Wednesday, February 11, 2015

SEMUA BERITA DI ZAMAN FITNAH ADALAH HAOX (PALSU) SEBELUM TABAYYUN

(Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin)

Haox pernah menerpa muslimin sekitar 30 tahun sepeninggal Rasulullah Saw sampai kemudian para ulama generasi awal merumuskan teknik penyaringan informasi dengan memberlakukan standar keadilan dan kekuatan hafalan para penyampainya. Hal ini sangat mendesak karena informsi yang diserang hoax kala itu adalah informasi dari Rasulullah Saw yang disebut Hadits. Hasilnya, semua informasi, khususnya informasi dari Rasulullah Saw, baik yang benar maupun yang hoax tidak boleh dipercaya dulu sebelum para penyampainya teruji lulus standarisasi di atas.

Imam Ibn Sirin (w. 110 H.), seorang tabiin yang dikenal adil, amanah, dan dhabit (kuat hafalannya) menyatakan, bahwa para sahabat, ketika mendengar informasi dari Rasulullah Saw, tidak pernah menanyakan siapa para penyampainya. Mereka langsung percaya dan mengamalkan. Karena saat itu belum ada yang berani berbohong mengatasnamakan Rasulullah Saw. Tapi setelah terjadi fitnah, mereka selalu meneliti siapa para penyampainya. Yakni, dengan kata lain, yang memicu viralnya informasi hoax adalah fitnah, dan apakah yang dimaksud fitnah?

Para ahli hadits secara umum mengartikan fitnah dengan menyebarnya kebohongan, maksiat dan kefasikan. Penyebabnya adalah perbedaan pandangan antara penguasa dan umat dalam kebijakan-kebijakannya. Saya tidak menyebutnya perbedaan antara penguasa dan ulama, kerena masing-masing dari penguasa dan umat saat itu dipimpin oleh ulama. Umat yakin penguasanya tidak adil dan telah keluar dari batas-batas syariat. Demikian penguasa meyakini umat telah melanggar batas-batas syariat.

Kedua belah pihak ngotot mempertahankan keyakinannya sampai terjadi perang saudara dalam upaya menuntut keadilan, karena masing-masing punya dalil. Peradaban hoax pun dimulai. Masing-masing pihak semakin haus akan dalil yang membuktikan kebanaran tindakannya dan yang memompa semangat perjuangan agar tidak pernah surut. Sangat dimungkinkan pembuat hoax bukan dari kedua kubu yang berselisih tapi dari pihak lain yang tidak menginginkan muslimin damai. Adapun kedua belah pihak yang berselisih hanya menjadi penyebarnya. Bagaimana mereka tidak tergiur menyebarkan berita hoax itu sementara isinya mendukung perjuangan mereka.

Hoax yang disebarkan penguasa adalah hoax yang mendukung kebijakan mereka dan melemahkan umat, sedang hoax yang disebarkan umat adalah hoax yang mendukung perjuangan mereka dan melemahkan penguasa. Ketika penyebaran hoax tersebut salah kamar atau sengaja disalahalamatkan, misalnya hoax yang mendukung kebijakan penguasa dan melemahkan umat malah menyebar di pihak umat, atau sebaliknya, maka hoax yang baru akan berlangsung. Yakni, masing-masing merasa telah difitnah. Umat merasa difitnah penguasa, dan penguasa merasa dfitnah umat. Informasi yang mendukung lawan akan langsung disebut hoax dan fitnah sehingga semakin memperkeruh keadaan.

Dalam tingkatan paling parah hoax tersebut disandarkan kepada Rasulullah Saw melalui orang-orang yang amanah. Misalnya Rasulullah Saw bersabda sebagaimana didengar oleh Ibn Abbas lalu disampaikan kepada Mujahid bin Jabar. Hoax itu dikemas sedemikian rapih seolah benar berita tersebut disampaikan oleh orang-orang yang amanah tersebut. Misalnya hoax yang sekarang viral di negara kita. Di antaranya, Imam al-Syafii pernah ditanya bagaimana cara mengenali pengikut kebenaran di zaman fitnah. Beliau menjawab: "Ikuti panah-panah musuh mengarah kemana. Ia akan menunjukanmu kepada mereka.”

Kalimat yang disandarkan kepada Imam Syafii di atas jelas hoax tapi sangat dipercaya dan diviralkan oleh umat yang sedang berjuang melawan kebijakan penguasa yang dianggap tidak adil lalu pimpinan mereka malah dikriminalisasi penguasa. Imam al-Syafii tidak pernah mengatakan demikian. Dalam kitab apa adanya? Tidak ada. Tapi hanya orang alim yang tahu kehoaxannya. Adapun orang awam seandainya hoax tersebut dikuatkan dengan referensi hoax pula maka akan lebih percaya lagi misalnya ditambah keterangan "sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam al-Syafii." Tidak mungkin orang awam melacak kedalam kitab tersebut. Bahkan mereka tidak dapat memastikan apakah kitab tersebut hoax atau tidak.

Dalam kondisi fitnah seperti sekarang sikap yang paling bijak adalah seperti yang dilakukan Ibn Abbas. Yakni setiap informasi, apapun itu, harus dianggap hoax dulu sebelum diteliti. Dalam Muqaddimah Shahih Muslim diriwayatkan, Busyair al-Adawi menyampaikan hadits kepada Ibn Abbas. Tapi Ibn Abbas tidak meresponnya. Busyair berkata: "Mengapa engkau tidak bereaksi apa-apa dengan sabda Rasulullah Saw yang kusampaikan." Ibn Abbas berkata: "Ketika kami mendengar orang mengatakan Rasulullah Saw bersabda maka kami bersegera memperhatikannya dengan mata dan telinga kami. Tapi setelah manusia hanyut dalam pergolakan fitnah kami tidak mengambil kecuali dari orang yang kami kenal keadilannya." Kita mengenalnya dengan istilah “tabayyun."

Tabayyun adalah meneliti sendiri. Hasil tabayyun orang lain yang kita terima dari orang yang lain pula adalah berita yang perlu ditabayyun lagi. Apalagi fitnah zaman sekarang ini yang sudah jauh masanya dari Rasulullah Saw. Tampaknya tabayyun pun harus ditabayyun lagi. Wallaahu A’lam (Dubai, 11 Februari 2017)

No comments:

Post a Comment