Friday, June 24, 2016

JIN

Tak banyak yang tahu bahwa seorang kiyai yang begitu tawadlu’, lemah-lembut serta halus tutur-kata seperti Kiyai Muslih Zuhdi rahimahullah, sesungguhnya seorang sakti mandraguna. Beliau memiliki segudang ilmu simpanan, diantarannya adalah ajian “Sampar Angin”, suatu kesaktian yang dapat membuat orang mampu bergerak amat cepat tanpa kendaraan. Puluhan kilo dijangkah hanya dalam hitungan menit. Gus Mus beruntung dipercaya menerima ijazah ajian gawat itu. “Terimalah ijazah ini, tapi…”, Kiyai Muslih buru-buru menambahkan, “jangan diamalkan!” Gus Mus melongo. Jadi ini termasuk ilmu yang nggak boleh diamalkan? “Karena, bekerjanya ajian ini dengan memperalat jin. Tak baik memperalat jin”.

Pada masa-masa akhir mondok di Krapyak, setelah bertahun-tahun merengek, saya diijinkan membawa Vespa PS 150 E yang keburu tua. Dengan Vespa itu saya keluyuran dan pulang-pergi Yogya-Rembang tiap liburan. Mas Syafi’ Muslih, salah seorang putera Kiyai Muslih Zuhdi, membonceng saya pulang suatu kali. Menyadari ketuaan Vespa itu dan bahwa jalanan di musim hujan tidaklah terlalu aman, saya tak berani ngebut. Berangkat waktu dluha dari Yogya, menjelang maghrib baru sampai di Pati. Dasar sudah tua, Vespa itu mogok. Biasanya, hanya dengan digosok-gosok amplas businya, Vespa itu bisa waras. Tapi kali ini tidak. Bahkan busi baru yang sengaja saya anggarkan tak mempan. Keringat saya sudah lebih deras dari gerimis dan kaki sudah ngilu ketika akhirnya Vespa sialan itu hidup dengan genjotan histeris berulang-ulang pada pedal starternya. Maghrib sudah lewat. “Ayo cepat, Mas!” saya gugup kuatir mati lagi.

Mas Syafi’ buru-buru lompat ke boncengan dan saya geber Vespa itu seperti memperkosa keledai. Suara mesinnya sungguh terdengar merana. Apa lacur, tepat di tugu batas kota Rembang, Vespa itu mogok lagi seperti onta menggeloso kecapaian. Untungnya, tepat di tepi jalan itu jugalah rumah Mbah Masrur, salah seorang kerabat kami. Mbah Warni, isterinya, melongok dari balik rak toko kelontong miliknya. “Kamu, Ya?” “Nggih, Mbah”. “Lha embahmu ini tadi malah berangkat ke Leteh”. Maksudnya, Mbah Masrur justru pergi ke rumah saya, sekitar dua kilo dari situ. Beberapa jurus kemudian Mbah Masrur datang dengan Suzuki Carry, mobil dinas ayah saya yang waktu itu jadi Wakil Ketua DPRD Rembang. “Lho! Kok sudah disini?” kata Mbah Masrur, “baru saja mau kususul ke Pati”. Saya bingung.

“Kok tahu, Mbah?” “Dikasih tahu Aminah”. Mbah Masrur lantas menjelaskan bahwa ia punya jin perempuan bernama Aminah. Habis salat maghrib tadi, Aminah mengabarinya, “Cucumu Vespanya mogok di Pati”. “Lha mbok kamu tolong!” Jadi, dari Pati sampai ke depan rumah Mbah Masrur, Aminah mendorong. “Tahu begitu, persnelengnya aku nolkan tadi…,” kataku, membayangkan betapa capeknya Aminah mendorong Vespa yang nyaris terus-menerus kupasang gigi satu. “Tahu begitu, aku nggak mau mbonceng!” kata Mas Syafi’ sambil mengelus-elus tengkuknya.

Diundang oleh seorang santri kinasih pada suatu walimah, Mbah Kiyai Misbah Mustofa rahimahullah sengaja datang satu-dua hari sebelum waktunya. Masyarakat sekitar pun lantas berbondong-bondong ngalap berkah kepada Mbah Misbah di rumah santri itu. Dari mereka, Mbah Misbah memperoleh cerita bahwa di daerah itu juga ada seorang wali yang khoriqul ‘aadah. Mbah Fulan, wali itu, nyaris tak pernah kelihatan keluar rumah. Sholat Jum’at pun tidak di masjid kampung, tapi di Makkah. Masyarakat sekitar menyaksikan karomah Mbah Fulan yang luar biasa, terutama dalam urusan pengobatan berbagai penyakit. Konon, Syaikh Abdul Qodir Jailani mengunjungi Mbah Fulan setiap hari. Kisah kehebatan Mbah Fulan membuat Mbah Misbah amat tertarik sehingga menyempatkan diri datang sendiri ke rumahnya, untuk membuktikan tanda-tanda kewaliannya.

Giliran memberikan mau’idhoh hasanah pada walimah santrinya, Mbah Misbah membicarakan Mbah Fulan, “Dia itu bukan wali, tapi tukang sihir!” Mbah Misbah membuat hadirin terkejut, “Syaikh Abdul Qodir Jailani itu ada dua. Yang pertama adalah Asy Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi min dzurriyyati Rasuulillah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, Sang Wali Quthub, pemimpin thoriqoh Qodiriyyah, yang kedua adalah Syaikh Abdul Qodir Jailani raja jin Alas Roban (Pekalongan). Yang kedua itulah yang tiap hari mendatangai Si Fulan!”

No comments:

Post a Comment