Wednesday, January 28, 2015

BAYAN MAULANA TARIQ JAMIL (KEDUDUKAN WANITA DLM ISLAM)


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ فَجَعَلَهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلَنَا شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ أَكْرَمَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ

أشهدُ أن لا إله إلاّ الله وحدَه لا شريكَ له ، إلهاً واحداً أحداً صمداً ، لم يتَّخِذْ صاحبةً ولا ولداً 
وأشهد أنسيدنا ومولانا محمداً عبده ورسوله أما بعد 

قال تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ 

أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

قال صلى الله عليه وسلم: إذَا صَلَّت المرأةُ خَمْسَها و صامت شهرها و أطاعت بَعلَها فلتدخل من أي أبواب الجنة شاءت

Hadirin-hadirat yang mulia, cukup banyak masturah yang hadir, tempat sempit dan udara panas. Pahala pasti didapatkan. Maka hendaknya bayan didengar niat untuk diamalkan dan merubah arah kehidupan. Sehingga pertemuan kita ini bukan sekedar pertemuan kemudian bubar, tapi bagaimana kita sampai pada apa yang disampaikan dan didengar dalam majlis.

Dengan bahasa yang sangat indah Allah SWT. bertanya dalam Al Quran :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“apakah mereka diciptakan tanpa bahan sama sekali ataukah mereka yang menciptakan?” (Ath Thuur:35)

1. Apakah mereka jadi dengan sendirinya? Ini pertanyaan pertama.
2. Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ini pertanyaan kedua.

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi?” (Ath Thuur: 36)

Ini pertanyaan ketiga dan masih banyak pertanyaan lainnya. Bila kita terjadi dgn sendirinya, maka kita spt tanah di hutan atau lumpur di jln, bebas semahu kita. Tidak akan ada tanya jawab terhadap kita, kita bebas sebebas2nya dan bila kita menciptakan diri kita sendiri, kita juga bebas. Apa yg kita inginkan, maka lakukan. Juga tidak akan ada pertanyaan terhadap kita. Dan bila kita yg menciptakan langit, bumi, beserta isinya, gunakanlah semahu kita dan tidak akan ada lagi batasan halal dan haram. Pernikahan dan perzinahan tidak akan ada bedanya. Menutup aurat atau membukanya sama saja. Mengerjakan solat atau meninggalkannya tidak ada bedanya. Kejujuran dan dusta tidak ada bedanya. Kesucian peribadi dan kenistaan tidak ada bedanya. Rasa malu dan rasa tidak punya malu menjadi sama. Keadilan dan kezaliman tidak ada bedanya. Maka bila kita terjadi dgn sendirinya atau menjadikan diri kita sendiri atau kita yg menciptakan langit dan bumi, maka Allah swt seolah2 berfirman kpd kita: “Biarlah Aku mundur, apa yg kamu inginkan maka lakukanlah.”

Maka kita pelajari pertanyaan2 ini. Pernahkah ada sesuatu di alam ini yg terjadi dgn sendirinya? Adakah sebuah bangunan sekolah yg berdiri dgn sendirinya? Adakah seorg wanita yg pada pagi hari tiba2 melihat seorg anak jadi sendiri di sampingnya? Atau tiba2 muncul setumpuk perhiasan emas didepannya? Roti masak dgn sendirinya? Daging masak dgn sendirinya? Pernahkah ada yg melihat spt ini? Tidak pernah ada. Maka berarti saya tidak jadi dgn sendirinya dan pasti bahwa saya tidak menciptakan diri saya sendiri, tidak menciptakan org tua saya, tidak menciptakan kampung saya. Seandainya saya ciptakan diri saya sendiri, tentulah saya memilih bentuk yg lebih indah dari ini dan mungkin saya akan menentukan agar lahir di tengah keluarga raja. Maka jelaslah bahawa saya tidak jadi sendiri dan tidak pula menciptakan diri saya sendiri. 

Lalu siapa yg menciptakan? Dan bila sepotong kayu tidak dapat saya ciptakan, mana mungkin pohon boleh saya buat? Bila sebutir pasir tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin alam semesta saya yg ciptakan? Bila setetes air tidak bisa saya ciptakan mana mungkin lautan bisa saya ciptakan? Bila selembar daun tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin buah bisa saya ciptakan? Bila selembar bulu tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin burung merak bisa saya ciptakan? Bumi ini siapa yg menciptakan? Langit siapa yg menciptakan? Kita tidak jadi sendiri, tidak menciptakan diri sendiri, dan tidak bisa mencipta kan langit dan bumi. Lalu siapa yg menciptakan? Bila wanita tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Laki-laki tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Siapa pun orgnya, walaupun mendptkan gelar pakar dlm segala bidang, bila pertanyaan ini tidak bisa dia jawab maka binasa, gagal dunia akhirat. Lalu, siapakah yg menciptakan langit dan bumi? Siapakah yg menciptakan saya? Disambung pertanyaan kedua, utk apa saya diciptakan? Pertanyaan ini ada dlm Al Quran, kita cari jawabannya, maka kita temukan jawabannya. 

Allah SWT. firmankan dalam Al Quran (Al-Insan:1): 

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah dtg dlm kehidupan manusia suatu masa tatkala manusia tidak ada sama sekali”

Allah SWT. juga berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dulu semuanya tidak ada, langit tidak ada, bumi tidak ada, maka yang ada hanya Allah. Allah yang dulu, Allah yang sekarang, itulah Allah Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah yang Mutakabbir, Dialah Allah yang Awal, Dialah Allah yang Akhir, Dialah Allah yang Zhahir, Dialah Allah yang Bathin, Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah Malikul mulk, Dialah Allah Dzuljalali wal ikram, Dialah Allah yang maha suci, Dialah Allah yang tiada awalnya, Dialah Allah yang tidak ada akhirnya.” (Al Anbiya: 30)

Alam semesta ini ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Allah Swt yang Maha ada, ada tanpa awalan dan terus ada tanpa akhiran. Allah SWT. adalah yang Maha ada. Tapi adanya Allah Swt tidak membutuhkan tempat. Allah Swt adalah yang Maha ada, tapi tidak perlu pada masa. Allah SWT. adalah yang Maha ada, dan adanya Allah Swt tidak bisa ditentukan dimana arahnya. Allah Swt adalah yang Maha ada, tidak perlu pada bentuk, tidak perlu pada manusia. Allah Swt maha ada, tidak perlu pada isteri, tidak perlu pada anak, tidak perlu pada alam, tidak perlu pada langit, tidak pelu pada bumi, tidak perlu pada Rasul, tidak perlu pada Anbiya, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada Mikail, tidak perlu pada Israfil, tidak perlu pada Izrail, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada langit, tidak perlu pada bumi, tidak perlu pada Arsy, tidak perlu pada Lauhil mahfudh, tidak perlu pada kursi. Kita namanya manusia ini, di kelas kita duduk sejak kecil duduk di bangku sekolah. 

Dan manusia ini pasti berada dlm salah satu dari beberapa keadaan. Seorg itu mungkin berdiri, kalau tidak, mungkin duduk, kalau tidak, mungkin berbaring, kalau tidak, mungkin tidur, mungkin ke arah kiri, mungkin ke arah kanan, pasti salah satu itu. Tapi itulah Allah Swt yg tidak duduk, tidak juga berdiri, tidak berbaring, tidak terlangkup, tidak terlentang, tidak miring kiri, tidak miring kanan, tidak perlu makan, tidak perlu minum, tidak makan, tidak minum, tidak mengantuk, tidak tidur. Dialah Allah yg tidak pernah merasa takut, Dialah Allah yang baginya sama antara langit dan bumi, baginya sama antara terang dan gelap, baginya sama antara siang dan malam, arsy dan kursi sama baginya, cahaya dan api sama baginya, gunung dan tanah lapang sama baginya. Dialah Allah raja manusia, raja bagi jin, raja bagi lautan, raja dari api, raja dari besi dan perak, raja segala2nya. Dialah raja ruang diantara langit dan bumi, Dialah raja burung2 yg berterbangan di udara. Dialah raja tiap2 tetesan air hujan. 

Raja pemilik minyak wangi yg akan diciptakan. Dialah pemilik semuanya. Dia pemilik kepakan sayap burung2 yg berterbangan. Dialah pemilik ular yg menyemburkan bisanya. Dialah yg menciptakan kerang yg di dlmnya terdapat mutiara. Dialah yang menciptakan minyak ambar dari ikan. Dialah pencipta dan pemilik lebah yg mencelupkan mulutnya di air kemudian darinya diciptakan madu. Dialah yang menciptakan dan memiliki ulat2 yg mengeluarkan sutera2. Dialah Allah yg memberikan minum kpd kijang kemudian darinya Allah ciptakan minyak kasturi. Dialah Allah yg menciptakan air yg darinya Allah tumbuhkan buah2 mangga yg indah dan ranum. Dialah Allah raja dan pemilik air, yg kadang2 darinya Allah ciptakan mangga, darinya Allah ciptakan delima. Dialah Allah yg menciptakan pohon yg pahit, daun yg pahit, dahan yg pahit, ranting yg pahit, tapi darinya Allah tumbuhkan buah2 delima. Dibungkus kulit yg pahit, semuanya pahit. Dan tatkala dibuka, begitu nampak keindahan ciptaan Allah, butiran2 ada yg berwarna putih. tatkala nampak butiran delima yg berwarna putih, maka seolah2 mutiara ada di sana. Bila itu berwarna merah, maka seolah2 itu adalah buah yg ditaburi yaqut. Dan itu semua Allah kumpulkan dalam suatu tempat yg rapi dan rapat, kemudian, supaya manusia berpikir, “Ini semua siapa yg menciptakan?” Inilah Allah dan inilah ciptaan Allah.

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

(Luqman:11) “Inilah ciptaan Allah, inilah buatan Allah, maka tunjukkan apa yg diciptakan oleh selain Allah”.

