap malam. 

Sikap amaliah dan perilaku mereka bagaikan anjing liar. Bergumul dan berkelahi satu sama lainnya untuk sesuap makanan, terobsesi oleh nafsu buruk dan amarah, mereka saling menghancurkan dan membunuh. Kesenangan utama mereka hanyalah bermabuk2kan dan melakukan hubungan seks tanpa membedakan laki-laki dan wanita, isteri dan suami, atau yang lainnya. Berbohong, berbuat curang, bergunjing, memfitnah, dan mencuri adalah tradisi mereka, tanpa sedikitpun perduli terhadap org lain. Mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran dan rasa takut kepada Tuhan. Banyak di antara mereka menyebut dirinya sebagai Muslim. Bahkan, sebagian dari mereka dianggap sebagai org bijak seperti para Syaikh, Guru, Cendikiawan dan Penceramah. Penduduk kota ini memberitahu kepada ku bahwa kota ini bernama "KOTA/WILAYAH AMARAH", kota kebebasan, tempat setiap org melakukan apa yg mereka sukai.

Aku menanyakan pula siapa nama penguasa kota tersebut. Penduduk kota ini berkata bahwa sang penguasa kota ini bernama "YANG MULIA KEPANDAIAN", ia seorang Astrolog, Ahli Sihir, Insinyur, Ahli Fiqih, Dokter yang memberikan kehidupan pada seseorang yang akan meninggal dunia, seorang Raja terpelajar yang terpandai dan tidak ada duanya di dunia ini, orang-orang Jenius, Profesor, Doktor, Analis, Presiden, Pejabat, dsb. Para Penasehat dan Menterinya disebut "LOGIKA", para Hakimnya bergantung kepada "HUKUM RASIONALITAS KUNO", para Pelayannya disebut "IMAJINASI DAN KHAYALAN". Seluruh penduduknya sepenuhnya setia kepada penguasanya, tidak hanya menghormati dan menghargainya serta setia kepada pemerintahannya, tetapi juga mencintainya, sebab mereka semua merasakan persamaan sifat, adat istiadat dan perilaku.

Aku pergi menemui sang penguasa "YANG MULIA KEPANDAIAN", dan memberanikan diri untuk bertanya,"bagaimana mungkin para penduduk yang berpengetahuan dari kerajaanmu ini tidak berkelakuan sesuai dengan pengetahuan mereka dan tidak merasa takut terhadap Tuhan ?, bagaimana mungkin tidak seorang pun di kota ini takut terhadap hukuman Tuhan, sementara mereka takut akan hukuman dari mu ?, bagaimana mungkin rakyatmu berperawakan layaknya seorang manusia, namun sifat mereka bagaikan bianatang buas dan liar, dan bahkan lebih buruk lagi ?”. "YANG MULIA KEPANDAIAN" menjawab, "Aku.. seorang yang mampu mengusahakan keuntungan pribadi dari dunia ini, walaupun keuntunganku adalah kerugian bagi mereka, dan itu adalah teladan bagi mereka. Aku memiliki utusan di dalam diri mereka masing-masing. Mereka adalah hamba-hambaku, dan hamba-hamba dari para utusanku yang berada di dalam diri mereka, namun aku juga memiliki seorang guru yang membimbingku, dialah IBLIS.

BAHAGIAN II - NAFAS YANG PENUH PENYESALAN: 

Aku yang melalui kota/wilayah NAFS TIRANI memohon kepada sang Raja "YANG MULIA KEPANDAIAN" untuk diizinkan mendatangi sebuah wilayah dengan sebuah istana besar yang berada di tengah kota. Sang Raja "YANG MULIA KEPANDAIAN" menjawab,"Aku juga berkuasa atas wilayah istana tersebut. Wilayahnya disebut “PENYESALAN". Di dalam wilayah "PENYESALAN", imajinasi tidak memiliki kekuatan mutlak. Mereka juga melakukan apa yang disebut sebagai dosa. Mereka melakukan perzinaan, mereka memuaskan syahwat/seks mereka, baik dengan laki-laki maupun perempuan, mereka minum khmar/alkohol, mereka berjudi, mencuri, membunuh, bergunjing, dan memfitnah sebagaimana penduduk "NAFS TIRANI", namun sering juga mereka menyadari perbuatan mereka, kemudian mereka menyesal dan bertaubat.

