Tuesday, April 12, 2016

PUASA YANG MEMBAWA KEPADA MATI DIRI SEBELUM MATI HAKIKI

Hubungan puasa bagi yang hidup didunia ialah supaya dapat merasakan mati sebelum mati agar dapat mencapai puncak dzauk ma’rifatullah. Ketika Syekh Abu Yazid Al Busthami ditanya : "Dengan apa engkau mendapatkan ma'rifat wahai Syeikh?” Beliau menjawab: "Dengan perut lapar dan badan telanjang”. Sabda Rasulullah : Likulli syai’in babun wa babul ibadah al-shiyam. Ertinya : Segala sesuatu mempunyai pintu dan pintunya ibadah ialah puasa.

Apabila hamba telah bertekad untuk mengenal Allah, ingin mendekatkan diri kepadaNya dan ingin mengikuti kehendakNya, pastilah dia akan dihadang oleh berbagai ujian. Agar dapat melewati ujian itu salah satunya ialah dengan berpuasa, puasa yang dimaksud bukan hanya menahan makan dan minum, atau menahan syahwat di siang hari, tetapi puasa yang berkaitan dengan hati yaitu menjaga panca indera dari sesuatu yang sia-sia, contohnya mulutnya tidak mengunjing, marah, telinganya tidak mendengarkan sesuatu yang negatif dan matanya tiada melihat sesuatu yang negatif, tangan dan langkah kakinya selalu dijaga, hatinya tidak berfikir negatif terhadap orang lain juga menjauhi kesenangan berupa nafsu dan juga penyakit syubhat, dan hati berpuasa dari selain Allah. Bersabda Rasulullah: “Muutu qabla an tamuutu” Ertinya : “matilah sebelum mati”.

Matikanlah dirimu sebelum mati. Mati yang di maksud oleh Rasulullah saw bukan mematikan dirimu selagi hidup (bunuh diri) atau matinya raga (berpisahnya nyawa dari jasad), tetapi matikan dirimu dari tahap mati yang pertama, yaitu mati tabi'i matinya panca indra menyatu hati pada Allah, yaitu mengekang seluruh hawa nafsu yang cenderung mengajak pada jalan keburukan, lalu meluruskan nafsu itu kearah jalan kebaikan dan banyak berdzikir untuk ingat Allah swt.

Maka hati dan panca inderanya benar-benar akan menjadi bersih dan diapun akan merasakan mati yang pertama yaitu mati tabi'i, matinya panca indra yang lima seluruh panca indranya secara lahir dan bathin telah menyatu yang ada hanyalah tinggal rasa terhadap Allah, inilah yang dimaksud hancurkan jasad jadikan hidup hanya hati. Jika sudah berhasil dengan puasa hati yakni mengekang hatinya dari segala macam nafsu yang menghalanginya untuk mengenal Allah, lalu dia akan masuk dalam tahap mati yang kedua yaitu mati maknawi, dirinya lahir dan bathin telah merasakan lenyap dan seluruh alam ini telah hilang semuanya, yang ada hanyalah kalimat Allah, berlaku Nafi dan Isbat pada dirinya, yaitu penafian akan Dzat, Sifat, Asma, Af'al dan mengisbatkannya hanya pada Allah.

-Laa Dzatul Illallah Fil Haqiqatu Illallah » tiada diri bagi kita.

-Laa Maujudun Illa Shifatun Illallah » tiada sifat bagi diri kita.

-Laa Asmaun Illallah » tiada nama bagi diri kita.

-Laa Af'alun Illallah » tiada tubuh bagi diri kita.

Nafi isbat pada Dzat maksudnya kita menafikan wujud yang sebenarnya melainkan Allah. Wujud selain dariNya hanyalah wujud yang diciptakan yang berada dalam genggaman kekuasaanNya. Juga kita menafikan adanya wujud yang qadim, baqi, mukhalif lil khalqi, qaim bi nafsih melainkan wujud Nya yang wahdaniyat (tunggal). Nafi isbat pada Sifat maksudnya kita menafikan adanya sifat lain melainkan Allah. Sifat-sifat yang lain itu tiada bercerai (kam munfasil) dan tiada bersatu (kam muttasil) dengan ketunggalan sifat Allah. Tiada yang bersifat dengan qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama', basar dan kalam melainkan Allah. Apabila kita melihat kita nafikan penglihatan itu milik kita dan kita isbatkan hanya milik Nya. Sementara penglihatan kita tiada berpisah dan tiada bersatu dengan sifat bashar Allah.

Nafi isbat pada Asma' maksudnya kita menafikan yang bernama itu dan mengisbatkan nama tersebut hanya pada Allah, apabila dia melihat segala yang bernama maka dia mengisbatkan pada Allah, tiada yang memberi rezeki melainkan Allah Ar Razzaq, tiada yang menghidupkan melainkan Allah al Muhyi dan sebagainya. Nafi isbat pada Af'al maksudnya kita menafikan segala yang bergerak melainkan kita isbatkan Allah yang menggerakkannya. Tiada bergerak sesuatu Dzarrah melainkan Allah yang menggerakkannya segala apa yang berlaku adalah qada' dan qadar Nya. Tiada tergugur sehelai daun melainkan dengan izin Allah, maknanya setiap perbuatan berlaku tiada berpisah dan bersatu dengan kelakuan Allah.

Setelah itu barulah dia akan masuk dalam mati yang ketiga yaitu mati sirri yaitu perasaannya telah lenyap segala warna-warni, yang ada hanya Nur semata-mata, Orang yang telah sampai pada maqam sirri dirinya telah fana, dia sudah putus, putus dari rasa merasa, kerana dia telah mengisbatkan dirinya pada sang Haliq. Jika telah karam di maqam ini, maka dirinya telah fana pada sejatiNya hidup karena terliputi oleh sifatNya, adapun sempurnanya dari semua kematian itu ialah mati hissi yakni dia telah Baqa', tiada tau dia akan fananya (kematiannya) yakni dalam erti ia telah fana'ul fana', dia telah Baqa' kekal bersama DzatNya, kehambaanya tiada mendindingi ketuhananNya dan ketuhananNya tiada melupakan kehambaanNya, infisalnya (keterpisahannya) tiada mendindingi jam'inya, dan jam'inya tiada melupakan farqi-infisalnya. tiada dia hidup kecuali yang dilihat hanya ada Dia yang nyata, hanya Dzat yang wujud, Dzat itu adalah AKU. (Susunan: Tn. Hj. Ir Alias Hashim Asy-Syattari). 

No comments:

Post a Comment