Sunday, May 15, 2016

IBNU KLAHDUN, LATIHAN ROHANIAH DENGAN RASA

Ibnu Khaldun Tersingkapnya hakikat realitas yang wujud, iluminasi, Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa, para sufi melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan ruh dengan jalan menggiatkan zikir. Dengan zikir, jiwa bisa mengalami hakikat realitas tersebut, jika hal ini tercapai, maka yang wujud pun telah terkonsentrasikan dalam  dalam pemahaman seseorang, yang berarti ia berhasil menyingkap seluruh realitas yang wujud.

Menurut Ibnu Kaldun Ketersingkapan yang seperti ini timbul dari kelurusan jiwa, yang seperti cermin rata dan dapat memantulkan gambar. Dalam karyanya, al-Muqaddimah,  berkata bahwa ada empat obyek utama para sufi:

Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya: sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, Pencipta serta penciptanya. Peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh pada berbagai bentuk karomah dan keluarbiasaan. Penciptaan ungkapan yang pengertiannya samar (syathahiyyat), reaksi masyarakat awam berupa mengingkarinya, menyetujui, menginterpretasikannya. (Ibnu Khaldun). Adapun pendapat Ibnu Khaldun tentang Karomah atau hal-hal gaib maupun peristiwa alam, adalah hal yg benar serta tidak bisa dipungkiri, meskipun sebagian ulama mengingkarinya. Peristiwa tersebut berlandaskan pada ilmu khusus mereka sendiri, ilmu tentang rahasia nama serta huruf. Ibnu Khaldun.

Mengenai ungkapan yang ganjil atau syathohiyyat, Ibnu Khaldun berpendapat, “Kata-kata samar, yang mereka ungkapkan dengan nama syathohiyyat, telah membuat mereka di kecam fuqoha. Ketahuilah sebenarnya mereka itu org2 yg sirna (fana) dari perasaannya. Apa yang menimpa mereka begitu menguasai dirinya, sehingga mereka menuju arah yang tidak mereka niatkan. Org yg dalam keadaan fana (tidak menyadari diri) tidak terkena perintah, dan orang terpaksa tidak bisa dimaafkan. barangsiapa diantara mereka merupakan orang yang terkenal dengan keutamaan dan keteladanannya, maka ungkapannya hendaklah diinterpretasikan bahwa hal itu  dilakukan dengan niat baik. Sebab ungkapan perasaan demikian sulit ditafsirkan, karena dia kehilangan susunannya. Dan barang siapa diantara mereka merupakan orang yang tidak diketahui keutamaannya, maka ungkapan yang tidak bisa diinterpretasikan itu hendaklah ditolak. Begitu pula dengan orang yang menyatakan ungkapan sejenis, padahal dia menyadari perasaannya ataupun tidak dirasuki keadaan rohaniah, maka hendaknya ungkapannya juga ditolak. Atas dasar inilah para fuqoha dan para tokoh sufi menjatuhkan fatwa hukum mati terhadap al-Hallaj. dan Allah Yang lebih tahu.”

No comments:

Post a Comment