Monday, May 30, 2016

HABIB LUTHFI BIN YAHYA; CARA RIDHA (MENERIMA) QADHA ALLAH SWT

Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.

Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena gelombang tersebut.

Kita dididik untuk ‘menerima ridha’. Kalimat ‘menerima ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya, ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.

Maksudnya, karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar masih baik, seumpanya benar.

Begitu datang ke kiai, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab kiainya. “Dari sini…” jawab tamu. “Alhamdulillah,” kalau orang shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan ‘al-Mu’min akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”

“Kenapa begitu Kiai?” tanya tamu. “Iya, kan kelak di kubur ditanya setelah man Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir, ‘man ikhwanuka? siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab ‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat wal muslimina wal muslimat’.”

Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati

Orang yang tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuawahan/persaudaraan, kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya. Tapi kalau orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat, muslimin wal muslimat”.

Bahkan persaudaraan ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan, “Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?” Spontan dengan kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara, merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat kebaikannya. Tapi jarang, insyaAllah ada.

Padahal ketika kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A, kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.” Baik di sini artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.

Kalau mendengar orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya atau dalam majelis kita lupa menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.

Anaknya cantik atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini?” “Benar.” “Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?” “Iya, doakan saja.” “Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit alamarhum atau yang sudah meninggal, masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.

Tapi bagi orang yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu anak lelaki yang ingin meminang si A.” “Iya benar, kenapa?” “Alhamdulillah, syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah shahibul usil kalau bisa begitu.

Ada lagi anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” “Njeh Pak, saya sekarang di pesantren dan sekolah.” “Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!” Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting. Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan baik.

Orang yang bijak jawabnya lain, “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan meneruskan sekolah di situ.” “Iya Pak betul, doanya.” “Jangan khawatir! Saya bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.” “Lho kenapa Pak?” “Karena kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.

Ulama Seharusnya Menjadi Penenang

Nah ulama-ulama ini harusnya bisa menjadi penenang. Maaf, jangan menjadi orang yang suka menakut-nakuti. Ada orang datang (membawa) masalah, perut anaknya yang sudah besar. Mending kalau hamil, ternyata bukan perempuan melainkan anak laki-laki. Matanya sudah coklat, ini liver, hepatitis. Begitu datang, “Kiai, minta barokahnya supaya Allah memberikan kesehatan kepada saya.” “Sakitnya apa kata dokter?” “Katanya liver, hepatitis A, B atau C.” “Maka dari itu kamu makannya yang benar. Jangan makan melulu. Ini nih akibtanya, kena luh liver! Udah ingat mati baru datang ke kiai!” La ilaha illallah, ini mau cari penenang malah dimarahi.

Tapi orang (ulama) yang bijak lain lagi, “Kenapa kamu kok perutnya besar?” “Kata dokter hepatitis, Kiai. Obatnya sulit.” “Siapa bilang? Obat itu bukan Tuhan, penyakit bukan Tuhan, sembuh pun bukan Tuhan. Obat mencari sarana Allah supaya memberi kesembuhan, sebagaimana orang makan mencari kenyang, orang minum mencari pelepas dahaga. Kalau seumpanya beri’tiqad penyakit itu mematikan, itu syirik. Karena penyakit itu bukan Tuhan.” Bisa menghibur, karena yang datang adalah saudara kami saudara mu’min-muslim.

Kalau tidak, secara manusiawi kalau bukan Muslim pun harus kita besarkan hatinya. Karena mereka menanggung istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang tidak berdosa. Pandangannya harus luas. Itu diantaranya. “Sudahlah, insyaAllah akan ada obatnya. Yang besar hati. Tawakkal kepada Allah Swt. Jangan tinggal ikhtiar. Saya doakan insyaAllah kamu sembuh.”

Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang

Begitu juga seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang shaleh. “Masa orang yang lewat tidak bisa lihat?” “Iya, kayak tidak wajar Kiai.” “Lha tidak wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?” “Ya punya mata, Kiai.” “Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak Allah nanti kamu dibuka.” Bersih hatinya.

Tapi kalau datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat. Wajar!” Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’ yang dibawa nafsu dan setan.

Tapi kalau datangnya kepada orang yang shaleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah, mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik. Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah mesinnya akan baik. Amin.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,” semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

(Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017).

No comments:

Post a Comment