Itulah Allah yg berfirman kpd kita, bahwa kita pun diciptakan dari air. Yg dgn air itu pula Allah telah ciptakan pohon delima, Yg dgn air itu pula Allah Swt, telah ciptakan buah delima. Yg dgn air itu pula Allah Swt telah ciptakan buah jambu. Yang dengan air itu pula Allah telah ciptakan mutiara. Dan dari air itu pula tatkala dimasukkan ke dalam kijang, maka dijadikan kasturi. Dan dari air itu pulalah tatkala dimasukkan kedlm lebah, maka yg muncul adalah madu. Kalian sebelumnya adalah air, kalian seblmnya adalah air.

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى

artinya : Dan sebelum air kalian adalah tanah (Al Qiyamah : 37)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

Artinya : “Dari tanah dikeluarkan gizi, dari gizi dikeluarkan sari patri, dari sari pati dikeluarkan air”. (Al Mukminun : 12)

Kemudian dari situ Allah Swt teruskan dibuatlah bentuk oleh Allah Swt yg berbeda2, kemudian disempurna kan, diberikan warna2 yg indah, warna2 yg cantik. Kemudian Allah Swt menjadikan dlm bentuk laki-laki, Allah s.w.t menjadikan dalam bentuk wanita:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

(Al Hujurat: 13)

Dan dalam ayat lain Allah SWT. Berfirman :

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا 

“Allah Swt berikan anak perempuan, Allah Swt berikan anak laki2, atau Allah Swt berikan pasangan laki2 dan wanita. Dan Allah menjadikan org yg dikehendaki sbg mandul, Allah SWT. tidak berikan anak pada nya, walaupun menjlni hidup dgn meminta2 supata dikaruniai anak, Allah SWT. tidak berikan anak padanya” (As Syura: 49-50)

Maka telah jelas jawaban bagi kita . Allah yang maha pencipta. Langit, Allah yang menciptakan :

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ 

(Al Hujurat: 47)

Bumi, Allah yg menciptakan :

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ 

(Al Hujurat: 48)

Gunung, Allah yang menciptakan:

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا 

(An Nazi’at: 32)

Air, Allah yang mengeluarkan :

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا 

(An Nazi’at: 31)

Hujan, Allah yang menurunkan :

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا () ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا () فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا () وَعِنَبًا وَقَضْبًا () وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا () وَحَدَائِقَ غُلْبًا 

(‘Abasa: 25-30)

Dialah Allah yg membentangkan bumi, mengangkat langit, menurunkan hujan. Lalu Allah berfirman kpd kita:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ 

(Al Infithar ayat 6)

Dalam Al Quran hanya dua kali disebut يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ Ini adalah firman yang sangat indah. Allah bukan berdialog hanya kepada orang muslim, tetapi kepada semua manusia di seluruh dunia. Kepada muslim, kafir, orang yang taat, orang yang ingkar, Hindu, Buddha, Atheis, Komunis, pemabuk, orang yang ahli maksiat, semuanya, Allah Swt berfirman kepada mereka semuanya. Tergambar oleh saya seolah-olah seperti seorang ibu yang memegang kedua pundak anaknya, dipegang sambil bertanya, “wahai anakku, mengapa engkau berburuk sangka kepadaku?” Mana mungkin aku berbuat buruk padamu? Sebab memang itulah watak seorang ibu. Seperti apapun dia akan selalu menginginkan kebaikan anaknya. 

Tergambar oleh saya, seolah-olah Allah swt memegang pundak setiap manusia. Baik laki-laki maupun wanita, Allah Swt bertanya, “wahai hambaku, bagaimana kamu bisa berburuk sangka padaku? Sedangkan Aku adalah yang menciptakanmu :

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ 

(Al Infithar: 7)

menciptakannya dan membentuk fisikmu betul-betul seimbang, betul-betul serasi :

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ 

(Al Infithar: ayat 8)

Dlm rupa yg Allah Swt kehendaki, ttpi setelah diberi keindahan wajah manusia lupa bagaimana seblmnya dia dulunya adalah air yg hina, kemudian menjadi nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi mudhghah, kemudian diberikan tulang2 padanya, lalu dibungkus dgn kulit, dan dimasukkan ruh padanya. Barulah dikeluarkan ke dunia. Dlm keadaan tidak ada gigi yg bisa menggigit, tidak ada tangan yg bisa memegang, kaki belum bisa berjalan, tidak bisa berbicara, tidak bisa mengeluh, tidak bisa mengadu ingin buang air besar, ingin buang air kecil, lalu Allah menetapkan dua org yg sangat sayang padanya. Allah memberikan kasih sayang yg begitu dlm pada diri kalian, dlm hati kedua org tua. Mereka tidak bisa makan sebelum engkau kenyang, mereka tidak bisa tidur sebelum engkau tidur. Bila engkau menangis, maka makanan yg mau disuap pun terjatuh. 

Engkau ketakutan, rasa ngantuk pun hilang. Engkau sedikit bersuara, maka teriakan pun keluar dari mereka. Seandainya Allah Swt tidak membuat aturan demikian, tentulah tidak ada yg memperhatikanmu tatkala engkau kelaparan, membersihkanmu tatkala engkau buang air, yg menidurkanmu di tempat yg hangat. Tidak ada yg bekerja seharian, kepenatan utk nafkah mu, tidak ada seorg wanita yg seharian susah payah memasak makanan, memasak daging utkmu. Mereka semua dibuat spt ini utk keperluanmu. Seorang ibu duduk menunggu anaknya, tatkala anaknya datang, dia gembira menyambutnya, “Anakku datang, anakku datang.” Allah Swt yg mengatur ini semua untuk pemeliharaanmu. Andaikan Allah swt. cabut rasa kasih sayang, tentukah seekor ular akan menelan anaknya, tentulah seorang ibu akan tega melemparkan anaknya ke dalam tempat sampah. 

Allah SWT. yang mengatur ini semua. Dan tatkala engkau belum bisa apa-apa, menelan makanan pun susah, Maka apa yang Allah Swt lakukan, apa yang Dia buat? Allah Swt mengalirkan dua mata air di tempat yang sangat dekat denganya. Yang mendatang kan kehangatan di waktu dingin, dan mendinginkan di waktu kepanasan. Begitu dekat, begitu mudah. Tidak ada yang lebih bermanfaat, tidak ada yang lebih baik dari seorang anak ini dari pada air susu ibunya. Seorang ahli herbal mengatakan pada saya, “seandainya seorg anak pada masa mudanya tidak merusak benih2 susu yang dia minum waktu bayi, pengaruh air susu ibu ini akan bertahan sampai 40 tahun lamanya”. Susu apa pun di seluruh dunia, jenis apa pun tidak ada yg memberikan kekuatan, tidak ada kandungan sebagaimana kandungan air susu ibu. Allah SWT menciptakan ini semua :

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ () فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

Artinya: “Tatkala tidak ada seorg wanita yg bersujud pada Allah, tidak ada seorang pemuda meletakkan dahinya menyembah Allah swt”.

Maka Allah Swt lanjutkan,“Wahai manusia, wahai hambaKu, Aku yg telah menciptakanmu, kenapa engkau skrg menjadi penentangKu? Aku yg telah menciptakanmu. Knp skrg engkau berburuk sangka padaKu? Sedangkan seorg ibu pun tidak mungkin menginginkan keburukan untuk anaknya. Akulah yang berkata kepadanya, “gunakanlah hijab” Akulah yang mengatakan supaya engkau letakkan dahimu diatas tanah, “Solatlah”, Akulah yang memerintahkan supaya hubungan laki-laki dan perempuan ada batasnya, Akulah yang mengatakan supaya perempuan menjaga dirinya dari nereka. Seorang anak, dia tidak akan berpikir buruk terhadap ibunya. Akulah yang mengatakan supaya kalian tidak mengangkat kepala di depan bapak kalian. Akulah yang mengatakan pada isteri untuk taat kpdasuaminya. 

Akulah yg mengatakan supaya suami menunaikan kewajiban terhadap isterinya. Akulah yang memerintahkan supaya kalian berdagang dengan cara yang benar dengan cara yang jujur, tidak mengurangi timbangan dan takaran. Jgn sampai jahil dalam pekerjaan, jangan sampai mengandalkan kekuatan untuk berbuat kejahatan. Tapi, apa yang kamu lakukan dgn itu semua? Lalu kenapa tiap-tiap langkah yg kalian lakukan utk melanggar perintahku? Kau tinggalkan solat, kau letakkan Al Quran sbg hiasan di rumah, di simpan hanya utk mendapatkan keberkahan saja? Kitab yg mestinya dipakai, dilipat dan disimpan kemudian lupa tidak belajar. Saya ingat waktu kecil, setiap saya pulang dari masjid ke rumah, di sepanjang rumah terdengar ibu-ibu yang membaca Al Quran di rumah masing2. Tapi skrg apa yang terjadi? 

Orang melihat tv sampai tengah malam, orang kehilangan rasa malu di mana-mana. Sekarang orang pada menangis sedih kenapa ekonomi merosot, banyak hutang, padahal bukan itu yang kita tangisi. Tapi hilangnya anak-anak kita, itulah yang kita tangisi. Laki-laki hanyut dlm kesenangan. Foya-foya, nyanyian, tarian dan perempuan. Itu perbuatan tanpa rasa malu. Wahai, ini seolah-olah perahu telah tenggelam, bahtera tidak bisa menepi ke pelabuhan, kalaulah ini masih ada tidak tenggelam, itu karena kasih sayang Allah SWT. yang menahan. Dan bila kaum laki-laki dan perempuan sudah biasa dengan kesenangan musik, anak-anaknya sudah biasa dengan nyanyian, di pasar2 sudah biasa mengurangi dalam timbangan dan takaran, anak-anak berani durhaka kepada orang tuanya, penindasan dalam kekuasaan, kedzaliman di pengadilan, org yang kuat berbuat sewenang2nya, orang yang dizalimi berteriak2 tidak ada yang memberikan pertolongan. 

