Saturday, April 23, 2016

DILEMA-DILEMA JIWA, BAGAIMANA SOLUSINYA?

“Apabila ada dua perkara yang serupa, maka pandanglah yang paling memberatkan nafsu, lalu ikuti yang paling memberatkan itu. Sebab tidak ada yang memberatkan nafsu kecuali pasti benar.” (Al-Hikam: Ibnu Athaillah as-Sakandary). Manusia seringkali menghadapi dilemma, ketika berhadapan dengan dua masalah yang sulit untuk diputuskan, karena dua-duanya benar, dua-duanya wajib, dua-duanya tidak baik, atau dua-duanya boleh dilakukan. Bukan perkara antara wajib dan haram, antara sunnah dan makruh, antara boleh dan tidak boleh. 

Dalam hal-hal yang serupa ini, perkara mana yang harus anda ambil? Maka kita akan mengambil keputusan yang paling memberatkan nafsu kita. Sebab, mengambil hal yang meringankan nafsu kita, jika yang kita putuskan adalah dua perkara yang nilainya sama, sulit terlepas dari penyimpangan. Tetapi, jika kita memutuskan yang memberatkan beban nafsu kita, kebenaran akan memihak kita.

Dalam perjalanan para penempuh Jalan Ilahi, seringkali dihadapkan masalah-masalah seperti itu. Kiat paling sederhana dan mapan, adalah memilih yang bukan pilihan selera nafsu kita. Karena sesuatu yang benar sekaliun, jika kita berangkat dari niat yang tidak ikhlas, niat menuruti selera nafsu, praktek kebenaran itu menjadi tidak benar. Contohya orang berdakwah itu benar, apalagi yang disampakan kebenaran. Namun menjadi tidak benar bila ketika berdakwah dasarnya adalah hawa nafsu; seperti popularitas, materi, pencarian legitimasi atau pujian-pujian. Memilih yang bukan selera nafsu kita, berarti memilih selera Allah Swt, memprioritaskan Allah Swt, mencari wilayah yang diridhoiNya.

Kata hati paling dalam adalah muatan kebenaran. Maka Rasulullah Saw, bersabda, “Mintalah fatwa pada hatimu, walau yang lain menfatwaimu, walau yang lain menfatwaimu, walau yang lain menfatwaimu…” Kata hati adalah ungkapan sejati, yang bias menepis selera nafsu kita. Nah, tanda-tanda kita mengikuti serela nafsu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary: “Diantara tanda-tanda mengikuti selera hawa nafsu adalah bergegas dalam ibadah sunnah, namun malas menegakkan ibadah-ibadah wajib.”

Kebiasaan spiritual yang buruk seseorang tergesa-gesa meraih hal-hal yang ajaib dibalik ibadah, ingin segera diberi karomah, ingin segera dibuka hatinya, ingin ditampakan fenomena-fenoma hebat, dan sebagainya. Semua itu akibat dari nafsu tersembunyi di balik ibadah, khususnya ketika menjalankan hal-hal sunnah. Sedangkan ketika menjalankan ibadah wajib, hanya dinilai sebagai kewajiban yang harus digugurkan, manakala sudah selesai. Atau sekadar menjalankan kewajiban. Padahal Allah Swt, mewajibkan suatu amal ibadah tertentu, semata saking agung, mulia dan besarnya nilai ibadah tersebut.

No comments:

Post a Comment