Aku bertemu dengan seorang cedikiawan di wilayah ini, ia menegaskan bahwa mereka berada di bawah kekuasaan "YANG MULIA KEPANDAIAN", namun mereka memiliki administrator2sendiri, yang bernama "KEANGKUHAN, KEMUNAFIKAN DAN FANATISME”. Di antara para penduduk banyak yang tampak seakan-akan suci, taat, soleh dan lurus. Aku mendapati mereka dicemari oleh keangkuhan, egoisme, dengki, ambisi, kefanatikan, dan di dalam persahabatan mereka ada ketidak tulusan, yang terbaik dari mereka adalah bahwa mereka berdoa dan berusaha mengikuti perintah Tuhan, karena mereka takut akan hukuman Tuhan dan takut pula akan Neraka. Setelah menyusuri wilayah itu, aku melihat lagi sebuah wilayah dengan sebuah istana lain lagi, aku bertanya mengenai istana tersebut kepada salah seorang penduduk yang terpelajar. Ia mengatakan bahwa wilayah istana tersebut di kenal sebagai wilayah "CINTA DAN ILHAM". Saya bertanya mengenai siapakah penguasa wilayah tersebut, dikatakannya bahwa penguasanya bernama "YANG MULIA KEARIFAN" yg memiliki seorang wakil yg bernama "CINTA".

Penduduk terpelajar tersebut berkata,"Jika salah satu dari kami memasuki wilayah CINTA DAN ILHAM tersebut, maka kami tidak menerimanya kembali ke kota/wilayah kami. Karena siapapun yang telah pergi dan masuk kesana akan berubah layaknya para penduduk wilayah itu, siapapun akan sepenuhnya terikat pada wakil penguasa wilayah itu, dan siap mengorbankan apapun terhadap seluruh yang mereka miliki, harta kekayaan mereka, keluarga serta anak-anak mereka, bahkan kehidupan mereka. Itu semua demi sang wakil penguasa wilayah itu yg bernama CINTA."

Ia melanjutkan,"Raja kami, YANG MULIA KEPANDAIAN, melihat bahwa sifat-sifat tersebut sama sekali tidak dapat diterima. Ia takut akan pengaruh dari mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut, karena baik kesetiaan maupun tindakan mereka tampak tidak logis dan tidak diterima oleh akal sehat”. Sang Raja berujar,"Kami mendengar bahwa penduduk wilayah CINTA DAN ILHAM tersebut menyebut-nyebut nama Tuhan, bersenandung, dan bernyanyi, bahkan di iringi oleh seruling, rebana, dan gendering, dan mereka melakukan hal tersebut hingga kehilangan kesadaran mereka dan masuk ke dalam Ekstase (para darwis/sufi yang bersenandung memuji Tuhan). Maka, para pimpinan Keagamaan dan Teologis kami melihat bahwa hal tersebut tidaklah dapat diterima. Karenanya, tidak satu pun dari mereka yang bahkan bermimpi untuk menginjakkan kaki di wilayah CINTA DAN ILHAM"

BAHAGIAN III - NAFAS YANG TERILHAMI: 

Wilayah "CINTA DAN ILHAM" adalah sebuah wilayah yang kompleks, dengan wilayah positif dan negatif. Egoisme dan kemunafikan masih merupakan hal yang sangat berbahaya pada tingkat ini. Aku memasukinya, dengan semata-mata mengucapkan kalimat "Laa Ilaaha Ilallah - Tiada Tuhan Selain Allah”. Tak lama kemudian, aku menemukan pondokan para darwis/sufi. Di tempat tersebut aku melihat golongan atas dan bawah, kaya dan miskin, seolah-olah satu. Aku melihat mereka saling mencintai dan menghargai, melayani satu sama lain dengan hormat dan santun, dalam keadaan gembira yg tak ada hentinya.

Mereka berbincang-bincang dan bernyanyi, nyanyian dan perkataan mereka memikat hati, indah dan selalu berkenaan dengan Tuhan, alam akhirat, spritualis dan lepas dari segala kecemasan dan penderitaan, bagaikan hidup di alam surga. Aku tidak mendengar atau melihat apapun yang menyerupai perselisihan ataupun pertengkaran, tida ada yang membahayakan ataupun merusak. Tidak ada tipu daya ataupun kedengkian, kecemburuan, maupun gunjingan. Aku tiba-tiba merasakan kedamaian, kenyamanan dan kebahagiaan di tengah-tengah mereka.