Kemudian dalam keadaan seperti ini mestinya kita tidak bisa makan, tidak bisa minum, tidak bisa beristrahat, tidak bisa tinggal di atas bumi, mestinya semua tenggelam ditelan ke dalam tanah. Bahkan satu kabupaten, satu provinsi, satu negara, seluruh dunia pun mestinya sudah tenggelam. Kalau ada seorang wanita, di tengah2 keramaian, dia menari2, tiap2 gerakannya ini punya kekuatan luar biasa yang bisa menghancurkan gunung himalaya, yang bisa mengeringkan samudera, hutan2 akan terbakar menjadi padang pasir, dan bumi akan hilang dari penduduknya atau bahkan jadi kosong. Untung lah bumi ini bukan tempat hukuman, bukan tempat balasan. Allah Swt tidak jadikan bumi ini tempat hukuman dan balasan. Dunia hanyalah tempat ujian. Sedangkan tempat balasan akan dtg tatkala mata terpejam, ibu lupa pada anaknya, anak lupa pada ibunya, nyawa sudah berada di tenggorokan, tatkala suami lupa pada isterinya, isteri lupa pada suaminya, saudara lupa dengan saudaranya, itulah waktu yang sebenarnya. Bagaimana keadaan manusia hidup, seperti itulah keadaan kematiaannya. 

Bagaimana ia menjalani hidup, dalam keadaan itu malaikat maut akan dtg menjemputnya. Maka semua yg hadir, ibu-ibu, bibi-bibi, saudari2 bapak2, saudara2, paman2, maupun yang tidak hadir yg bertebaran di pasar2 dan di jalanan, seolah-olah Allah SWT turun dan memegang pundak setiap orang dari kita dan berfirman: “Wahai hambaku, Akulah yang menciptakanmu. Mana mungkin Aku membuat keputusan buruk utkmu. Mana mungkin aku menyempitkan hidupmu. Ibumu rela kelaparan untuk memberi makan padamu, ibumu rela menahan ngantuk untuk menidurkanmu. Sdgkan Aku ini tujuh puluh kali lipat lebih sayang dpd seorg ibu.”

Tujuh puluh dlm istilah bahasa Arab bukan dimaksudkan angka tujuh puluh. Tetapi maksudnya adalah banyak sekali, tanpa batas. Seolah Allah ingin mengatakan “Aku lebih syg dpd seorg ibu berkali2 lipat tanpa batas. Maka Aku mengatakan padamu utk memasang sajadah, solat dan meletakkan dahi di atas tanah. Aku perintahkan para wanita utk memakai hijab. Aku tidak melarang keluar. Bila akan keluar, keluarlah ttpi dgn hijab. Kalaupun bekerja, bekerjalah namun dgn hijab. Dan bila bulan Ramadhan tiba, Aku perintahkan utk berpuasa. Bila engkau seorg puteri dari seorg ibu, maka perintahKu adalah khidmat lah kpd ibumu dan ayahmu. Bila engkau punya saudara, maka khidmatlah pada saudara mu. Bila kedudukanmu sbg isteri, maka berkhidmatlah kpd suamimu. 

Bila engkau adalah seorg anak laki2, maka perintahKu adalah supaya engkau berbakti kepada org tuamu. Bila engkau punya saudara perempuan, maka perintahKu adalah supaya berkhidmat kpd saudarimu. Bila engkau seorang suami, perintaKu adalah supaya engkau menanyakan hak isterimu. Bila engkau seorg bapak, maka perintahKu adalah supaya engkau mendidik anak2mu. Bila engkau seorg pedagang, perintahKu adalah agar menimbang dan menakar dgn kejujuran. Bila engkau seorg petani, maka jgnlah hasil pertanianmu membuatmu takabur. Tapi berikanlah, Infakkanlah sebagian utk fakir, utk org miskin yg membutuhkan. Bila engkau seorg raja, maka berbuat adillah. Bila engkau org yg kuat, maka berbuat insaflah. Bila engkau duduk sbg seorg hakim di pengadilan, maka jgnlah engkau menjadi pembela org2 yg berbuat zalim. Ini semua Aku perintahkan kepadamu, tidak mungkin bukan untuk kebaikanmu, tidak ada yg lebih sayang kpdmu dpd Aku :

وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“dan adalah Allah SWT. Maha berterima kasih dan Maha mengetahui”. (An Nisa: 147)

Saat Nabi Yunus AS keluar dari mulut ikan, maka Allah SWT. berfirman padanya, “wahai Yunus, kaummu telah bertaubat, pergilah pada mrk. Di tengah perjalanan Nabi Yunus AS bertemu dgn tukang tembikar yg membuat bejana2 yg sgt besar terbuat dari tanah. Maka Allah Swt perintahkan pada Nabiyullah Yunus As supaya pembuat tembikar itu memecahkan bejana yg dibuatnya. Maka tatkala diperintahkan padanya, pembuat tembikar itu bertanya, “knp, utk apa saya pecahkan, ini kan sudah saya buat dgn tanganku sendiri, utk apa saya pecahkan? Maka Nabiyullah Yunus Swt melaporkan keengganan pengrajin ini kpdaAllah SWT. 

Maka Allah Swt berfirman kpd Nabiyullah Yunus Swt, “Wahai Yunus, itu org yg membuat bejana dgn tangannya sendiri, dia tidak mau menghancurkannya, maka bagaimana engkau hancurkan, engkau bawa manusia yg telah Aku buat, Akulah yg membuatnya engkau bawa mrk pada kematian, engkau sampaikan mrk pada kehancuran. Kenapa engkau biarkan mrk mencampakkan diri dlm kebinasaan? Sedangkan mrk semua telah bertaubat, mrk semua hambaku, hingga kembali kepadaku.” Maka untuk itulah katakan kpd seluruh manusia di dunia baik laki-laki maupun wanita, berdamailah kalian dgn Allah SWT. Rabb yg begitu Penyayang, dan Penyantun. Tidak akan kalian temukan selainNya. Dia yang maha Kasih Sayang, Maha Pemberi, Pemilik segala sifat yang indah, Pemilik Kerajaan :

الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ القُدُّوسُ السَّلامُ المُؤْمِنُ المُهَيْمِنُ العَزِيزُ الجَبَّارُ المُتَكَبِّرُ الخالِقُ البارىءُ المُصَوّرُ الغَفَّارُ القَهَّارُ الوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الفَتَّاحُ العَلِيمُ الباسِطُ الخَافِضُ الرَّافِعُ المُعِزُّ المُذِلُّ السَّمِيعُ البَصِيرُ الحَكَمُ العَدْلُ اللَّطِيفُ الخَبيرُ الحَليمُ العَظِيمُ الغَفُورُ الشَّكُورُ العَلِيُّ الكَبِيرُ المُغِيثُ الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ الرَّقِيبُ المُجِيبُ الوَاسِعُ الحَكِيمُ الوَدُودُ المَجِيدُ الباعِثُ الشَّهِيدُ الحَقُّ الوَكِيلُ القَوِيُّ المَتِينُ الوَليُّ الحَمِيدُ المُحْصِي المُبْدِىءُ المُعِيدُ المُحْيِي المُمِيتُ الحَيُّ القَيُّومُ الوَاجِدُ المَاجِدُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ القادِرُ المُقْتَدِرُ المُقَدِّمُ المُؤَخِّرُ الأوَّلُ الآخِرُ الظَّاهِرُ البَاطِنُ الوَالي المُتَعالِ البَرُّ التَّوَّابُ المُنْتَقِمُ العَفُوُّ الرًّؤُوف مالِكُ المُلْكِ ذُو الجَلالِ وَالإِكْرَامِ المُقْسِطُ الجامِعُ الغَنِيُّ المُغْنِي المَانِعُ الضَّار النَّافعُ النُّورُ الهَادِي البَدِيعُ الباقِي الوَارِثُ الرَشِيدُ الصَّبُورُ


Adakah yang bisa menunjukkan Raja seperti Dia? Adakah yang bisa menunjukkan Pencipta seperti Dia? Adakah yang bisa menunjukkan Allah selain Dia? Lalu kita tidak bersujud kepadanya? Sedangkan Dia yang mengadakan. Dia yang memberikan mata. Wanita menghiasi wajah dengan anting dan perhiasan lainnya. kita katakan, hiasilah dengan wajahmu dgn tanda sujud. Wanita menghiasi matanya dgn celak. kita katakan, hiasilah matamu denga rasa malu. Orang beranggapan bahawa keluar dgn penuh perhiasan adalah sbg kesempurnaan. Justru Kita katakan, jadikanlah menyembunyikan diri sbg kesempurnaan:

Berlian selalu tersembunyi di balik gunung. Mutiara tersembunyi di dlm kerang. Biji gandum tersembunyi di dalam cangkangnya. Jagung tersimpan di dalam kulitnya. Barang berharga tidak akan di lempar di tengah jalan. Barang bernilai tidak mungkin terbuka di tengah pasar. Adakah buah yang tidak diselubungi kulit? Semakin bernilai dan bermanfaat, tutupnya semakin rapat. Sedangkan di dunia ini tidak ada perhiasan yg lebih bernilai dpd wanita. Dari wanitalah makmurnya dunia. Bila pangkuan wanita kering, keringlah dunia. Bila pangkuan wanita subur, suburlah dunia. Bila pangkuan wanita tandus dari tarbiyah, maka sebagai mana dari lumpur bermunculan semak berduri, dari pangkuan wanita akan muncul pembunuh, pemabuk, pezina, penjual diri, penjual kehormatan, penindas kemanusiaan. 

