Monday, May 30, 2016

TUHAN ITU AKU TAPI AKU BUKAN TUHAN

Meneruskan diskusi tentang Tuhan ,…. Yang pertama yang perlu digarisbawahi adalah: Tuhan adalah Tuhan. Tuhan bebas definisi, karena yang dinamakan definisi adalah pembatasan bahasa manusia. Tuhan Yang Tidak Terdefinisikan tersebut adalah “Das Umgreifende” (Karl Jaspers) yang berada di luar sekaligus di dalam batas-batas kesadaran –yang berawal dari pengalaman indera, rasio budi manusia itu sendiri. Ia bisa dialami dengan semua alat epistemologis manusia, Insya Allah…

Okelah, kita semua sepakat bahwa Tuhan adalah Causa Prima (Aristoteles), sebab yang tidak disebabkan lagi, sebuah asas Tunggal yang paling awal sebagai “dasar” dimana semua bergantung –Dia adalah substansi, esensi, hakekat: (sub — stare: berada di “bawah” sebagai dasar kenyataan). Ini, menurut saya, hanyalah setetes bahasa manusia dari samudera Ketuhanan yang bisa dicerap oleh akal budi manusia. Ide tentang Tuhan ini tak akan pernah selesai untuk dibahasakan, dirumuskan, dihayati.

Tuhan pada dirinya sendiri (das Ding an Sich) bukanlah Tuhan yang tertutup oleh tembok pengetahuan sekaligus kesadaran manusia, lho. Tuhan sangat terbuka untuk diketahui oleh setiap Makhluk (das Ding fur Mich) atau ada untuk diriku. Tuhan tidak misterius seperti maling yang menghilang setelah dia meninggalkan jejak karya. Lihatlah dengan kesadaran langit dan lautan…. itulah karya Tuhan, lihatlah si kere dan gila di ujung gang becek… itulah karya Tuhan, lihatlah anjing kotor busuk…itulah karya Tuhan… Karya Tuhan ada dimana-mana dan kapanpun kita selalu melihat-Nya. Ingat Tuhan tidak pemalu seperti manusia yang malu-maluin lho!

Apakah perlu mempertanyakan bagaimana wujud Tuhan? Wujud bukanlah dzat sebagaimana ilmu kimia mendefinisikan dzat cair, padat dan uap. Tuhan ya Tuhan. Dia tidak perlu ditanyakan wujudanya seperti apa. Karena Tuhan sudah jelas dengan sendirinya…(Seperti kita melihat mata kita sendiri dan dia tidak berjarak dengan kita?) maka Dia Jelas tanpa hijab apapun dan justeru karena kita menumpuk-numpuk pengetahuan yang salah maka akhirnya kita terpenjara oleh pengetahuan kita sendiri. Lantas apakah ada beda antara Tuhan sebagai Sang Pencipta dengan Makluk sebagai Ciptaan-Nya? Tidak ada dualisme. Tuhan adalah segala-galanya, yang awal yang akhir, yang dhohir dan yang batin. Yang dhohir bisa dilihat dengan panca indera sebagaimana yang tadi telah disampaikan. Yang batin bisa dirasakan eksistensinya. Tuhan dan alam semesta, Pencipta dan Ciptaan itu satu. Satu untuk semua–semua untuk satu.

Maka, pada satu terminal pencarian dan laku spiritual akan sangat bijaksana bila kita mengadakan revolusi cara berpikir kita. Sehingga cukup beralasan untuk berhenti beranggapan bahwa Tuhan yang jauh di langit ketujuh yang jaraknya ratusan bahkan ribuan triliun kilometer di atas sana. Tuhan itu ya berada dimana-mana dan tidak kemana-mana (dalam ruang dan waktu) oleh sebab itu kita semua inilah Tuhan. Biarlah Tuhan saja yang mencari dan melihat kita karena kita adalah Tuhan juga. Alhamdulillah…Ini sekaligus untuk memberi jawaban yang menanyakan apakah Tuhan berwujud kongkret dan bisa disaksikan dengan mata wadag. Jawabannya jelas. Yaitu bahwa Tuhan bisa dilihat dengan mata wadag manusia dan juga bisa dirasakan (kata Mas sabda: analoginya seperti getaran setrum listrik). Bukankah kita semua detik ini sedang berhadapan dan melihat Tuhan? dan seterusnya-dan seterusnya….

*(Hmmm…ini juga mendefinisikan Tuhan juga lho, jadi mohon dikoreksi karena saya juga terjebak juga untuk mendefinisikan Tuhan secara serampangan)

“Saving Madaness.. drawing near to God” begitu Plato pernah bilang saat menyaksikan orang gila pada suatu pagi. Kegilaan yang dimaksud beliau pasti bukan hilangnya kesadaran, melainkan sebaliknya sebuah kesadaran yang sudah tertinggi dan paripurna. Kesadaran menerobos tembus (Taddabbur) Ilahi..

Benar Mas Sabda. Melihat Tuhan tidak sama dengan melihat obyek yang berada di luar diri kita sebagai subyek. Sebab Tuhan itu Mata, Telinga, Mulut kita sendiri. Bagaimana kita bisa melihat mata mulut dan telinga kita sendiri?? pasti dengan kaca, refleksi dan CITRA. Maka manusia butuh CITRA ILAHI (IMAGO DEI untuk melihat Tuhan yang sejatinya adalah AKU kita.

Sehingga rumusannya menjadi sbb: Tataran makrifat: Tuhan itu subyek (aku) yang melihat obyek (engkau) dan tidak menDia-kanNya lagi (tataran Syariat) sehingga transendensinya menjadi “kita semua” TARAF SUPRA MAKRIFAT.

Namun yang perlu kita cermati bersama: Sebuah ayat di Kitab Suci saat menggambarkan sejarah Adam di Surga: KATA ADAM: Semua sujud kepadaku kecuali satu malaikat cerdas yang tak lain si Iblis. Lantas dimana Iblis/setan? Logikanya bila Semua (tanpa Adam) sujud kepadaKU (adam) kecuali siapa??? Adam sendiri… sehingga setan/Iblis berada dalam adam (Aku). Tidak diluar diri kita.

No comments:

Post a Comment