Aku melihat seorang tua, kepekaan dan kearifan memancar melalui matanya. Aku tertarik padanya dan kemudian menghampirinya, "Sahabat, aku seorang pengembara yang papa, dan dalam keadaan sakit, yang sedang mencari obat penyakit kegelapan dan kealpaan. Adakah seorang dokter di wilayah ini yang dapat menyembuhkan diriku ini ?". Ia terdiam sejenak, aku menanyakan namanya, ia menyebut namanya sebagai "PETUNJUK". Kemudian ia berkata, "Nama kecilku KEBENARAN, sejak zaman dahulu, tidak satu pun kebohongan keluar dari bibirku, tugas dan wewenangku adalah menunjukkan jalan kepada mereka dengan tulus mencari kebersamaan dengan YANG MAHA TERCINTA.”

Sang orang tua tadi kemudian menggambarkan pada ku mengenai wilayah KAUM PENIRU yang berada di dalam wilayah ini. Ia berkata,"inilah wilayah kaum munafik, yang menirukan bentuk luar dari pemujaan dan ajaran spiritual tanpa pemahaman batiniah. Dokter ahli yang engkau cari guna menyembuhkan penyakitmu itu tidak berada di wilayah ini. Tidak pula toko obat yang menyediakan obat untuk penyakit lalai, kegelapan hati, mereka sendiri disini sebenarnya sakit dengan penyakit diri mereka sendiri. Mereka menyebut diri mereka sebagai Kekasih Tuhan, namun hanya menjadi Tuan Peniruan”. “Mereka menyembunyikan tipu daya, sikap munafik, dan kedengkian dengan sangat baik. Walaupun lidah mereka tampak mengucapkan doa-doa dan nama-nama Tuhan, dan engkau kerap menemukan mereka berada di tengah kumpulan para darwis/sufi. Engkau tidak akan menemukan pada mereka obat untuk menyembuhkan penyakit kelalaian dan kealpaan."

BAHAGIAN IV - NAFAS YANG TENTERAM: 

(dalam manuskrip beliau - As Syaikh Bahauddin An Naqsyabandi ra menggambarkan Orang Tua yang ditemukan oleh pengembara pada Bagian III - NAFS YANG TERILHAMI adalah bahasa lain dari seorang Syaikh Mursyid/Waliyam Mursyida, yang dinamakan juga sebagai PETUNJUK. Beliau juga memberikan catatan bahwa pekerjaan lain yang diperlukan dalam tingkat wilayah ke IV ini adalah dengan mengurangi perasaan terpisah dari Tuhan dan mulai menyatukan beragam kecenderungan yang telah dibangun). Orang Tua itu mengirim aku untuk memasuki wilayah NAFS YANG TENTRAM, wilayahnya Para Pejuang Spiritual.

Aku mengikuti nasehatnya dan pergi ke wilayah itu. Orang-orang yang kutemui di sana berperawakan kurus dan lemah, lembut, bijaksana, bersyukur, taat beribadah, patuh, berpuasa, merenung dan bermeditasi. Kekuatan mereka terletak pada pengamalan akan hal-hal yang mereka ketahui. Aku mendekati mereka, dan melihat bahwa mereka telah meninggalkan sifat-sifat buruk akibat sifat-sifat mementingkan diri sendiri, dan dari bayangan-bayangan alam bawah sadar mereka. Aku ikut bertempur dengan Egoku siang dan malam, namun tetap saja aku menjadi seorang Politeisme yang banyak "Diriku" dan "Aku" yang saling bertengkar walaupun menghadap kepada Tuhan Yang Satu. Hal ini, yakni penyakitku yang menjadikan banyaknya "Aku" sebagai mitra Tuhan, membentuk bayangan yang tebal di atas hatiku, menyembunyikan kebenaran, dan membuatku terjebak di dalam kelalaian yang fatal.

Aku memberitahu mereka - Para Pejuang di wilayah ini, yang kuanggap sebagai Dokter, mengenai penyakitku, yakni Politeisme yang tersembunyi, kelalaian yang fatal dan memprihatinkan serta kegelapan hati, aku pun meminta pertolongan mereka. Mereka berkata kepadaku, "Bahkan di wilayah ini, tempat orang-orang bertempur dengan ego mereka, tidak ada obat bagi penyakitmu itu.” Mereka menyarankan aku untuk tetap terus berjalan, menuju ke wilayah yang bernama Permohonan dan Tafakur (NAFS YANG RIDHA). Mungkin saja di sana, menurut mereka, akan ada orang yang dapat menyembuhkan penyakitku. Dgn izin dari Org yg telah kutemukan sebelumnya, aku pun melanjutkan perjalan menuju wilayah yang disarankan oleh orang-orang di wilayah ini.