Dan bila pangkuan wanita subur, muncullah saifullah (pedang Allah), Junaid Al Baghdadi, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Rabiah Adawiyah, Sirri Siqthiy, Ma’ruf Karkhi, Bakhtiar Khaki. Lihatlah masa lalu, tatkala pangkuan ibu subur makmur. Hari ini, pangkuan wanita kosong. Para wanita mandul. Para lelaki mandul. Kita lihat banyak anak di rumah2. Bukan seperti itu maksudnya. Anak adalah yg bila dilihat oleh Allah SWT. Dia akan ridha padanya. Yg bila dilihat oleh Rasulullah SAW, beliau akan gembira dgnnya. Yang Islam bangga dgnnya. Bumi membanggakannya. Bila seorg lelaki maupun wanita bersujud, lalu menetes kan setetes air mata jatuh ke tanah. Kesejukan yang dirasakan tanah dengan jatuhnya tetesan ini tidak dapat disamai dgn hujan selama empat puluh hari. Air hujan yang menetes ke bumi hanya akan merasuk beberapa inchi saja ke dlmnya. 

Tetapi air mata tangisan akan menembus bumi hingga ke tahtatstsara (yg di bawah tanah). Bila disuarakan nyanyian di atas bumi, pecah hatinya. Tarian yg di lakukan di permukaan nya telah menyulut api di tiap2 ruasnya. Perzinaan yg memenuhi bumi sebenarnya membuatnya siap utk meledak. Kedurhakaan kepada org tua telah membuat gunung bersiap utk beterbangan. Begitu banyak kemaksiatan dilakukan yang bisa menyebabkan runtuhnya langit sebagai atap. Maka karena Allah saya berkata, kembalilah kepada Allah. Wanita diciptakan bukan utk menari. Di manakah pesta pernikahan yg bersih dari goyangan tubuh wanita? Kita mengatakan bahwa orang kafir (Hindu) adalah musuh kita, tetapi wanita mana yg tidak terbawa kebiasaan mereka? Saya tidak menyuarakan perkataan saya. Saya hanya kurir yg menyampaikan pesan Allah dan RasulNya. Hendaklah tunaikan hak yg memang selayaknya ditunaikan. Seorg ibu tidak selalu setia. Seorg anak tidak selalu setia. Seorg istri tidak selalu setia. Seorg anak yg ditinggal mati ibunya tidak akan menyertainya di dlm kubur. Bahkan dialah yg menimbun ibunya. Tetapi Allah, Dialah Zat yang selalu setia. Menyertai saat di dunia. Menyertai saat di akhirat. Menyertai saat hidup. Menyertai saat mati. Di kubur, solat di sebelah atas, sedekah sebelah kanan, puasa sebelah kiri, pahala berjalan ke masjid dtg, pahala sabar dtg, taqwa dtg, munkar nakir dtg, tanya jawab diadakan.

Lihatlah Rabiah Adawiyah. Tidak mungkin menggantikan namanya dari lembaran sejarah. Seorang wanita akan dihargai bila pertama, dari keluarga terhormat. Dua, berwajah cantik. Tiga, kekayaan. Empat, berketurunan. Bila seorang wanita bukan dari keluarga terhormat akan turun nilainya. Bila tidak cantik, akan lebih jatuh lagi nilainya. Lalu tidak berharta, akan lebih rendah nilainya. Dan bila mandul, tidak akan ada lelaki yang mau padanya. Tetapi sungguh mengherankan, tidak satu pun kelebihan ini ada padanya. Dan kisahnya selalu dibicarakan di mana2 sejak ratusan tahun lamanya. Dia adalah dari kalangan hamba bangsawan. Dari Ethiopia. Yang kedua, wajahnya adalah wajah Ethiopia Kulit hitam, hidung kecil. Yang ketiga, dia adalah hamba. 

Dari mana hamba memiliki kekayaan? Yg keempat, dia mandul. Suaminya meninggal di waktu muda. Menjanda sejak usia muda. Kebiasaannya, mandi, lalu menganti pakaian, kemudian mendatangi suami. Dia bertanya, “Apakah aku diperlukan?” Bila suami mengatakan tidak, maka dia akan ke tempat solatnya. Semalaman di sana. Dan, tatkala suaminya telah meninggal, Syaikh Hasan Bashri yang begitu tampan, alim, ahli hadits, ahli tafsir, mujahid dan masih sangat banyak gelar yang layak beliau sandang. Beliau datang sendiri utk meminang. Bukan mengirim utusan. Beliau utarakan keinginan beliau untuk menikahinya. Rabiah menjawab, jawablah empat pertanyaanku, baru aku mau menikah. “Apa itu?” “Apakah aku ahli surga atau ahli neraka?” “Aku tidak bisa menjawab,” kata beliau. “Tatkala catatan amal dibagikan, ada yang menerima dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, dengan tangan mana aku akan menerima catatan amalku?” “Aku tidak bisa mengatakan apa-apa,” kata beliau. 

“Saat amalku ditimbang, apakah kebaikanku lebih banyak ataukah dosaku yang lebih banyak?” “Aku tidak tahu.” “Saat orang-orang meniti shirat, ada yang bisa melintas dan ada yang jatuh, bagaimana dengan aku? Apakah melintas ataukah terperosok?” “Aku tidak tahu.” “Kalau begitu biarkan aku membuat persiapan untuk yang empat itu.” Menjelang wafatnya, Rabiah berpesan kepada pembantunya, “Bila aku mati, jangan diumumkan. Cukup beritahu tetangga. Dan jadikan kain usang yg selalu saya gunakan utk beribadah kpd Rabbku sbg kain kafan. Keesokan paginya diberitahulah tetangga2 untuk menurunkannya.

Dan ini tidak berat, yang berat adalah kita dengan banyaknya dosa2. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, kita ini penuh dgn dosa, dahi kosong dari sujud pada Allah, mata kosong dari rasa malu, telinga dipenuhi dengan racun2 musik, yg tidak memperhatikan kebaktian pada orang tua, yg menyia-nyiakan kewajiban pada isterinya, yg menyia-nyiakan kewajiban pada suaminya. Org spt kita inilah yang akan menjadi beban bagi bumi. Malam harinya pembantunya bermimpi bertemu dgn Rabi’ah, kemudian bertanya, “bagaimana keadaanmu?” kemudian bercerita, “Munkar nakir dtg kepadaku, dan bertanya, “Man rabbuki?” maka aku menjawab, “Subhaanallah, dzat yg 40 tahun tidak pernah aku lupakan, kemudian aku dimasukkan kedalam tanah empat hasta ini, akankah aku lupa padanya?” 

Kemudian malaikat berkata, “Ya sudah, utk apa ditanya lagi”. Maka spt itulah hendaknya kita mencari kematian. Jgnlah kita hidup mengikuti wanita2 zaman skrg. Pada saat ini org2 sibuk berlarian hidup dgn berkiblat pada org2 barat. Yg saya inginkan, bagaimana semuanya ikut kehidupan Fathimah R.ha, ikut kehidupan Khadijah R.ha, bertemu dgn mereka disana. Saya ingin semuanya berkumpul bersama Fatimah R.ha. Dan saya ingin bagaimana laki-laki menjadi pembantu dari Hasan dan Husain pimpinan pemuda2 surga. Nanti di akhirat akan dipisahkan org2 yang ikut barat. Berpisahlah kalian. Jgn sampai di dunia kita hidup dengan org2 kampung, tapi di akhirat dikumpulkan dgn org2 barat:

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ  

Ertinya: Maka orang-orang merasa ketakutan hari itu, jantung pecah. (Yasin: 59)

Seandainya ada kematian, tentulah mereka mati semua. Tapi kematian telah tiada. Maka semuanya diseret. Wanita diseret dari tengkuknya, kemudian laki-laki akan dimasukkan tangan ke dalam rahangnya, ditarik hingga semua keluar. Dibawa, kemudian diseret. Maka laki-laki berteriak-teriak waasyabaabaah!!2, wahai masa mudaku-wahai masa mudaku. Apa yang dikasihani, sedangkan mereka tidak kasihan pada masa mudanya. Dan wanita2 akan berteriak2 waakhabaayaah!!2, wahai malu, wahai malu. Apa yang dikasihani dgn rasa malu, sedangkan waktu hidupnya tidak punya rasa malu, tidak mau menutupi dirinya. 

Maka hadirin-hadirat, yg mulia, jadilah kita ini hamba-hamba Allah, Allah yg telah menciptakan kita. Allah menciptakan kita utk apa, supaya kita hidup mendapatkan ridha dari Allah Swt. Menyempurnakan perintah2 Allah Swt, menghidupkan sunnah2 Rasulullah Swt, kemudian bertemu dgn Allah Swt. Bila menjadikan kehidupan Rasulullah Swt sbg kehidupan kalian, maka di dunia bahagia, di akhirat bahagia. Allah Swt tidak jadikan dunia tempat bersenang2, tapi dunia hanyalah sekedar permainan. Ini adalah alat kesenangan yg menipu. Dunia adalah sebelah sayap nyamuk, dunia adalah sarang laba2. 

Org2 yg lari mengejarnya adalah orang gila. Dan org2 yg melihat mimpinya ini adalah org2 yg tidak berakal. Maka org2 yang berlomba2 memperbesar rumahnya di dunia ini, adalah org yg paling bodoh. Mengejar dengan susah payah membangun rumah yg akan ia tinggalkan. Dan dia lupa dengan surga yang telah Allah sediakan. Dia mengejar2 sesuatu yang akan dia tinggalkan, lupa pada sesuatu yang abadi. Ini adalah tempat singgah saja. Semuanya, satu demi satu pergi meninggalkan dunia. Laki2 kaya mati, perempuan kaya mati, laki-laki miskin mati, perempuan miskin mati, rakyat mati, pemerintah mati, pedagang mati, penjual pakaian mati, penjual makanan mati, semuanya satu demi satu akan mati. Kita lihat, kubur makin lama, makin banyak penghuninya. 

