Thursday, March 31, 2016

AJARAN IKHLAS DARI SULTHANUL-AWLIYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: "Wahai saudaraku, hidupmu jangan seperti pasar, yang jika waktunya habis tak seorang pun tinggal di sana. Ketika malam tiba, tak seorang pun berkenan tinggal di sana. Oleh karena itu, bermujahadalah engkau agar tidak akan seperti berjual beli di pasar; kecuali sesuatu yang bermanfaat buat akhirat kelak. Sebab Allah selalu mengawasimu. Tauhidkanlah Allah dan beramallah dengan ikhlas semata karena Dia. Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah jua yang memberi rezeki buatmu. Janganlah bersifat kikir terhadap sesama. Pakailah akalmu, bersopan santunlah di hadapan Allah dan di hadapan makhluk-Nya. Janganlah engkau menganiaya sesama dan jangan mencuri hak-hak mereka. Pandai-pandailah menempatkan diri di sisi-Nya.

Wahai saudaraku, dengan ekspresi wajah yang bagaimanakah kelak engkau berjumpa dengan Allah jika dirimu saat ini selalu menentangnya. Jika setiap kebutuhan dan hajatmu engkau sampaikan kepada sesama manusia dan engkau berserah diri kepadanya; bukan kepada Allah. Wahai saudaraku, seandainya engkau mampu memberi terhadap sesamamu tanpa menghendaki sesuatu imbalan, maka lakukanlah. Jadіlah pelayan tanpa mencari pelayan. Perhatikan kesufian dan kesiapan mereka di hadapan Allah. Jika Islam tidak ada dalam jiwamu, bagaimana mungkin iman bisa tumbuh dalam hatimu. Jika keyakinan tidak engkau miliki, berarti dirimu tidak mempunyai kebaikan. Itu berarti engkau jauh sekali dari-Nya. Inilah derajat yang tumbuh dalam jiwa.

Tetapi jika Islam murni, maka murnilah penghambaanmu kepada-Nya. Maka menjadilah engkau orang yang berserah diri kcpada-Nya dengan segala keberadaanmu. Engkau akan menjaga syariat-Nya secara ikhlas. Serahkan jiwamu menurut kewajiban. Perbaikilah adab bersama-Nya dan dengan makhluk-Nya. Jangan engkau menganiaya diri sendiri atau orang lain. Karena perbuatan aniaya itu membutakan hati, menggelapkan mata dan menggelapkan catatan amal. Janganlah engkau menolong orang yang suka menganiaya orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

اِذَا اُظْلِمَ مَنْ لَمْ يَجِدْ نَاصِرًا غَيْرَ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ فَاِنَّهُ يَقُوْلُ: لَاَنْصُرَنَّكَ وَلَوْبَعْدَ حِيْنٍ. 

Apabila orang yang teraniaya itu tidak menjumpai penolong selain Allah Azza wa Jalla, maka Allah berkata tentu Aku beri pertolongan padamu walaupun sudah berlalu. Bersabarlah engkau, sebab sabar itu suatu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah dan mengangkat kemuliaan.

Wahai Allah, kami mohon kepada-Mu agar sabar bersama-Mu. Kami mohon taqwa, bebas dari semua keberadaan ini, sibuk bersama-Mu.

Wahai hamba Allah, tenanglah bersama-Nya, karena tenang bersama-Nya itu nikmat. Tiada penguasa, tiada yang kaya, dan tiada yang mulia kecuali Allah SWT.

Wahai orang munafik, sampai kapankah kamu riya' dan munafik kepada-Nya? Celakalah kamu, kenapa tidak malu kepada-Nya dan tidak уakin akan bertemu dengan-Nya? Waktu ini kamu beramal karena-Nya tetapi dalam batinmu tidak demikian. Bertaubatlah dan bersihkan niatmu karena-Nya, sesungguhnya tidak akan makan sesuap pun atau berjalan selangkah kecuali dengan niat yang ikhlas.

