Tuesday, March 1, 2016

SATU AKHLAK AKAN MENYERET AKHLAK LAIN

Tidak ada akhlak yang bisa bertahan sendirian. Masing-masing membutuhkan dukungan dari akhlak lain. Sebaliknya, suatu akhlak akan mendorong kemunculan akhlak lain. Ibarat makhluk-makhluk dalam suatu eko­sistem, setiap akhlak mulia membutuhkan dukungan akhlak mulia lainnya. Demikian pula akhlak tercela.  Pendek kata, rusak dan punahnya suatu akhlak mulia bisa mengakibatkan rusak dan punahnya akhlak mulia yang lain. Sama pula, kehadiran suatu akhlak buruk akan menyeret akhlak buruk lain.

Logika di balik berantainya kebaikan dan keburukan ini dipahami dengan baik oleh generasi Salaf, sehingga ' Urwah bin Zubair (tabi'in) berkata, "Bila engkau meli­hat seseorang melakukan kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki saudara-saudara pada diri orang  tersebut:' Sebaliknya, kata 'Urwah lagi, "Bila engkau melihat  seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara pada diri orang tersebut:' "Sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada saudara-saudaranya, clan demikian pula keburukan itu menunjukkan kepada saudara saudaranya:' (Riwayat Abu 1  Nu' aim dalam Hilyatul Auliya', II/ 177).Dari sini kita bisa mengerti mengapa Rasulullah SAW meminta kita beramal saleh secara kontinyu, walaupun kecil kadarnya. Sederhana saja, karena setiap kebaikan akan memanggil kawan-kawannya, sedikit demi sedikit, waktu demi waktu, sampai akhirnya diri kita dipenuhi  aneka kebaikan dari segenap sisi.

MENYERET SAUDARA 

Ada sejumlah akhlak dan perbuatan yang bila dilaku­kan akan mendatangkan akhlak dan amal lain dari jenisnya, baik yang mulia maupun tercela. Rasulullah SAW dan ulama telah merumuskan rambu-rambunya untuk kita. Berikut ini disajikan sebagian kecil contoh. 

BERHUTANG 

Sebenarnya, pinJam-meminJam dan utang-piutang adalah perbuatan lazim sejak dahulu kala. Bahkan, ayat terpanjang dalam al-Qur'an, yakni surah A1-Baqarah [2] ayat 282, ternyata bicara masalah utang-piutang.  Bila utang piutang dilaksanakan dengan mematuhi syariat, maka di dalamnya terkandung sifat tolong menolong, saling percaya, menepati janji, dan meringankan beban sesama. Ini jelas akhlak mulia dalam Islam. 
Akan tetapi, mengutangi (menjadi kreditur) tentu berbeda dengan berhutang (menjacli debitur). Tangan diatas tidak sama dengan tangan di bawah.  

Meski tidak pernah melarang umatnya berutang, akan tetapi Rasulullah SAW meminta kita berhati-hati dalam masalah ini. Sebab, berutang juga bisa menjadi pemicu  sejumlah akhlak tercela. Diceritakan oleh ummul mukminin 'Aisyah, bahwa Rasulullah SAW sering berdoa agar terhindar dari himpitan utang. Lalu, ada seseorang yang berkata kepada beliau,  "Betapa seringnya Anda memohon perlindungan dari utang, wahai Rasulullah:' Beliau menanggapi, "Sungguh  seseorang itu, bila terhimpit utang, ia berbicara lalu bohong, dan berjanji lalu ingkar:· (Riwayat Bukhari dan  Muslim).

Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit utang dan tagihan datang, bisa saja ia berbohong dan menyuruh orang lain berbohong. Atau, ia berjanji akan segera mem­bayar, namun ingkar. Bukankah berbohong serta ingkar janji adalah dua di antara tiga tanda kemunafikan, selain khianat?  Na'udzu billah!

BERPRASANGKA BURUK DAN MEREMEHKAN ORANG LAIN 

Keduanya jelas akhlak tercela. Kebalikannya adalah berprasangka baik dan menghormati orang lain. Ternyata, akhlak-akhlak ini akan memicu akhlak lain dari jenisnya, yaitu kesombongan atau lawannya tawad­hu' (rendah hati).  Menurut lmam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumiddin (III/364), prasangka baik dan menghormati orang lain berhubungan erat dengan ketawadhuan. Ketika menjelaskan cara melatih diri agar menjadi orang yang tawadhu, beliau menjabarkan resep aplikatifnya. "Sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk tidak menyombongkan diri di atas siapapun;' kata al-Ghazali. 