Pasar makin hari berkurang dan dikurangi org2nya. Sehingga akan tiba suatu saat nanti, kita habis semuanya. Spt apa pun ramainya sebuah pasar, seperti apa pun ramainya sebuah rumah, suatu saat nanti akan sepi…sepi…tidak tersisa kecuali sarang laba2 dan suara desiran angin. Dan akan tiba lagi suatu masa tatkala laba2 pun habis, desiran angin pun habis, kita akan menghadap pada Allah SWT. Kita akan ditanya,”Wahai hambaku, apa yg kamu bawa untuk menghadap padaKu?”. Maka jadikanlah cara hidup Rasulullah Swt sbg cara hidup kita. 

Tidak ada manusia yg lebih perhatian, yang lebih sayang, yang lebih cinta, melebihi Rasulullah Saw. Coba, adakah yang 23 tahun lamanya menangis tanpa berhenti? Rasulullah Saw 23 tahun lamanya terus menerus menangis untuk ummatnya. Dan adakah seorang bapak yang susah payah, jerih payah 23 tahun tidak berhenti utk anaknya? Rasulullah Saw jerih payah, matia2an berjuang untuk ummatnya. Rasulullah Saw yang diutus untuk menangisi ummatnya pun, sampai Allah tegur, “Jangan kau menangis sampai seolah2 kau akan bunuh dirimu sendiri”. Sebagaimana seorg ayah yg menyuruh anaknya utk rajin belajar. Tatkala anaknya berlebihan belajar pun, ayahnya pasti akan mengingatkannya utk beristirahat.

Kemudian Allah Swt bertanya, “Wahai kekasihku, apa yg kau tangisi?” “Umatku Ya Allah.” Begitu syg beliau kpd umatnya. Tatkala ke Thaif dan penduduk mengusir beliau, gunung hampir ditimpakan kpd mrk dan beliau sendiri yg menahannya. Mrk mengusir, melempari dan mengejar beliau hingga pingsan berlumuran darah. Diangkat oleh Zaid RA dibawa berteduh di kebun org kafir yg memusuhi beliau. Kebun itu milik ‘Utbah bin Rabiah yg menginginkan kematian beliau. Namun begitu parahnya keadaan beliau, org yg begitu benci pun tatkala melihat keadaan beliau menjadi trenyuh. Tidak mampu menahan air mata. “Wahai Muhammad, apa yg terjadi dgnnya?” 

Dia sendiri yg memetik anggur dari kebunnya. Krn rasa malu saja dia tidak suguhkan sendiri. Dia suruh budaknya utk menyuguhkannya. Ini seorg kafir musuh keras Rasulullah SAW. pun merasa kasihan pada beliau. Tetapi, bagaimana perlakuan umat ini kpd beliau? Sunnah dirusak. Acara pernikahan diadakan, adakah yg tanpa iringan suara musik? Bila ditanya, kenapa melakukan ini, maka akan dijawab bahwa ini adalah utk menyenangkan anak laki2 atau anak perempuan saya. Mengapa tidak dipikir, apakah tidak perlu utk menyenangkan Allah dan Rasulnya? Mengundang paman, kakek, saudara, kerabat, kawan utk menyenangkan mereka. 

Kita melakukan berbagai perbuatan utk menyenangkan mereka. Kita katakan, mengapa tidak terpikir utk menggembirakan Allah yg telah menjadikan anak baginya hingga usianya muda dan dinikahkan pada hari itu? Mengapa tidak terpikirkan utk menggembirakan Rasulullah SAW. yang dari kampungnyalah kita hidup sebagai manusia. Yang dgn berkah tangisannya kita masih berbentuk manusia. Kalaulah beliau tidak habis2an menangis minta pemecahan masalah kita, tidak akan kita temui manusia hari ini di pasar2. Di sana hanya akan kita dapati hewan berkeliaran. Semua org ingin kita senangkan. Kenapa tidak kita senangkan Allah dan RasulNya?

Iringan pernikahan Fathimah juga diberangkatkan. Beliau juga melakukan pernikahan. Adakah wanita spt beliau di dunia ini? Di hari kiamat nanti, saat org akan melewati shirat. Akan diumumkan, “Tundukkan pandangan, Fathimah akan lewat.” Ke arah sanalah aku ingin membawa saudari2ku. Saat orang berbondong2 menuju ke barat. Dalam pasar di kampung terpencil hijab pun lepas. Ke manakah para wanita pendidik? Para ibu telah mati. Rumah kosong. Kita yg membakarnya dgn kabel dan TV. Dengan tangan kita sendiri. Saya katakan, jadilah anak2 Fathimah. Bagaimana proses pernikahannya? Beliau dinikahkan di masjid. Selesai akad, Sahabat Ali RA. berkata, “Ya Rasulullah, Fathimah diberangkatkan ke rumah?” 

Rasulullah tidak berkata, “Bawakan alat musik, undang group band, buat pawai.” Kata beliau, “Ya, akadnya kan sudah.” Setelah solat Maghrib, beliau pulang ke rumah. Fathimah RA. bercerita, “Waktu itu aku sedang melakukan kegiatan seorang putri yang membantu di keluarga. Aku dengar Rasulullah SAW. bersabda, ‘Panggil Ummu Aiman.’” Ummu Aiman adalah budak ibunda Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda, “Siapa yg ingin menikah dgn wanita ahli surga menikahlah dgn Ummu Aiman.” Beliau berkata, “Ummu Aiman, antarkan Fathimah ke rumah Ali.” Inilah pelepasan mempelai wanita. Tanpa disertai ayah. Tanpa disertai ibu-ibu yg ada, Ummahatul Mukminin yang begitu suci. Padahal saat itu ada ibunda Aisyah, Juwairiyah, Ummu Salamah Rha. Wanita2 yg tiada tandingnya di muka bumi. Berjalan kaki beliau diantarkan. Pakaian pun tidak diganti. “Beritahu pada mereka, setelah Isya aku akan dtg.” Itulah pemberangkatan pengantin wanita. Tanpa iringan apa-apa, musik atau pun barisan manusia.

Sampai di sana, Ummu Aiman mengetuk pintu. Shahabat Ali RA. keluar. Ummu Aiman RHa. Berkata, jagalah amanat ini. Rasulullah Saw akan dtg ke sini stlh solat Isya.” Inilah pemberangkatan pimpinan para wanita dua alam. Putri Rasulullah Saw yg paling beliau cintai. Putri yg beliau beritahukan, “Kaulah yg pertama kali menyusulku dari kalangan keluarga.” Putri yg lainnya beliau berangkatkan sendiri. Saat hampir wafat, sahabat Ali RA. sedang keluar. Beliau katakan kpd pembantunya, “Siapkan air panas utk mandi. Letakkan depan di tengah rumah. Hadapkan ke kiblat.” Setelah mandi, beliau berbaring dan berpesan, “Sampaikan pada suamiku bahwa aku sudah mandi, dgn baju ini kuburkan aku.” Sehari seblm wafat, beliau berkata pada Asma bintu Umais, “Tolong usahakan supaya jenazahku nanti tidak terlihat bentuknya saat dibawa.” Beliau tidak ingin nantinya ada yg mengatakan bahwa putri Nabi orgnya gemuk, atau kurus, atau jangkung, atau pendek. Padahal ruh telah lepas dari badan. 

Dan tidak ada aturan hukum utknya. Itulah yg saya inginkan. Jadilah putri org2 yg setelah mati pun tetap nampak rasa malunya. Asma Rha. Menjawab, “Waktu hijrah di Ethiopia aku melihat bila wanita meninggal maka di atas ranjang utk membawa jenazahnya diletakkan kayu melengkung dan diselimuti dgn kain (seperti keranda di Indonesia). Sehingga tidak diketahui bagaimana bentuk fisik jenazahnya.” Fathimah Rha. Berkata, “Bagus. Buatkan spt itu untukku.” Dgn penuh rasa malu spt itulah beliau meninggalkan dunia. Sbb beliau menuju maqam yg sangat tinggi. Kemarilah, menuju kebahagiaan, kemuliaan. Islam telah menyiapkan derajat yg mulia untuk wanita dlm Islam. Tggjwb mencari nafkah dibebankan kpd suami. Kemudian dalam nikah ada mahar. Tahukah kita apa maksud mahar. Berapa pun mahar, puluhan juta, ratusan juta, ataupun milyaran rupiah tidak bisa menjadi harga seorg wanita. Dan tidak sah nikah tanpa mahar. Mahar adalah pertanda bahwa wanita itu menjadi tanggungan lelaki sampai mati. Wanita itu akan tinggal di rumah, makan dari jerih payah suami. Org2 Arab punya kebiasaan untuk tidak memberi bagian warisan kpd wanita.

Dan zaman sekarang pun masih banyak daerah yg berbuat demikian. Warisan tanah yg menjadi hak wanita akan disiasati oleh saudaranya sehingga dibalik dgn namanya. Org2 yg melakukan kezaliman seperti ini kpd saudarinya atau anaknya tidak akan bisa menyelamatkan diri dari siksa kubur. Walaupun dia ahli shalat, ahli puasa, ahli dzikir, ahli Al Quran, menyumbang madrasah, pergi bertabligh, pergi haji dan kebaikan lainnya. Dia mati dlm keadaan mengingkari satu bagian besar Al Quran. Tidak ada yg bisa melindunginya dari siksa neraka. Dia akan dihimpit di kuburnya. Suara himpitan kubur yg dideritanya terdengar mulai dari bumi belahan timur hingga barat. Saat penguburan Zainab putri Rasulullah Saw yang tertua, beliau nampak sedih. Keluar dari liang lahat nampak cerah wajah beliau. Sahabat bertanya tentang hal itu. 

