Sunday, June 19, 2016

RAHSIA MBAH HASYIM DAN SELAWAT NARIYAH

RAHSIA MBAH HASYIM NGAJI 120 TAHUN, 40 TAHUN DENGAN IMAM BUKHARI, 40 TAHUN DENGAN IMAM SYAFI'I, 40 TAHUN DENGAN IMAM JUNAIDI DAN IMAM GHAZALI

Ketika Mbah Hasyim masih belajar di Bangkalan, Madura, beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Khalil hingga kesempatan untuk belajar pun tidak banyak. 

Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu dari Jawa dan kebetulan dia seorang Kyai namun santrinya tak sampai ratusan hanya puluhan saja. 

Setelah tamu ditanya keperluannya apa, lalu tamu tersebut mengutarakan keperluannya kepada Mbah Khalil.

Tamu: “Mbah Kholil, saya datang kesini kyai pertama niat silaturahmi dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya berhubung dia sudah dewasa kiranya patut saya carikan jodoh apalagi usia saya juga sudah ada di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil ruh saya Kyai. Jika ada Kyai, saya mohon petunjuk dan izin Kyai untk mencarikannya”.

Tanpa berfikir panjang Mbah Khalil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. 

Spontan Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil langsung lari tunggang langgang menghadap sang guru.

Mbah Hasyim, “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”

Mbah Kholil, “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Khalil berkata kepada tamu beliau. 

"Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu". 

Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya. Mana mungkin iya sih santri mblasaken seperti ini akan mengurus pesantrenku? Saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.

Disisi lain Mbah Hasyim pun terkejut pula sambil begumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Khalil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama yang begitu mulia dan santrinya banyak nan berwibawa serta alim?

Mbah Khalil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.

Mbah Khalil, “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”

Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya dalam hati kecilnya, “Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?”

Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. Di saat-saat seperti itulah Hidayah Allah ditampakkan. 

Mbah Hasyim teringat dimana suatu hari saat Mbah Khalil molang kitab beliau Dawuh sederhana saja, “Barang siapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya maka bacalah selawat nariyah sebanyak-banyaknya dan pada waktu ijabah sangat dianjurkan yaitu setelah separuh malam hingga menjelang subuh”.

Saat malam kira-kira jam 12 malam, Mbah Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan gurunya itu iaitu membaca Shalawat Nariyah sebanyak-banyaknya, dan menjelang Subuh beliau ketiduran dan hal ajaib dimana dalam mimpi tidur sekejapnya beliau bermimpi bertemu Imam al-Bukhari dan mengajarkan kepada beliau hadits shahih selama 40 tahun lamanya, lalu beliau terbangun serta terkejut tidak percaya atas mimpinya itu.

Di malam yang kedua terjadi lagi, dalam mimpinya beliau bertemu Imam as-Syafi’i dan mengajarkan kepada beliau kitab-kitab Fiqih dari berbagai Madzhab yaitu Imam as-Syafi’i sendiri Hanafi, Maliki dan Hambali selama 40 Tahun lamanya.

Dimalam ke tiga beliau bermimpi bertemu dgn Imam al-Ghazali dan Junadi al-Baghdadi yang mengajarkan beliau kitab-kitab tasawwuf selama 40 tahun. Setelah beliau bangun, beliau terkejut dan bertanya dalam pikirannya apa makna dari semua mimpi ini. Kesokan harinya beliau hendak bertanya kepada gurunya namun tidak ada kesempatan karena beliau justru disuruh siap-siap berangkat ke rumah calon mertua untuk melangsungkan aqad nikah.

Lalu keduanya pun berangkat hingga ditempat tujuan langsung dilakukan aqad nikah. Selesai itu Mbah Khalil akan pulang ke Bangkalan. Sepatah katapun tak ada yang keluar terucap dari Mbah Khalil mulai dari Bangkalan hingga sampai di tempat akad pernikahan. Baru Mbah Khalil hendak pulang beliau dawuh kepada Mbah Hasyim lalu kepada mertuanya dan disaksikan banyak santri dan tamu undangan.

Kepada Mbah Kholil, “Hasyim Jangan Nyelewang-Nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi melalui ulama’nya dan ikutilah ulama’nya Allah agar selamat, Allah pasti bersamamu.”

Kepada mertua Mbah Hasyim, “Jangan ragu dengan Hasyim dia sudah ngaji 120 tahun lamanya.”

Baik Mbah Hasyim, mertua dan para tamu tidak begitu paham serta kebingungan menafsiri dawuh Mbah Khalil karena mereka pikir ini tak masuk akal bila ngajinya sampai 120 tahun sementara usia beliau belum sampai 50 tahun. Lalu Mbah Khalil pun balik ke Bangkalan.

Esoknya Mbah Hasyim diuji mertuanya sembari ingin membuktikan se alim apakah menantunya yang dijaguhkan gurunya itu dan beliaupun dengan agak gugup berada di masjid sementara di tempat yang biasa mertuanya duduk sudah disediakan 2 kitab tafsir dan hadits. Tanpa ditanya si santripun dan Ustad memberitahukan batas yang harus diajarkan dan dibaca. 

Keajaiban pun dimulai tanpa harus melihat apalagi memegang kitabnya, Mbah Hasyim langsung membaca dengan fasih dan hafal diluar kepala serta membahasnya layaknya Masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu, tak satupun ada yang salah. Ustad dan santri kanan yang tidak yakin dengan kemampuan beliaupun pun menjadi takjub. Begitu pula mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya pun ikut takjub.

Dari hari itu hingga seterusnya Mbah Hasyimlah yang molang semua kitab-kitab klasik yang tebal dari berbagai cabang ilmu agama Islam. Itulah beberapa karamah Mbah Khalil kepada Mbah Hasyim dan masih banyak lagi karamah-karamah beliau kepada santri-santri beliau yang lain. Semoga Allah sentiasa mengalirkan titisan-titisan berkat dan manfaat dari beliau-beliau ini kepada kita dan anak cucu kita sehingga kita tetap berada di jalur Ahli Sunnah Wal Jamaah.

No comments:

Post a Comment