Ketauhilah, bahwa makhluk dan Khalik tidak bisa disamakan, dunia dan akhirat tidak akan pernah bisa dipadukan. tidak bisa dilukiskan tapi keberadaan makhluk bisa dilukiskan dalam jiwa. Jika kamu dekat dengan Allah maka bebaskan hatimu dari dunia dan akhirat. Selama dalam hatimu masih ada sesuatu selain Allah Swt. maka kamu tidak akan bisa melihat kehadiran-Nya. Selama hatimu masih suka terhadap dunia, maka kamu tidak akan bisa melihat akhirat, kamu tidak akan bisa mendekati pintu-Nya selagi hatimu masih bercabang. Wahai hamba Allah, kelihatannya kamu sibuk dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui. maka kosongkanlah nafsu dari hatimu tentu kebaikan akan menyelimutimu, jika nafsu itu telah keluar maka datanglah kejernihan.

Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al- Ra'd (13) : 11). Wahai saudaraku, pikirkanlah kalam Allah di atas tadi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dan kusampaikan kepada mereka bukan berarti aku membutuhkan mereka. Aku tidak butuh mereka, tetapi aku hanya butuh kepada Allah.

Dia Maha Mengetahui kebenaranku, karena Dia Maha Tahu atas segala yang gaib, segala yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya. Beramal dengan ikhlas adalah amal kebaikan yang dilakukan semata-mata karena Allah, semata-mata mengharap ridha-Nya. Ikhlas merupakan ruh amal. Sedangkan amal kebaikan yang tidak disertai dengan niat ikhlas, jelas akan ditolak oleh Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan Agama. (QS Al- Bayyinah (98) : 5)

Rasulullah Saw. bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِىَ بِهِ وَجْهَهُ

Allah tidak menerima amal, melainkan amalnya yang ikhlas mencari keridhaan Allah (HR. Ibnu Majah)

Wahai saudaraku, ikhlas adalah dasar suatu amalan. Amalan yang tidak disertai dengan hati yang ikhlas akan sia-sia. Percayalah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya. Jauhilah segala apa yang dilarang-Nya dan janganlah kamu durhaka kepada-Nya. Cintailah sesuatu karena Allah, bencilah orang yang selalu menentang-Nya.

Wahai saudaraku, syukurlah atas semua pemberian-Nya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya di saat mengalami kesulitan dan pujilah Dia di saat mengalami kegembiraan. Cintailah sesama manusia sebab mereka itu makhluk Allah. Ikhlas kepada Allah dalam beribadah adalah menyembah-Nya dengan tanpa mengharap sesuatu dari selain-Nya. Kalau kamu menyembah Allah dengan tujuan untuk memperoleh pahala atau sebab takut karena siksa-Nya, maka ibadah yang seperti itu tidak dinamakan ikhlas.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk mengabdi kepada Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An،am (6) :162)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ اَعْطَى لِلّٰهِ تَعٰلَى وَمَنَعَ لِلّٰهِ تَعَالٰى وَاَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَاَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَلَى وَاَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَوِاسْتَكْمَلَ اِيْمَانَهُ.

Barangsiapa yang memberimu karena Allah Та 'ala, mencegah karena Allah Та 'ala. Mencintai karena Allah Та 'ala, benci karena Allah ta 'ala, dan menikahkan karena Allah Та 'ala, maka ia telah menyempurnakan imannya. (HR. Abu Dawud). Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab r.a. berkata tentang amalan yang ikhlas sebagai berikut:

اَفْضَلُ الاَعْمَالِ اَدَاءُ مَافْتَرَضَ اللهُ تَعَالَى وَالْورَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى وَصِدْقُ النِّيَّةَ فِيْمَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى.

Amalan yang paling utama adalah menunaikan ара yang telah difardhukan oleh Allah Та 'ala dan melakukan wara' (menjaga diri) dari sesuatu yang diharamkan Allah Та 'ala, serta membenarkan niat dalam beribadah kepada Allah ta ‘ala. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir).

No comments:

Post a Comment