Thursday, March 31, 2016

WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH MENURUT SYEKH IBNU ATHA’ILLAH

“Wushul (sampai) kepada Allah adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam). Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa sampainya kita kepada Allah, seperti diisyaratkan oleh ahli tarekat, adalah sampainya kita kepada penyaksian-Nya dengan mata batin kita. Inilah yang disebut dengan penyaksian langsung atau ‘ilmul-yaqiin terhadap tajalli (penampakan) Allah dan limpahan kasih sayang-Nya.

Penyaksian ini juga disebut sebagai perkenalan langsung dengan mata batin dan perasaan fitrah. Para ahli syuhud berbeda-beda dalam mendapatkannya. Ada yang mendapatkan tajalli perbuatan Allah. Disini, perbuatan mereka dan perbuatan selain mereka sirna melebur dalam perbuatan Allah. Mereka tidak melihat sosok pelaku sebuah perbuatan, kecuali Allah. Pada kondisi ini, mereka akan keluar dari ikhtiar dan usaha. Ini adalah tingkatan pertama sampainya seseorang kepada Allah (wushul).

Ada pula yang mendapatkan tajalli sifat-sifat Allah. Disini mereka akan berdiri penuh pengagungan dan kerinduan terhadap apa yang dilihat oleh mata batin mereka, berupa keagungan dan keindahan Allah. Ini adalah tingkatan kedua sampainya seseorang kepada Allah. Di antara mereka ada yang sampai kepada maqam kefanaan. Batinnya berisi cahaya keyakinan dan musyahadah. Ketika syuhud, ia tidak lagi merasakan wujud dirinya. Ini adalah tajalli zat yang berlaku pada kaum khusus dan orang-orang muqarrabin. Ini adalah tingkatan ketiga dalam wushul. Di atasnya lagi ada tingkatan haqqul yaqiin. Di dunia, tingkatan ini terjadi dalam bentuk lamh (pandangan sekilas), yaitu mengalirnya cahaya musyahadah di sekujur tubuh seorang hamba sampai ruhnya pun turut mendapatkannya, demikian pula kalbu dan jiwa-nya. Ini adalah tingkatan tertinggi wushul.

Dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif disebutkan, “Jika segala hakikat telah diraih, seorang hamba dengan ahwalnya yang mulia ini akan mengetahui bahwa dirinya masih berada di tingkat pertama. Lalu, bagaimana dengan wushul haqiqi (wushul secara fisik)? Mustahil, karena  jalan wushul tidak akan pernah terputus selamanya, sepanjang usia akhirat yang abadi. Lantas, bagaimana mungkin wushul haqiqi itu terjadi di umur dunia yang pendek ini?

Jadi, yang dimaksud dengan wushul adalah sampainya kita kepada pengetahuan tentang Allah dengan media perasaan dan fitrah. Jika pengertiannya tidak demikian, berarti wushul kita tidak benar, karena Allah tidak mungkin menyentuh atau disentuh sesuatu secara lahir dan batin. Bagaimana mungkin Zat yang tidak ada bandingnya akan bersentuhan dengan sesuatu yang memiliki bandingan. Padahal, syarat terjadinya persentuhan adalah adanya kesamaan sifat di antara keduanya. Sedangkan, secara mutlak tak ada kesamaan antara Zat Yang Maha Sempurna dengan sesuatu yang tidak sempurna atau kurang sempurna. Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam juga mengatakan: “Kedekatanmu dengan-Nya adalah ketka engkau menyaksikan-Nya mendekatimu, karena bagaimana mungkin engkau bisa mendekati-Nya?”

Menurut Syekh Syarqawi, kedekatan kita kepada-Nya adalah ketika kita menyaksikan-Nya secara maknawi sehingga engkau merasa sangat diawasi oleh-Nya. Buahnya adalah, engkau akan terdorong untuk selalu bersikap sopan saat ada di hadirat-Nya. Jadi, hal yang penting di sini adalah bagaimana engkau menyaksikan kedekatan-Nya. Dengan penyaksian ini, kau merasa diawasi dan dikuasai oleh rasa takut yang akan mendorongmu untuk bersikap sopan saat bertamu kepada-Nya. Inilah pengertian kedekatan seorang hamba dengan Allah; dan tidak mungkin makhluk dapat mendekati-Nya secara nyata”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi). 

No comments:

Post a Comment