BAHAGIAN V - NAFAS YANG RIDHA: 

Aku memasuki wilayah "NAFS YANG RIDHA" atau dengan nama lain wilayah "MEDITASI (TAFAKUR)". Ketika aku sampai di sana, aku melihat para penduduknya terlihat demikian tenang dan damai, mengingat Tuhan secara terus menerus, melantunkan nama-nama Nya yang indah dan agung. Perilaku mereka begitu lembut dan penuh sopan santun. Mereka hampir tidak pernah berbicara sebab takut akan saling mengganggu dalam melakukan meditasi yang khusyuk. Mereka begitu ringan bagaikan bulu burung, namun mereka takut akan membebani orang lain. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di wilayah ini, akan tetapi, aku belum juga sembuh dari penyakit Dualisme "AKU" dan "DIA" yang masih membentuk bayangan tebal di atas hatiku. Air mataku mengalir deras. Dalam keadaan teramat sedih, lemah, dan sangat terpesona, aku terjatuh dalam suasana yang aneh, ketika lautan kesedihan terasa menyeliputi dan mengelilingi ku.

Saat aku berdiri dengan perasaan tidak berdaya, sedih, tak sadar, muncullah seseorang yang tampak amat Tampan bermandikan cahaya. Ia menatapku dengan mata yang penuh kasih sayang dan berkata kepadaku: ”wahai budak dirinya yang papa, yang dalam pengasingan di tanah yang asing.. wahai pengembara yang jauh dari kampung halaman, wahai engkau yang berduka, engkau tidak akan menemukan obatmu di wilayah ini. Tinggalkanlah tempat ini, pergilah ke wilayah nun jauh lagi di sana. Nama wilayah itu adalah wilayah "PENAFIAN DIRI (FANA')". Di sana engkau akan menemukan obat yang engkau cari, Dokter yang telah menafikan diri mereka..” "Mereka tidak memiliki raga, yang mengetahui rahasia "Jadilah Tiada, Jadilah Tiada, Jadilah Tiada, maka Kau akan Ada, Kau akan Ada, Kau akan Ada, maka Kau menjadi Ada selamanya.."

BAHAGIAN VI - NAFAS YANG RIDHAI TUHAN: 

Segara aku berangkat menuju wilayah "PENAFIAN DIRI(FANA')". Aku melihat para penduduknya membisu, terdiam seolah-olah mati, tanpa kekuatan di dalam dirinya untuk melontarkan sepatah kata pun. Mereka telah meninggalkan harapan untuk memperoleh keuntungan dari berbicara, dan siap menyerahkan jiwa mereka pada malaikat maut. Mereka sama sekali tidak perduli dengan keberadaanku. Bahkan, di tempat itu, di tengah-tengah mereka, aku merasakan penderitaan yang pedih. Namun, ketika aku hendak menggambarkan gejala penyakitku ini, aku tidak dapat menemukan raga ataupun eksistensi yang dapat kukatakan sebagai "ini tubuhku" atau "ini aku".

Kemudian, aku tahu bahwa untuk mengatakan "raga ini milikku", adalah sebuah kebohongan, dan berbohong adalah dosa bagi setiap manusia. Dan aku tahu bahwa bertanya mengenai Pemilik Sejati apa yang disebut sebagai "milikku" adalah syirik yang tersembunyi yang justeru ingin kulenyapkan dari diriku. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Aku merasa putus asa, jika kaku harus berdoa kepada-Nya dan berkata "Ya Tuhan", maka akan ada dua "Aku dan Dia", zat yang pada-Nya aku memohon pertolongan atas kehendak yang dikehendaki, hasrat yang dihasrati, pecinta dan yang dicintai, sungguh begitu banyak. Aku tidak mengetahui obatnya.

