Sunday, January 31, 2010

PENGARUH MELAYU DALAM MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR

Sesungguhnya, kehadiran bangsawan Bugis Makassar di Tanah Melayu tak ubahnya seperti fenomena arus balik sejarah. Jauh sebelum mereka masuk ke jantung kekuasaan Melayu, orang orang Melayu lah yang lebih dahulu berperan dalam dinamika lokal di negeri Bugis Makassar.

Menyusul kejatuhan Melaka ke tangan Portugis  pada 1511, tidak sedikit kerabat istana yang pergi ke berbagai penjuru angin. Beberapa kelompok berkelana hingga ke Sulawesi. Di wilayah Kerajaan Gowa ini mereka bermukim di Salojo, daerah pesisir Makassar di perkampungan Sanrobone.


Hasil penelusuran Mukhlis Paeni, sejarawan-antropolog sosial dari Universitas Hasanuddin, memperlihatkan bahwa sampai 1615 roda perekonomian, khususnya perdagangan antara pulau melalui pelabuhan Makassar, dikuasai oleh orang Melayu. Baru pada 1621 orang orang Bugis Makassar ikut ambil bahagian penting dalam dunia perdagangan dan pelayaran di Nusantara.


”Sejak kedatangan orang orang Melayu di Kerajaan Gowa, peranan mereka tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama, tapi juga dalam kegiatan sosial budaya, bahkan di birokrasi. Dalam struktur kekuasaan Kerajaan Gowa, banyak orang Melayu yang memegang peran penting di istana,” kata Mukhlis, yang juga adalah Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).


Di zaman Raja Gowa ke 10 (1546-1565), misalnya, seorang keturunan Melayu Makassar berdarah campuran Bajau yang amat terkemuka bernama I Mangambari Kare Mangaweang diangkat sebagai Syahbandar Kerajaan Gowa ke-2. Sejak saat itu, kata Mukhlis, secara turun temurun jabatan syahbandar dipegang oleh orang Melayu, sampai dengan Syahbandar Incek Husa ketika Kerajaan Gowa kalah dalam perang melawan VOC tahun 1669.


Jabatan penting lainnya ialah juru tulis istana, yakni ketika Incek Amin menduduki jabatan itu pada zaman Sultan Hasanuddin (1653-1669). Juri tulis di istana ini sangat terkenal melalui syairnya yang amat indah, Shair Perang Mangkasar, mengisahkan saat-saat terakhir Kerajaan Gowa tahun 1669.


Menurut Mukhlis, sumbangan utama orang orang Melayu di wilayah timur Nusantara tidak terbatas di bidang perdagangan dan penyebaran agama Islam, tetapi juga di bidang pendidikan dan kebudayaan. Pada masa itulah naskah naskah keagamaan dan sastera berbahasa Melayu diterjemahkan ke bahasa Bugis.


Tradisi intelektual ini berlanjut hingga abad ke-19. Salah satunya, penulisan ulang I La Galigo, karya sastra Bugis yang disebut-sebut sebagai karya sastra terbesar dari khazanah kesusastraan Indonesia pada tahun 1860 oleh bangsawan Bugis dari Tanate bernama Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate.


”Namun, siapa sebenarnya tokoh yang disebut bangsawan Bugis ini? Dia adalah Ratna Kencana. Ibunya bernama Siti Jauhar Manikan, putri Incek Ali Abdullah Datu Pabean, Syahbandar Makassar abad ke 19, yang tak lain keturunan Melayu Johor berdarah Bugis Makassar,” tutur Mukhlis.


Dalam proses akulturasi budaya dan perkahwinan antara orang Melayu dan orang orang Bugis Makassar, lahirnya “generasi baru” Bugis Makassar keturunan Melayu. Mereka ini secara umum dikenal sebagai masyarakat golongan tubaji (Makassar) atau tudeceng (Bugis). Dalam struktur sosial kemasyarakatan mereka ini menempati posisi terhormat, bahkan tak sedikit yang masuk ke struktur golongan bangsawan.


Ketika Benteng Somba Opu jatuh dan Sultan Hasanuddin harus tunduk pada isi Perjanjian Bongaya, kelompok masyarakat ”Melayu Bugis Makassar” inilah sebagai motor penggerak migrasi di kalangan bangsawan Kerajaan Gowa. Namun, terlepas dari adanya semacam “arus balik” tersebut, perkahwinan campuran Melayu Bugis Makassar ini telah melahirkan apa yang disebut Mukhlis Paeni sebagai masyarakat baru Nusantara.


”Dalam diri para tubaji/tudeceng mengalir darah intelektual Melayu, bercampur heroisme Bugis Makassar, dan kearifan Bajau. Sejarah mencatat, kehadiran masyarakat baru Nusantara ini berperan penting dalam sejarah Nusantara abad 18-19. Peran ini masih berlanjut hingga kini,” kata Mukhlis PaEni.


Diaspora Bugis Makassar adalah sebuah keniscayaan, bagian dari sejarah bangsa ini menemukan keindonesiaannya. Dan memang, harus diakui, mereka adalah produk pluralistik yang lahir dari dinamika sejarah masyarakat Nusantara (Kompas, 16 Januari 2009).



No comments:

Post a Comment