Bahkan, jika melihat orang bodoh, kata al-Ghazali lagi, seorang hamba seharusnya berkata, "Orang ini mendurhakai Allah dengan ketidaktahuannya, sedang aku mendurhakai-Nya padahal aku tahu. Dia lebih bisa dimaafkan dibanding diriku;' Jika melihat orang berilmu, seorang hamba seha­rusnya berkata, "Orang ini telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya ?" 
Jika melihat orang yang lebih tua usianya, kata al­ Ghazali lagi, seorang hamba seharusnya berkata, "Orang ini telah menaati Allah sebelum aku, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya?" Jika melihat orang yang lebih muda seorang hamba seharusnya berkata, "Sungguh aku telah mendurhakai Allah sebelum dia, maka bagaimana mungkin aku sama dengannya ?" Jika melihat penganut bid'ah atau orang kafir seorang hamba seharusnya berkata, "Aku tidak tahu bahwa bisa jadi hidupnya diakhiri dengan masuk Islam sementara  hidupku diakhiri dengan apa yang dilakukannya sekarang. Sebab, langgengnya hidayah itu tidak diserahkan kepa­daku sebagaimana permulaannya pun tidak diserahkan kepadaku:’

MAKAN MINUM BERLEBIHAN 

Makan dan minum sebenarnya perkara mubah. Namun ia bisa menjadi sangat buruk dan mengundang aneka penyakit jika batasan dan adabnya dilanggar; baik penyakit lahiriah maupun batiniah, termasuk di bidang akhlak.  Diantara akhlak buruk yang diam-diam "membon­ceng" di belakangnya adalah egois dan tidak berempati kepada penderitaan orang lain, mudah terpancing syah­watnya, dan malas beribadah. Abu Sulaiman ad-Darani berkata, "Barangsiapa kekenyangan niscaya enam penyakit masuk kepadanya: (a) kehilangan lezatnya bermunajat, (b) sulit untuk meng­hafal hikmah (ilmu), (c) terhalang dari bersimpati kepada sesama makhluk, sebab ketika kenyang ia menyangka semua makhluk juga kenyang, (d) berat untuk beribadah,(e) meningkatnya syahwat-syahwat, dan (f) segenap kaum mukmin berkeliling di sekitar masjid-masjid semen­tara orang-orang yang kekenyangan berkeliling di sekitar tempat-tempat pembuangan kotoran:' (Ihya Ulumiddin, III/87).

GEMAR BERDEBAT 

Meski mengizinkan mujadalah (debat/adu argumen), namun al-Qur'an mensyaratkan perdebatan itu harus dilakukan dengan cara yang paling baik (An-Nahl [16]:125). lni mudah dimengerti. Sebab, perdebatan rawan diwarnai pelecehan dan pencemaran kehormatan orang lain.

Padahal, sesama Muslim bersaudara. Darahnya, hartanya dan kehormatannya haram dilanggar (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah). Rasulullah SAW sangat tidak menyukai debat kusir (mira'), yakni sekadar menang-menangan dan tidak di­maksudkan meraih kebenaran. Beliau bahkan menjamin sebuah rumah di tepian surga bagi siapa saja yang mampu meninggalkan debat walaupun dia benar. (Hadits Riwayat Abu Dawud dari Abu Umamah. Hadits hasan).

Selain melecehkan dan merusak kehormatan orang lain, di antara akhlak tercela yang sering muncul mengiringi perdebatan adalah memutuskan silaturrahim dan ikatan persaudaraan. Al-Ashma'i mengutip nasehat seorang ulama, "Debat kusir merusak persahabatan lama dan mencerai-beraikan ikatan yang kokoh. Hal paling minimal di dalamnya ada­lah sekedar menang-menangan, dan ia adalah penyebab terkuat putusnya hubungan:' (Riwayat lbnu abdil Barr dalam Al-Jami', ll/952). 

AMBISI JABATAN DAN INGIN DITOKOHKAN 

Ambisi bisa membutakan nurani. Terkadang, sese­orang berani menghalalkan segala cara untuk meraih am­bisinya. Baginya, tidak masalah jika harus mengorbankan orang lain. Ambisi seperti inilah yang memicu berbagai akhlak buruk. Al-Fudhail bin lyadh pernah mengingatkan, "Tidak seorang pun yang berambisi untuk ditokohkan melainkan ia akan mendengki (hasud), berlaku aniaya (baghyu), mencari-cari kejelekan orang lain, dan tidak senang bila ada seseorang yang disebut-sebut kebaikannya:' (Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Al-fami', 1/569).  Wallahu a'lam bish-shawab.


No comments:

Post a Comment