Friday, April 29, 2016

BENTUKKAN FIKIRAN KALIAN

Ya Ghulam! Bentuklah Pikiran Kalian sehingga Para Wali Dapat Membukakan Pintu-pintu Pengetahuan Surgawi (Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani qs - Hari Minggu, 28 September 2008 - Burton, Michigan-Amerika Serikat).  Nawaytul-arba’ in, nawaytul- ‘itikaaf, nawaytul-khalwah, nawaytul-riyaadha, nawaytus-suluuk, nawaytul-‘uzlah lillahi ta’ala fii hadzal-masjid. A’udzu billah min asy-syaitan ir-rajim. Bismillahir- Rahmanir- Rahim. Ati’ Allah wa ati’ ar-rasula wa ulil-amri minkum.

Apakah kalian dewasa atau masih anak-anak? [Anak-anak!] [Seorang anak muda berkata “Anak-anak”] . Selama mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, kalian berada dijalur kedewasaan. Jika tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW , kita berada dijalur anak-anak. Jadi, kalian pilihlah. Kalian ingin berada dimasa dewasa atau anak-anak. [Dewasa] [Masa dewasa]

Kekanak-kanakkan tidak lebih baik karena tidak ada tanggung jawab. Sedang kedewasaan terlalu banyak tanggung jawab. Namun jika ingin berada bersama Rasulullah SAW di dunya dan akhirat, kalian harus bersama oran-orang yang dewasa. Jika ingin bersama seluruh umat manusia yang lain -elemen normal yang umum-, maka jadilah anak-anak. Jadi, wali mengajari para muridnya. Nasehat dari Auliaullah kepada para muridnya adalah mengatrol masalah daro ego kalian. Karena ego kita adalah punuk besar yang menempel pada punggung kita. Dan kita tidak melihatnya. Kita hanya melihat punuk orang lain saja.

Itulah mengapa pada satu hari, Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu –beliau masih keturunan dari Rasulullah SAW dan salah satu wali utama dari thariqah Naqsybandi- berkata kepada para pengikutnya. Ada seorang murid yang sering kali beliau beri kesulitan. Auliaullah senang memberi kesulitan kepada satu atau dua orang muridnya –selalu. Auliaullah terus memberi kesukaran pada murid mereka. Yang kalian bisa lihat hanya 2, 3, 4, 5 orang yang terus diberi kesukaran oleh Auliaullah. Itu artinya kalau mereka begitu dekat dengan sang Syaikh, begitu dekatnya sehingga sang Syaikh tenang sekali ketika “memberi kesulitan” dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kalau orang lain mungkin sudah kabur.

Jadi, satu hari beliau berkata kepada salah seorang muridnya bahwa sedang memberikan kesulitan kepada muridnya tersebut, “Aku ingin kau pergi ke pemakaman dan mengambil beberapa pelajaran.” Muridnya menjawab, “Sudah menjadi tanggung jawab aku, wahai Syaikhku! Anda mengirim saya ke pemakaman, saya akan pergi ke sana.” Si murid pun berangkat ke pemakaman, berziarah bagi yang telah meninggal dunia. Dia mendapati pintu pemakaman terkunci. Dan ada seseorang yang sedang duduk diatas pintu pemakaman. 

Orang itu bertanya, “Oh! Apa yang Anda lakukan disini?” Si murid tidak menjawab, “Oh, tinggalkan aku sendiri!” namun bicara dengan adab yang baik, “Saya datang untuk berziarah.” “Baiklah, silahkan masuk.” Si murid berkata, “Pintunya tertutup”. Orang tersebut menanggapi, “Tidak, pintunya terbuka.” Dan pintu pemakaman terbuka. Orang tersebut adalah Sayyidina Khidr. Keduanya masuk ke dalam pemakaman dan makam pertama yang didatangi adalah makam seorang ulama berumur 85 tahun. Dan kalian tahu, saat ini apabila murid diberi suatu perintah oleh sang Syaikh, murid itu merasa dirinya bagaikan burung merak. “Sang Syaikh memberiku perintah sekarang, saya begini, saya begitu…lebih besar dari seluruh dunia.”

Kalian berdua. “Nama saya Antar ibn Shaddad. Saya ke sini karena sang Syaikh memberi saya perintah”. “Apa, sang Syaikh memerintahkanmu? Dia ingin memotong-motongmu”. Jadi, dia duduk dimakam, membaca Fatihah dan berdo’a. Orang yang dipagar berkata, “Jangan, jangan, jangan. Anda tidak perlu berdo’a.” Orang yang dipagar adalah Sayyidina Khidr namun si murid tidak tahu. Sayyidina Khidr berkata, “Jangan, Anda tidak perlu berdo’a. Orang tersebut sudah suci; dia meninggal dunia waktu masih kecil.” Si murid menanggapi, “Tidak, Anda salah; umurnya 85 tahun.”