Ratapan tersebut membuat iba Malaikat Pemberi Ilham, yang membacakan padaku KITAB ILHAM TUHAN, "mula-mula fana'kanlah tindakan-tindakanmu". Ia memberikan itu sebagai hadiah. Ketika ku ulurkan tangan untuk menerima hadiah itu, kulihat tiada tangan. Ia hanyalah campuran air, tanah, angin dan api. Aku tidak memiliki tangan untuk mengambil hadiah itu. Aku tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Hanya satu yang memiliki kekuatan, yaitu YANG MAHA KUAT. Tindakan apapun yang muncul melaluiku, maka ia adalah milik YANG MAHA KUASA. Seluruh kekuatan, seluruh tindakan, kuserahkan kepada-Nya, dan kuserahkan segala yang terjadi padaku dan melaluiku di dunia ini.

Kemudian aku berdoa untuk meninggalkan sifat-sifatku, yakni sifat-sifat yang membentuk kepribadian seseorang. Ketika aku lihat, apa yang aku saksikan bukanlah milikku. Ketika aku bicara, apa yang kukatakan bukanlah pula milikku. Tak satupun adalah milikku. Sama sekali tidak berdaya, aku dilepaskan dari seluruh sifat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, yang membedakan aku dari sifat-sifat luar dan dalam yang telah menjadikan diriku sebagai "Diriku". Dengan seluruh raga, perasaan dan ruhku, aku menganggap diriku sebagai sesuatu yang suci. Kemudian aku merasa bahwa ini adalah "DUALITAS", bahwa bahkan esensiku telah diambil dariku, aku masih saja menginginkan dan mengharapkan diri-Nya. Aku merasakan makna dari "mereka yang mengharapkanku adalah hambaku yang sejati".

Wahai Tuhan Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu, yg Terdahulu dari yg terdahulu, Terkini dari yg terkini serta atas semua yg wujud dan yg tersembunyi, Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Semuanya menjadi wujud di dalam misteri hatiku. Bahkan, setelah itu aku berharap bahwa misteri "MATI SEBELUM MATI" mewujud dlm diriku. Ooh.. terkutuklah, kembali "DUALITAS" yg tersembunyi dariku muncul di dlm diriku. Hal ini juga tentunya bukanlah kebenaran.

BAHAGIAN VII - NAFS YANG SUCI: 

Segelintir orang yang mencapai tingkat pada wilayah ini, yang telah melampaui diri secara utuh. Tidak ada lagi ego ataupun diri. Yang tertinggal hanyalah kesatuan dengan Tuhan. Inilah kondisi yang dinamakan "MATI SEBELUM MATI”. Penyakit apakah yang menyebabkan rasa sakit yang pedih ketika aku bergerak, mengharap, memohon pertolongan, berdoa dan mengiba? Kondisi aneh apakah yang di dalamnya aku terjerumus, yang sulit untuk dijelaskan? Merasa tak berdaya, aku menyerahkan semua ini kepada Pemiliknya dan menanti di Pintu Gerbang Kepasrahan, di dalam perihnya Kematian, lumpuh, tanpa Pikiran ataupun Perasaan, seolah-olah Mati, mengharapkan Kematian menjemputku pada setiap hembusan nafasku. Menurut nasehat,"Mintalah fatwa pada hatimu", aku menyuruh hatiku untuk membimbingku, Ia berkata,"Selama masih ada jejakmu di dalam dirimu, kau tidak akan mendengar seruan dari Tuhanmu "Datanglah kepadaKu".

Aku mencoba berfikir,"Pikiranku tidak dapat berpikir, akhirnya aku tahu, pemikiran tidak dapat menjangkau Misteri Ilahiah. Bahkan, pengetahuan tersebut tercabut begitu saja, ketika DIA datang kepadaku. Beliau - As Syaikh ra menutup: ”Wahai Para Pencari !, apa yang kukatakan di sini tidaklah untuk memamerkan yang kuketahui. Karenanya, ia akan diberitakan kepadamu hanya setelah aku tiada diantara kalian”. “Ia diperuntukkan bagi para Pencari Kebenaran, Para Pecinta yang mendamba YANG MAHA TERCINTA, sehingga mereka dapat menemukan di dalam kota/wilayah manakah mereka berada, dan penduduk kota/wilayah manakah yang menjadi kawan mereka”. “Ketika, dan jika tulus, mereka memahami tempat mereka, mereka akan beperilaku sesuai denganya, dan mengetahui arah gerbang kenikmatan bersama Tuhan, untuk kemudian ber SYUKUR kepada Nya”. SELESAI.

No comments:

Post a Comment