Beliau menjawab, “Aku sangat khawatir dgn keadaan putriku. Lalu aku memohon pada Allah utk menyelamatkan putriku dari himpitan kubur. Allah menyelamatkannya dari himpitan kubur.” Bila tidak, sekali kubur menghimpitkan dindingnya akan terdengar dari timur hingga barat. Kubur bukanlah gundukan tanah. Kehidupan baru akan mulai. Pahala dan siksa akan dimulai. Ini bukan pembicaraan saya. Saya hanyalah kurir yang menyampaikan pesan dari Allah dan RasulNya. Kebiasaan di tempat kita, bila orang kaya mengirimkan sesuatu dia akan menyuruh buruhnya. Dan org yg menerima kiriman akan memberikan hadiah kepada buruh itu sesuai derajatnya. Saya datang seperti buruh yang menyampaikan pesan itu. Tapi bukan uang yang saya minta. Yang saya inginkan hanyalah, yg hadir di sini meninggalkan majlis sebagi putri2 Fatimah. Bukan sebagi penentang2 Allah. Kembalilah kpd Allah. Bertaubatlah. Berjalanlah menuju kemulian. Kesuksesan, kebahagiaan. 

Tidak ada kehidupan bagi wanita yang tidak menutup auratnya. Saya cari nama wanita di dalam Al Quran mulai ayat pertama hingga terakhir. Sekali, dua kali, sepuluh kali, seratus kali saya cari. Tidak ada nama wanita disebutkan di dalam Al Quran selain nama Maryam. Setiap wanita disebut dgn nama suaminya: istri Aziz, istri Fir’aun, istri Nuh, istri Luth. Bisa saja Allah menyebut nama Asiyah, seorang wanita yang shalihah. Bisa Dia sebut nama Zulaikha, istri seorang gubernur yang penggoda. Hanya nama Maryam yang Dia sebut. Itu adalah untuk menjelaskan bahwa Isa AS. bukan putra Allah Swt tetapi putra Maryam. Dlm banyak sekali ayat Allah Swt sebutkan ‘Isabnu Maryam. Ulama ahli tafsir menulis bahwa Allah SWT. tidak menyukai nama wanita dimunculkan, lalu bagaimana wanita dibuka penutupnya dan keluar ke mana2? Bagi orang muslim, nama wanita adalah malu utk disebutkan. Nama istri seorg muslim ditutup. Nama putri seorg muslim ditutup. Kulit delima diletakkan di luar, kulit pisang diletakkan di luar, kulit buah2an dibiarkan di luar. Tapi isi buah pisang, isi buah delima dan buah2 lainnya tidak ada yang dibiarkan di luar.

Kenapa para wanita ingin meniru kehidupan barat? Di sana wanita tidak diterima sebagai ibu, sebagai anak, sebagai istri, sebagai saudari, sebagai nenek. Yang diterima hanyalah sebagai pasangan kencan. Diterima selama masih bisa dinikmati. Tatkala itu hilang, ditinggalkan. Lelaki sangat tidak setia. Lebih mudah mengingkari janji dari pada wanita. Mengobral bicara seperti burung beo. Sedangkan wanita oleh Allah Swt diberi bakat untuk setia lebih daripada lelaki. Di sana, wanita diperlakukan spt sapu tangan. Utk menyeka keringat, setelah tidak terpakai lagi dicampakkan. Hanya sbg pasangan kencan. Lalu ke mana anak putri, ke mana ibu, kemana saudari? Allah Swt memberikan kepada kita agama yang begitu indah. 

Terkadang org2 yg bodoh menganggap kelahiran bayi wanita sbg musibah. Lalu marah2 bahkan menyiksa istrinya. Apakah tidak melihat bahwa keturunan Rasulullah Saw yg pertama adalah wanita, Zainab R.ha? Lalu Ruqayyah R.ha? Rasulullah Saw sampaikan bahwa seseorang yang diberi anak perempuan dan menerimanya dengan gembira, maka wajib surga untuknya. Dan seseorang yg memiliki tiga org anak perempuan dididik dgn baik hingga dinikahkannya, maka antara dia dan Rasulullah Saw adalah seperti antara jari telunjuk dengan jari tengah. Seseorang bertanya, “Kalau dua orang anak perempuan?” “Bila seperti itu dia pun akan spt itu dekatnya dgnku,” jawab beliau. “Bila hanya satu putri Ya Rasulullah?” “Bila spt itu dia pun akan spt itu dekatnya dgnku.” 

Lalu bagaimana yang tidak punya anak perempuan? Rasulullah Saw beritahukan bahwa “Barangsiapa yang memiliki dua anak perempuan atau dua saudari dalam keadaan kekurangan dan dia rawat hingga berkecukupan atau meninggal, maka wajib surga baginya.” Hari ini saudari haknya diambil. Setelah meninggalnya ibu tidak ada yang bisa menggantikan. Hubungan persaudaraan tidaklah murah, pecah hanya karena beberapa rupiah. Bahkan Rasulullah Saw anjurkan supaya tetap menafkahi mereka walaupun mereka telah menikah, dan surga wajib baginya. Allah SWT. dalam Al Quran tentang waris tidak memberikan jawaban tentang bagian wanita, bahwa bagian wanita adalah setengah bagian laki-laki. 

Tetapi Allah menjawab tentang bagian laki-laki, seolah-olah bagian laki-laki ini diragukan berapa besarnya, dapat atau tidaknya. Allah Saw menjelaskan bahwa laki-laki juga mendapat bagian, bagian dua wanita itulah bagian satu laki-laki. Maka bila orang tidak memberi bagian pada wanita, binasalah dia. Dan tidak ada yang bisa menyelamatkan. Di sini Allah Swt menetapkan bagian wanita, lalu memerintahkan suami untuk mencari nafkah. Menjadikan suami dalam penunaian hak lebih utama daripada istri. Ini bukan keutamaan derajat, tetapi keutamaan dalam hal pengaturan saja. 

Lelaki seluruh dunia, adakah yang melebihi Fathimah R.ha, atau Rabiah Adawiyah?

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Ini bukanlah kelebihan derajat. Di hari kiamat, lelaki manakah yang berani berhadapan dengan Aisyah Ummul Mukminin? Dalam Al Quran Allah Swt mendahulukan penyebutan hak wanita daripada lelaki.

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

”Bagi mereka (para wanita) hak atas lelaki sebagaiman kewajiban atas mereka sebagai hak lelaki….(Al Baqarah: 228)

Dalam ayat lain berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan pergaulilah mereka (istri kalian) dengan baik.” (An Nisa: 19).

Dan Rasulullah Saw bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Yang terbaik di antar kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”

Baru kemudian dijelaskan kewajiban wanita pada suami. Seorg wanita dtg bertanya, “Ya Rasulullah, kedua org tuaku akan menikahkanku. Apakah kewajibanku pada suami?” Rasulullah Saw menjawab, bila kau temui suamimu dgn luka memenuhi tubuhnya mulai kepala hingga kaki semuanya memancarkan nanah, lalu kau bersihkan nanah itu dgn lidahmu, seperti itu pun belum menunaikan haknya atasmu.” Apa yg terjadi saat ini? Gara2 masalah kecil, istri terkena marah. Karena masalah sepele, istri dipukul, istri ditampar. Padahal Rasulullah Saw di rumahnya biasa menyapu sendiri. Dgn tangannya beliau buat adonan roti diserahkan pada Aisyah, atau Juwairiyah, atau Ummu Salamah utk dijadikan roti. Dan beliau biasa mencuci baju beliau sendiri. Padahal memiliki 9 istri, tetapi baju beliau cuci sendiri. 

Beliau di rumah banyak senyum dan tawa :

كان – صلى الله عليه وسلم – ضحَّاكاً بسَّاماً

Di luar rumah selalu berfikir dan sedih. Seperti itulah Allah buat fitrah wanita, digembirakan kemudian diberi tugas. Mendidik anak menjadi pengikut2 Rasulullah Saw. Mendidik anak laki-laki sampai 15 tahun, perempuan sampai 11 tahun. Bila tiba saat pernikahan, berangkatkan dari rumah sebagai pengikut Rasulullah Saw dan sebagai peniru Fathimah R.ha. Hari ini para wanita lalai dari pendidikan. Hendaklah kita jadikan kehidupan Rasulullah Saw sebagai kehidupan kita. Adanya ummat ini pun dari seorang ibu. Lima ribu tahun yang lalu kisah ini bermula. Memang susah untuk melihat masa lalu. Apalagi lima ribu tahun. Siapa yang akan melihat. 

Di Makkah Mukaramah. Putri raja Mesir, umur 20-22 tahun. Anak dalam pangkuan. Berpisah denga suami adalah pengorbanan besar bagi seorang istri. Apalagi suami seperti Nabi Ibrahim AS. Dan ini bukan di rumah, di tengah padang pasir, tentu lebih menyedihkan lagi. Tanpa bekal yang cukup, lebih menyedihkan lagi. Tidak ada yang menghibur, kesedihan lebih lagi. Dari pangkuan Ibunda Hajar ummat ini lahir. Ummat Rasulullah Saw keluar dari pangkuan beliau. Dan sedemikian hebat beliau mendidik Ismail AS sehingga pada umur kira-kira 8 tahun Nabi Ibrahim AS bertanya, “Wahai anakku, dalam mimpi aku melihat bahwa aku akn menyembelihmu. Bagaimana menurutmu?” Mestinya, waktu itu Ismail AS menjawab, “Wahai ayah, itu kan kau lihat dalam mimpi. Apa salah saya?” Lihatlah anak kita, baru disuruh mengambilkan air minum sudah ke sana-ke mari bicaranya. Ini kita lihat bagaimana Ibunda Hajar menyiapkan putranya. 

