Tuesday, January 8, 2013

ANGIN TAUFAN KAUM NABI HUD

Nabi Hud Alaihis salam adalah Rasul yang diutus untuk berdakwah pada kaum ‘Aad yang tinggal di Al-Ahqaf, Rubu’ al-Khali-Yaman. Nabi Hud disebutkan sebanyak 7 kali dalam Al-Quran. Umat Muslim percaya bahwa Nabi Hud hidup sekitar 150 tahun dan diutus menjadi rasul pada tahun 2400 SM. Nabi Hud di makamkan di sebelah Timur Hadhramaut, Yaman. Makamnya terletak di atas sebuah bukit, 50 km dari kota Siwun, dikunjungi para peziarah yang datang dari sekitar daerah itu, terutama pada bulan Syaaban. Silsilah beliau: Hud bin Abdullah bin Ribah bin Khulud bin Ad bin Aus bin Irim bin Syam bin Nuh. Ia menikahi seorang wanita yang bernama Melka binti Madai bin Japeth (Yafas).

Nabi Hud merupakan keturunan dari suku ‘Aad, suku yang hidup di jazirah Arab, tepatnya di Al-Ahqaf yang terletak di utara Hadramaut antara Yaman dan Oman. suku ‘Aad adalah kaum penyembah berhala bernama Shamud. Mereka termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nuh. Mereka dikaruniai oleh Allah tanah yang subur, dengan sumber-sumber air yang memudahkan mereka bercocok tanam. Suku ‘Aad tidak mengenal Allah sebagai Tuhannya. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama Shamud, Alhattar, Shada, dan al-Haba dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaannya dapat memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Ajaran Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak dijalankan lagi.

Nabi Hud menjelaskan bahwa dia adalah pesuruh Allah yang diberi tugas untuk membawa kaum Aad ke jalan yang benar, beriman kepada Allah yang menciptakan menghidupkan dan mematikan, memberi rezeki atau mencabutnya dari mereka. Nabi Hud tidak mengharapkan upah dan menuntut balas jasa menuntun mereka ke jalan yang benar. Nabi Hud hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan Kaumnya perihal kaum Nabi Nuh yang ditimpa azab Allah serta meminta mereka untuk berhenti dari menyembah berhala. Bagi kaum ‘Aad, seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan sesuatu yang tidak mereka dengar. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud itu akan mengubah cara hidup mereka dan membongkar peraturan dan adat istiadat yang telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyangnya.

Maka Allah menurunkan kekeringan yang melanda ladang dan kebun mereka. Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahwa kekeringan itu adalah suatu permulaan siksaan dari Allah. Karena mereka belum bertaubat maka Allah menurunkan bencana yang kedua berupa gumpalan awan dan mega hitam yang tebal diatas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena mengira bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang dan kebun mereka yang kekeringan. Melihat sikap kaum ‘Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awan rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yg telah kujanjikan utk membuktikan kebenaran kata-kataku yg selalu kamu sangkal dan kamu dustai.

Beberapa saat kemudian, menjadi kenyataanlah apa yang dikatakan Nabi Hud, bukanlah hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin topan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan rumah dari dasarnya, membawa berterbangan semua perabotan dan harta benda serta melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum ‘Aad menjadi panik, mereka berlarian mencari perlindungan. Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan dari Allah. Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah Al-Ahqaf sudah menjadi sunyi senyap dari kaum ‘Aad maka pergilah Nabi Hud meninggalkan tempat itu berhijrah ke Hadramaut, dimana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai Nabi Hud wafat.

No comments:

Post a Comment