Sayyidina Khidr berkata, “Bukan, umurnya 2 tahun.” Apakah yang akan kita lakukan bila hal itu terjadi? Kita akan mengutuknya dari ayah hingga ke seluruh nenek moyangnya. Jika memegang sebilah pisau, kita akan menusuknya. Si murid berkata, “Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim” lalu berkata lagi, ” Sudahlah, saya akan melanjutkan ke makam berikutnya.” dan makam itu sangat bagus, dihiasi dengan 2 buah nisan dan tanaman hijau yang sangat indah. Seperti Sunnah Rasulullah SAW. Kemudian si murid melihat nama seorang wali yang meninggal di usia 75 tahun. Sayyidina Khidr berkata, “Orang itu seperti yang lainnya, namun yang ini sedikit lebih tua. Umurnya adalah dua setengah tahun.”

Kini, si murid tidak senang. Dalam hatinya terus bertentangan, haruskah dia berteriak atau tidak. [Dia berkata dalam hati:] “Tidak apa-apa. Syaikh mengutus saya untuk berziarah dan belajar. Biarpun mereka sangat tua atau pun baru berumur 2 tahun, bukan masalah.” Jadi, satu makam ke makam lain yang terlihat dan orang misterius itu terus memberitahu kalau tidak seorangpun dari mereka mencapai kedewasaan. Umur tertinggi mereka adalah 9 tahun. Sehingga, murid itu tidak ingin berargumentasi. Dia pun kembali ke Syaikhnya. “Apakah kamu sudah berziarah?” “Na’m ya sayyidii. Saya telah berziarah kepada semua ulama ini dan memperoleh banyak pelajaran.”

Dan siapa yang ada disana? Duduk disamping sang Syaikh (Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu) dan menyelubungi dirinya sendiri duduk disamping, turut mendengarkan tapi menyelubungi dirinya. Kemudian Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu bertanya lagi, “Apakah kau bertemu dengan orang lain disana?” “Ya, saya bertemu seseorang. Namun saya tidak mengerti apa yang dikehendakinya. ”

Sesaat kemudian Sayyidina Khidr menampakkan dirinya ke si murid. Si murid berteriak, “Ini dia orangnya! Tangkap dia sebelum melarikan diri. Dia menyulitkan saya. Dia telah berkata kalau tiap wali umurnya 2, 3, 4, 5 tahun padahal mereka semua berumur 65, 75, 85 tahun.”

Kemudian Sayyidina Khidr berkata kepada sang Syaikh, “Oh Abdul-Khaliq al-Ghujdawani, murid itulah yang terburuk yang pernah aku lihat sepanjang hidupku. Dia tidak punya satu kearifan pun. Aku memberitahu umur mereka dan dia tidak mau mendengarkan apapun yang aku beritahukan. Dia sampah!”

Jika hal itu terjadi kepada kalian dihadapan Syaikh kalian, apakah yang akan kalian lakukan? Kalian akan berusaha membela diri. Namun mereka tidak mendengarkan pembelaan diri kalian. Jangan pikir kalian akan diberikan gula-gula dan permen saat di bay’at. Mereka akan memberi kalian Zaqqum. Lidah itu, ini dan yang lain dapat membuat kalian masuk ke dalam api neraka.

قال رسول الله : من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga.”

Kemudian Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu mulai mencerca murid tersebut dan berkata, “Wahai saudaraku, aku mengutusnya untuk memotong kayu dan ke pemakaman dan … agar dia tidak mengotori saudara-saudara seperguruannya yang lain. Dialah murid terburuk yang aku punyai.”

Mereka berdia mengutuk dan melihat ke dalam hati si murid, bagaimana hatinya mulai berubah. Ketika sang Syaikh dan Syaikh lain berteriak dan mempermalukan kalian didepan banyak orang, matilah kalian. Keraguan-raguan mulai masuk ke kalian dan kau berkata, “Saya tidak melakukan apa-apa. Mereka ingin menyalahkanmu atas sesuatu yang tidak kamu lakukan agar dapat membuka pintu kesabaran bagi kamu.”

Inilah bagaimana cara mereka membukakan pintu surga kepada kalian. Inilah bagaimana mereka membukakan pintu-pintu pengetahuan. Mengapa orang-orang ini pergi ke atas mengapa mereka menyebut para pendaki gunung? Mereka mendaki dan mungkin saja tewas diatas sana. Mereka mendaki ke atas dan ke atas dan ke atas gunung. Mereka tahu sulitnya namun mereka
They are going up and up and up on mountains and they know it is difficult but they like to go up in order that they say about them that they reached it. And how much difficulty they encounter to do that? And when they reach the top they will feel as if the whole dunya opened before them.