Dan itu adalah saat pertama kali Ismail AS melihat ayahnya. Betapa gembira anak melihat ayahnya. Di Mina percakapan itu terjadi. Ismail AS tidak membantah. Bahkan ia panggil “Yaa Abati.” Saya benar2 keheranan dengan kata ini. Seorang anak disuruh melakukan kerja kecil saja, dia terkadang mengatakan, “Apa sih Ayah ini,” dengan nada keberatan dan pahit. Sedangkan ini, Ismail AS menjawab “Ya Abati.” Ini adalah panggilan sayang dan kegembiraan. Nampak oleh saya bahwa saat itu ia sgt gembira mendengar perkataan ayahnya. Seperti gembiranya mendapatkan sesuatu yg lama dicarinya. Seolah dia katakan, ”Wahai Ayah, aku akan dikorbankan utk Allah Swt ? 

Silakan lakukan. Inilah yang kuinginkan. Inilah yang kuinginkan.” Ibnu Qudamah meriwayatkan bahwa tatkala ditanya pendapatnya, Nabi Ismail AS menjawab, “Bila engkau menyembelihku aku akan mendapatkan Allah Swt yg pasti lebih baik daripada engkau. Mendapatkan surga yang lebih baik daripada dunia.” Kemudian beliau melepas gamisnya dan berpesan agar diberikan kepada ibunya. Agar melihatnya bila rindu kepada anaknya. Sebab tidak ada pertanda apa pun pada ibunya untuk mengenang anaknya. Dan meminta supaya gamis Nabi Ibrahim AS dijadikan kafannya. “Ikatlah kakiku, ikatlah tanganku. Baringkan aku pada dahiku.”

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ 

(Ash Shaffat: 103).

Maka seperti kambing yang akan disembelih, kaki diikat agar tidak berontak, tangan diikat agar tidak melawan. Badan ditelungkupkan. Tangan kiri menggenggam rambut Ismail AS, tangan kanan memgang pedang untuk menyembelih. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, bila ini engkau perintahkan karena kemurkaanMu sebab Ismail kadang terlintas dalam hatiku, dengan ini jauhkanlah kemurkaanMu. Dan bila ini karena Engkau mengujiku, sukseskanlah aku dalam ujian ini.” Beliau sayatkan pedang ke leher putranya. Malaikat langit menjerit. Kalimat Nabi Ibrahim AS mengoyak hati mereka. Andaikan Mina bisa bersuara, tentulah ia akan berteriak menangis.

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ 

(Ash Shaffat: 103-104)

“Bagus…bagus… terbukti bahwa hatimu hanya untukKu bukan untuk yang lain.” 

Sukses dalam ujian. Seperti ini ibu yang kita cari. Permata seperti inilah yang telah lama hilang. Permata ini yang sedang kita cari. Barang kali terselip bisa diambil dijadikan kalung yg menghias leher umat. Bila anak dididik dlm pangkuan yg subur, akan muncul lentera dan matahari hidayah. Abdullah bin Zubair RA bersama 18 orang terjebak dlm kepungan tiga ribu pasukan Hajjaj bin Yusuf. 

Beliau mendatangi ibunya, Asma binti Abu Bakr RA. “Ibu, Hajjaj menawarkan perdamaian padaku, bila aku terima, selamat nyawaku. Bagaimana nasehat mu?” Ibunya menjawab, “Putraku, bila dgn peperangan ini, dunia yg kau cari, binasalah dirimu dan kawan2mu. Dan bila akhirat yg kau cari, jgn terima perdamaian. Hidupmu adalah kemuliaan dan matimu pun kemuliaan.” Beliau menjawab, “Ibu, memimpikan dunia pun sampai skrg aku tidak pernah, bagaimana mungkin aku mengangkat pedangku utk dunia?” “Anakku, ini adalah pertemuan terakhir kita.” Mereka berpelukan. 

Saat itu Asma R.ha merasakan ada besi di balik baju anaknya. “Anakku, apa ini?” “Aku tidak mau setelah kematianku mereka mencincang tubuhku,” jawab beliau. Asma R.ha berkata, “Bila kambing sudah disembelih, ia tidak akan takut sakitnya dikuliti.” Ibu memberangkatkan anaknya menuju kematian. Sang ibu sendiri yg melepas baju besi. Beliau berangkat. Dari pagi sampai sore dengan pedang di kedua tangan beliau bertarung bersama delapan belas org menghadapi tiga ribu pasukan. Tidak ada musuh yg bisa mendekati mereka. Menjelang Ashar, dari gunung Abu Qubais musuh membidikkan batu besar ke arah beliau. 

Beliau jatuh tersungkur sambil membacakan syair, “Kami bukanlah kaum yg menghiasi tumit dgn darah punggung kami. Tetapi kami adalah kaum yg mewarnai cakar kami dgn darah dari dada kami.” Begitu besar batu itu, Abdullah RA jatuh tersungkur. “Wahai ibu, jgn kau tangisi aku.” Seperti itu ibunya, begitulah anaknya. Ibu seperi inilah yang kita cari. Tapi itu pasti bukan ibu yang terbiasa denga nyanyian. Itu pasti bukan ibu yang tanpa hijab berkeliaran di pasar. Pasti itu adalah ibu yang selalu menutup rapat auratnya. Pasti itu adalah ibu yang selalu tinggal di rumahnya sebagi putri Fathimah R.ha dan budak Rasulullah Saw. Kalaupun keluar rumah, tiap langkahnya akan mendekatkannya kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw menangisi kita bertahun2 lamanya. Kita malah membinasakan diri dalam dunia. Di Arafah, lima jam beliau berdoa untuk umat. Duduk di atas unta yg tak kenal istirahat. Di bawah teriknya matahari bulan April. Terkadang beliau angkat tangannya ke arah langit. Terkadang beliau letakkan pada dada. Terkadang bila unta bergerak2, satu tangan memegang tali kekang. Bila sudah tenang kembali kedua tangan beliau angkat ke atas. Beliau hanya berdoa utk umat saja. Bukan untuk anak dan keturunan beliau. Padahal beliau sudah mendengar kabar musibah yg akan menimpa keturunan beliau. Beliau peluk cucu beliau Husain RA dalam pangkuan sambil menangis lama. 

Salman RA yang melihat kejadian itu bertanya. Beliau menjawab, “Baru saja Jibril AS mendatangiku dan memberi kabar bahawa cucuku ini akan dibunuh oleh umatku. Dinampakkan padaku bagaimana mereka menumpahkan darah.” 16 org keluarga Husain RA dibantai dan dipotong2. Ditambah lima orang saudara seayah beliau. 72 kepala dipenggal. Terakhir, Abdullah, anak kecil yg tidak berdosa pun dibunuh juga. Sedangkan para wanita ditawan dibawa oleh pasukan ibnu Ziyad. Takala mereka melewati kepala yg bertebaran, salah seorang berkata, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad, ini Husain dipenggal kepalanya, bertebaran anggota tubuhnya. Keturunan laki2mu dibunuh. Dan putri2mu dijadikan tawanan.” Mendengar itu, semuanya menangis. Musuh pun menangis. Pembantaian yang akan menimpa keturunan beliau tahan. Tapi untuk umat merengek2 beliau memohon.

Rabiul Awwal tiba. Saatnya beliau meninggalkan dunia. Datang malaikat Jibril AS berkata, “Ada satu malaikat lagi, besar, menunggu di luar. Belum pernah datang sebelumnya, dan tidak akan datang lagi selamanya. Malaikat maut minta izin padamu untuk masuk.” Betapa tingginya derajat Nabi kita, malaikat maut pun minta izin dulu sebelum masuk ke dalam rumahnya. “Masuklah,” kata beliau. Izrail AS berkata,”Ya Rasulullah, sejak aku ditetapkan sbg malaikat maut, ini pertama kali Allah berfirman padaku, ‘Mintalah izin. Bila diizinkan masuklah. 

Bila tidak, kembalilah. Tanyalah dulu, akan pergi atau akan tinggal. Bila memilih tinggal, kembalilah.” Rasulullah Saw bertanya kepada Jibril AS, “Apa pendapatmu?” “Ya Rasulullah, Allah Swt rindu untuk bertemu denganmu.” “Benarkah? Tapi aku tidak bisa pergi sebelum kuselesaikan urusan umatku.” Jibril AS pergi, Izrail AS diam menanti. Sebentar kemudian dtg dan berkata, “Allah Swt berfirman bahwa umatmu tidak akan dibiarkan sendirian.” “Skrg, sudah tenang hatiku,” kata beliau. Andaikan bukan karena jerih payah beliau, tentulah kita ini sudah menjadi hewan yg berkeliaran. Pahamilah, hargailah tangisan beliau untuk umatnya. Untuk keturunan beliau pun beliau tidak berdoa seperti itu. Beliau bersabda kpd malakul maut, “ Lakukan tugasmu!” Jibril AS berteriak, “Ya Rasulullah, begitukah keputusanmu? Berarti, inilah kali terakhirku dtg ke dunia. Silsilah wahyu berakhir sudah.” 

Tatkala Izrail AS mulai mengambil ruh beliau, sahabat Ali RA yg memegang tubuh beliau berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada kematian di dunia ini spt kematian mu. Andaikan engkau tidak memerintah kami utk bersabar, tentulah kami akan tunjukkan pada dunia, bagaimanakah menangis itu? Tentulah dunia akan melihat, spt apakah yg namanya bersedih.” Di akhir nafas, beliau berpesan kpd umat, “Jgnlah umatku meninggalkan solat. Dan perhatikan hamba sahaya kalian.” Hari ini berapa banyak wanita bertebaran di pasar meninggalkan solat? Anak2 muda nongkrong, berapa yg solat? Dan pesan yg kedua, apa maksudnya? Berbuat baiklah pada org miskin, pada bawahan, pada para pembantu. Mereka juga orang mukmin. Mereka pun punya keluarga. Punya anak. Punya ibu. Jangan sampai karena kesalahan2 kecil kita berlaku kasar pada mereka.

Itulah pesan terakhir Nabi kita. Dan tatkala suara beliau makin lemah, beliau bersabda, “Solat, solat, solat. Allahumma ma’arrafiqil a’la.” Beliau wafat. Ibunda Aisyah R.ha menjerit. Mendengar suara jeritan dari dlm rumah Rasulullah terjadi keributan di luar. Umar RA segera menghunus pedangnya dan berkata, “Awas, barangsiapa mengatakan bahwa Rasulullah saw telah wafat, kupenggal lehernya. Beliau hanya pergi utk bermunajat kpd Allah sebagaimana Musa AS bermunajat. Beliau akan kembali.” 

Abu Bakar RA dtg, langsung masuk ke dlm rumah dan membuka selimut Rasulullah Saw. Beliau cium kening beliau Saw, menangis sambil berkata, “Wahai Nabi, wahai Kekasih, wahai belahan jiwa.” Dgn tenang beliau melangkah ke dlm masjid. “Duduk!” kata beliau pada Umar RA. Umar RA dgn tegas menolak, “Saya tidak akan duduk.” Abu Bakar RA naik mimbar dan berkhutbah, “Wahai manusia, barangsiapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Hidup dan Kekal. Lalu beliau bacakan firman Allah Swt :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ  الشَّاكِرِينَ 

(Ali Imran: 144).

Mendengar itu, UmarRA jatuh tersungkur. “Seolah ayat itu baru hari itu diturunkan,” kata Umar RA. Di hari berkabung itu, tiba waktu Zhuhur Bilal RA mengumandangkan azan. Begitu sampai pada kata “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah” suara tersekat. Dua puluh kali diulang. Suara melemah. Madinah gemuruh dgn suara tangis. Para wanita tidak mampu menahan suara mereka. Begitu turun, Bilal RA mengatakan, “Mulai hari ini aku tidak akan azan lagi.” Musafir yang menangisi umat telah pergi. Di saat kepergiannya pun umatnya yg dipikirkan. Dan setelah kematiannya pun ummatnya yang dipikirkan. 

Imam Al Atabiy, Annawawi, Ibnu Katsir meriwayatkan kisah: Al Atabiy berkata, “Takala aku duduk di dekat kubur Rasulullah Saw seorang badui datang ke kubur Rasulullah Saw dan membaca ayat:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon kan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Aku datang dengan memohon ampun atas dosaku dan meminta syafaat padamu pada Rabbku. Lalu membaca bait syair:

يا خيرَ من دُفنَت بالبقاع أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ

Wahai yang dikubur di pelataran yang dengannya tanah menjadi berkah, lambah menjadi berkah, dan gunung pun menjadi berkah. Aku korbankan diriku kubur yang engkau tempati, di situlah kedermawanan, di situlah kemuliaan, di situlah keluhuran

Dua bait syair ini tertulis di kubur beliau yang mulia hingga hari ini. Tambah dua bait lagi:

أنت الشفيع الذي ترجى شفاعته … على الصراط إذا ما زلت القدم
وصاحباك فلا أنساهما أبدا … مني السلام عليكم ما جرى القلم

Engkaulah pemberi syafaat yg diharapkan syafaatnya di atas shirat tatkala telapak kaki tergelincir. Juga kedua sahabatmu tidak akan aku lupakan selamanya, salam dariku utk kalian selama qalam masih berjalan.”

Syair yang sudah ratusan tahun ini abadi hingga hari ini. Lalu orang badui itu pergi dan Imam Al Atabi tertidur. Beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw yang bersabda, “Kejar orang badui itu dan sampaikan padanya bahwa Rabb telah mengampuni dosanya.” Setelah wafat pun masih berjalan bantuan untuk ummatnya. Tidak adakah yang sadar? Tidak adakah yang terguagah? Ini baru di dunia, lihatlah jauh ke depan. Tatkala semua orang mengatakan nafsi…nafsi.. (diriku…diriku…). Suami tidak ingat istri, istri tidak ingat suami. Anak tidak ingat orang tua, ayah dan ibu tidak ingat anak. Adam AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Idris AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Nuh AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Hud AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Shalih AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Yunus AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Musa AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Harun AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Yahya AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Zakaria AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi ‘Isa AS berkata, “nafsi…nafsi.”

Tapi ada satu pribadi yang berbeda dengan lainnya, yang berseru Ya Allah umatku, umatku. Padahal semua Nabi memikirkan diri masing2. Ibu memikirkan diri masing2. Nabi kita tetap setia memikirkan umatnya. Maka mengapa kita ingkari beliau? Mengapa kita khianati beliau? Mengapa kita durhakai? Tidak adakah org lainnya? Maka segeralah bertaubat, segeralah bertaubat. Sebenarnya saya ingin berbicara singkat, ttpi pembicaraan menjadi panjang. Saya tidak tahu kapan bertemu lagi dgn majma seperti ini? Org mengatakan kita gila, mondar-mandir meninggalkan keluarga. Bukan sembarang gila, ttpi kengerian pemandangan akhirat membuat kita lupa. Membuat kita gila. 

Kengerian kematian membuat kita melupa kan segala kesusahan. Dan surga serta indahnya keadaan setelah kematian telah membuat kita lupa pada masalah2 dunia. Kita inginkan, Nabi Saw akan menyambut, “Wahai wanita muslimah dari abad lima belas yg telah memperjuangkan perasaan malunya. Tatkala para wanita hidup ala barat, berkeliaran di pasar2, dan kalian menjaga hijab kalian, bangkitlah bersama Fatimah putriku. Betapa indahnya saat itu bila kita berhasil meminum air telaga kautsar yg diberikan dgn tangan mulia Rasulullah Saw sendiri. Tatkala beliau memeluk umatnya dari abad lima belas. Tidakkah itu menjadi cita-cita kita? Bertaubatlah, bertaubatlah, berangkatkan segera para suami, ayah, anak, saudara 4 bln 40 hari bersama jamaah. 

Dan ibu-ibu juga bentuk jamaah keluar bersama suami, ayah, anak, saudara. Hidupkan amal agama di rumah. Solat, tilawah Al Quran, pendidikan anak secara Islami, menunaikan hak suami, menunaikan hak istri. Menyiapkan makanan yang halal untuk keluarga. Keluar dengan hijab sempurna. Allah Swt tidak melarang wanita keluar rumah. Tetapi bila keluar hendaklah meniru putri Nabi Syu’aib AS yang memanggil Nabi Musa AS. Allah Swt kisahkan bahwa ia datang berjalan di atas rasa malu. Seolah-olah rasa malu itulah kendaraan yang dinaikinya. 

Ummu Salamah R.ha bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yg lebih utama antara bidadari dan wanita yg masuk surga. Bidadari diciptakan dari kasturi, ambar dan lain-lainnya. Sedangkan wanita dunia diciptakan dari lumpur dan air?” Beliau Saw menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita mukminah yg masuk surga lebih utama dpd bidadari.” “Mengapa wahai Rasulullah?” “Sebab shalat mereka, sebab puasa mereka, sebab ibadah mereka kepada Allah Swt, sebab kitab Allah Swt. Allah Swt memberikan nur dariNya pada wajah mereka. Kecantikan bidadari redup di depan mereka. Bidadari tinggallah sebagi pembantu mereka. Bidadari yang membantu mengangkat rambut mereka. Ujung pakaian mereka menjuntai samapai tiga batu jauhnya. 

Tiga batu. Lama saya berpikir tentang pakaian tiga batu ini. Akhirnya saya mengerti bahwa pakaian penduduk surga terbuat dari cahaya. Sedangkan cahaya tidak ada berat jenisnya. Tiga batu atau tiga ratus batu tidak akan terasa beratnya. Sekali pakai seratus stel setiap stel berbeda corak dan warna. Dan setiap stel memiliki pengaruh kecantikan pada wajah tersendiri. Allah berikan kecantikan pada mereka sehingga suami istri berpandangan empat puluh tahun lamanya tidak ada bosannya. Maka kita taubat. Semuanya, laki-laki dan wanita taubat. Mengganti arah hidup kita. Kita ini bukan jamaah tabligh seperti yang dianggap orang. Kita ingin hidup sesuai dengan kekasih kita. Bila untuk memasak saja kita perlu belajar dan kita mesti menyempatkan waktu untuk itu. 

Untuk hidup sesuai denga cara Rasulullah Saw pun perlu diusahakan. Selain itu, kita punya tggjwb utk menyampaikan agama ke hujung2 dunia. Wanita tentukan satu bagian dari rumahnya utk tempat shalatnya. Laki2 bagus shalat sunnat di sana. Sedangkan shalat wajib di rumah. Satu waktu ditentukan utk taklim bersama2. Saling pahami hak dan kewajiban suami istri. Jangan sampai karena kebodohan akhirnya yg terjadi berlebihan. Suami melarang istri utk bertemu orang tuanya. Atau orang tua isteri merasa berat untuk melepaskan puterinya. Sehingga setelah pernikahan malah musibah dan kesedihan yang didapati. Ini semua karena kebodohan. Hiasi anak-anak dengan akhlak. Jangan merasa cukup menjadikan anak sebagai dokter, insinyur, pejabat, pedagang. 

Sudahkah kita jadikan anak kita sebagai manusia. Ada orang yang Allah Swt pandang dengan sangat jijik seperti jijiknya kita memandang kotoran manusia. Siapakah mereka? Orang yang merasa gembira dengan mengadu domba. Dia sampaikan pembicaraan dari sana-sini sehingga terjadi pertengkaran. Hidup adalah akhlak. Walaupun tinggal di rumah yang gelap gulita maka akan nampak cahaya rembulan di sana. Dalam pernikahan jangan jadikan harta sebagai ukuran. Jangan lihat berapa mahar yang mampu dia berikan, apa profesinya, apa saja bingkisannya. Yang paling utama, bagaimana akhlaknya. Jagalah tilawah Al Quran, tentukan waktu untuk berdzikir kepada Allah Swt. Doa.

No comments:

Post a Comment