Auliaullah punya gunung dan ingin kalian mendakinya untuk akhirat. Dan Auliaullah disana membukakan kepada kalian penglihatan- penglihatan yang tidak bisa kalian bayangkan. Dan kedua berteriak dan mengutuk si murid. Murid itu tidak mendengarkan apa-apa seakan-akan dia tuli. Hatinya terhubung kepada Syaikhnya. Hatinya tidak melihat Khidr atau bukan Khidr. Dia hanya melihat hati Syaikhnya dan cintanya kepada hati sang Syaikh. 

Dan mereka bedua terus memberikan saat-saat yang makin sulit sampai kemudian Rasulullah SAW muncul. Beliau berkata, “Cukup dan ini sudah berlebihan. Jika kalian memotongnya sekalipun, cintanya tidak akan berubah. Berilah dia apa yang menjadi miliknya.” Inilah bagaimana Auliaullah “membangun” kalian. Auliaullah tidak ingin “membangun” kalian pada ego diatas ego. Jika Auliaullah “membangun” kalian diatas ego, maka akan gagal.

Para kontraktor membangun gedung menggunakan baja dan semen. Jika tidak, gedungnya akan merosot. Mereka tidak ingin membangun kalian pada ego diatas ego. Kemudian tembok dari gedung akan berjatuhan. Jadi dia berkata, Ya Ghulam! Kalian semua melihat murid mengenakan turban. Turban yang mereka pakai semuanya besar. Kalian lupa dengan seluruh laki-laki tua ini yang berumur 85, 95 tahun. 

Mereka semua duduk bersama-sama dan menikmati suasana. Turut berfoto sambil tersenyum. Mereka semua ini berturban besar. Kita semua berturban besar. Rasulullah SAW berkata, “Sudah, sudah. Selesai. Kau berikanlah apa yang menjadi miliknya. Tidak ada lagi ego, hatinya terhubung kepadamu. Itulah mengapa mereka berkata, “Ghulam, ghulam.” Jangan pikir kalian telah mencapai tingkat tertinggi, kalian masih anak-anak. Kita masih ditingkat kanak-kanak.

Oh ghulam! Jika kalian tidak membawa Islam (pada basis yang sesungguhnya), tidak membawa iman dan tidak membawa ihsan (Islam adalah kerangka dasar dari 5 rukun), maka selama berjuang didalamnya kalian adalah ghulam, kalian tidak bisa lebih tinggi dari tingkat tersebut. Jika tidak mempunyai Islam dalam hati kalian, dihati kalian tidak ada iman. Jika tidak ada iman dalam hati kalian, maka tidak ada kesempurnaan dalam hati kalian. 

Jika tidak ada iman, maka tidak ada ma’rifat dalam hati kalian. Jika Islam kalian sempurna sepenuhnya, maka artinya kalian berserah. Orang ini setiap hari memberitahu temannya untuk hadir disini pukul 4:30. Pukul berapa dia datang? 4:45. Akhirnya, satu orang ini angkat kaki. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dia datang tanpanya. Orang ini adalah ujianmu di bulan Ramadhan. Jika pasrah, kalian akan memperoleh milik kalian.

Mereka tidak melontarkan pertanyaan kepada kalian selama bulan Ramadhan dan membiarkan kalian mengeluh dan mengeluh dan mengeluh karena mereka ingin memberi ganjaran kepada kalian. Namun kalian tidak sanggup menjaganya. Minggu kemarin kalian selesai. Kalian memiliki letupan dalam diri kalian. Kalian kehilangan milik kalian. 

Orang ini sangat dekat dengan saat-saat Mawlana akan membuka hatinya. Mereka mengirim orang ini sebagai sebuah ujian kepada kamu. Dan jika orang itu sabar terhadap kamu dan datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, maka dia akan memperoleh apa yang menjadi miliknya. Namun kalian berdua kehilangan hal itu. Mereka menjadikan kalian malas untuk memperolehnya.

Kalian lihat bagaimana Auliaullah bekerja. Auliaullah menggunakan cara-cara yang licin. Dia tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Dia datang dengan bahagia, mengeluh tentang kami. Dan yang satu bahagia karena menganiaya yang lain. Jadi, mereka berdua tersesat. Ini hanya sebuah contoh. Berhati-hatilah, kalian tidak tahu dimana mereka bersembunyi dari kalian, bisa dibelakang pintu dan … Itulah mengapa (oh ghulam) jangan pikir menggunakan nalar. Sampai Auliaullah membangun nalar kalian. Wa min Allah at-taufiq, bi hurmatil Fatiha.

No comments:

Post a Comment