Wednesday, January 9, 2013

KISAH NYATA BERTEMU LANGSUNG DENGAN NABI KHIDIR

Malam itu dengan berbagai hajat dan masalah hidup yang tengah dihadapi, wak dul seperti biasa menghibur diri sekaligus ngalap berkah dan ilmu dengan menghadiri pengajian rutin yang diasuh oleh almarhum KH. Hasyim Rofi’i. waktu itu KH. Hasyim Rofi’i tengah menjelaskan tentang Nabi Khidir, diceritakan bahwa tidak sembarang orang bisa berjumpa dengan nabi khidir, biasanya kalau tidak wali ya calon wali atau orang beruntung yang ditemui dan mendapatkan doa makbul dari sosok misterius bernama khidir. Lebih jauh lagi penjelasan dari Kyai tersebut adalah adanya amalan khusus untuk orang awam agar dapat berjumpa dengan Nabi Khidir.

Setelah pengajian yang berkesan itu, wak dul menjadi terinspirasi akan hal ajaib dan makbulnya hajat jika mampu berjumpa dengan Nabi khidir. Dengan niat untuk ngalap berkah sang nabi, wak dul mem “follow up”i dengan sowan ke ndalem KH. Hasyim Rofi’i, diutarakanlah niatnya untuk meminta ijazah amalan agar dapat berjumpa dengan sosok misterius tersebut. Ijazah telah diberikan, wirid khusus tersebut harus diamalkan selama 40 hari dan dihari yang ke 40 tepat di tengah malam pengamal harus membaca wirid itu didekat aliran air (bisa sungai atau laut) karena Nabi khidir suka berada didaerah yang“berair”.

Usai mendapat amalan tersebut, wak dul yang setiap harinya berjualan T3mb4k0 ini langsung menjalankan amalan tersebut dengan penuh optimis. Pada malam itu dibacalah wirid khusus ajaib itu dan tepat pada malam ke 40 (sesuai dengan ijazah sang kyai) wak dul membaca wirid itu di dekat sungai, ya.. sembari berharap dapat berjumpa dengan sang Nabi. Namun, hingga subuh berkumandang, sosok yang ditunggu tersebut tidak jua hadir. Apa daya,, dengan wajah yang sayu wak dul pulang dengan termenung. Pagi itu juga beliau sowan lagi ke Ndalem KH. Hasyim Rofi’i, menyampaikan progress report atas amalan yang 40 hari ini telah ia lakukan. Dengan perasaan yang sedih wak dul berkeluh kesah karena tak jua bersua dengan Khidir. Kyai meminta wak dul bersabar dan mengulangi lagi amalan khusus itu hingga niatannya terlaksana, disertai doa semoga amalan kali ini diterima oleh Allah azza wa jalla.

Hari itu rupanya menjadi hari yang penuh tamu bagi KH. Hasyim Rofi’i, hilir mudik tamu dari berbagai desa dan kota bergantian meminta nasehat dan saran atas berbagai permasalahan hidup yang mereka hadapi. Tak terkecuali wak man yang sore itu sowan ke ndalem kyai. Wak man yang setiap harinya bekerja “nyelandang” mencari ikan menyampaikan niatnya yang selama ini terpendam. Dengan menangis seduh, wak man mengatakan niatnya yang ingin pergi haji. Namun apadaya kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat niatan itu terasa mustahil, hanya hal ajaiblah yang mampu membuat niatannya terkabul. Wakman teringat cerita temannya tentang seorang pedagang lontong yang bisa naik haji karena telah berjumpa dengan nabi khidir. Karena cerita itu wak man meminta doa untuk bisa berjumpa dengan nabi khidir, tak pelak sore itu juga sang kyai memberikan ijazah berupa wirid yang harus dibaca ditengah malam selama 40 hari dan tepat di hari yang ke 40 wirid itu harus dibacakan di dekat daerah yang berair seperti sungai, danau atau laut. “wah pas, kebetulan kerjaanku nylandang ikan di sungai” gumam wak man dalam hati. Penuh semangat wak man menjalankan amalan pada malam itu juga.

Usai sudah 39 hari amalan wirid ajaib dari sang kyai dijalankan, tinggal nanti malam tepat pada hari yang ke 40 amalan itu di baca didekat daerah yang berair. Entah karena kebetulan, baik wak dul dan wak man sama-sama memilih sungai sebagai tempat menanti Nabi Khidir. Wak dul yang pedagang lok0k T3mb4k0 membaca amalan itu sambil memancing di pinggiran sungai rejoso. Sedang wak man yang memang kerjaannya nyelandang ikan membaca amalan itu sambil nyelandang menanti perjumpaan dengan nabi khidir. Tanpa saling kenal dan memang kebetulan, wak man ternyata juga nyelandang di sungai rejoso. Sambil memancing, mulut wak dul komat-kamit membaca amalan. Suasana sepi, hanya desiran air yang menemani. Sejam kemudian selang dari amalan itu selesai dibacakan, wak dul melihat hal yang aneh. Tidak seperti biasanya ada orang yang di tengah malam nyelandang ikan sendirian. Nabi khidir memang dikenal tampil nyelenah ketika menjumpai seseorang. Tanpa pikir panjang wak dul langsung melompati “nabi khidir” itu dari tepi sungai, dipeluk dan diciumlah “nabi khidir” tersebut sembari meminta barokah do’a darinya. Anehnya “nabi khidir” itu bersikap aneh dengan meminta doa juga kepada wak dul agar dapat di takdirkan berangkat haji. Setelah saling meminta do’a, wak dul dan “nabi” itupun berpisah dengan berlari gembira menuju rumah. Kisah bahagia itu ia sampaikan kepada sang istri tercinta, wak dul pun penuh haru karena amalan itu akhirnya berhasil. Bersama istri pagi itu juga ia sowan pada sang kyai dan mengisahkan kisah perjumpaannya itu. Kyaipun mendengarkan dengan seksama cerita gembira dari wak dul. “Alhamdulillah semoga hajat sampean segera terkabul” ucap kyai pada wak dul.

Selang beberapa jam kemudian setelah wak dul berpamitan, wak man hadir di ndalem kyai. Penuh antusias wak man bercerita tentang suksesnya dipeluk dan dicium nabi khidir serta didoakan supaya lekas haji. Sembari curiga dan merasa ada yang aneh, sang kyai meminta wak man untuk tenang dan pelan-pelan dalam menyampaikan ceritanya. Wak man pun melanjutkan ceritanya, “kyai, alhmdulillah semalam saya telah berhasil bertemu nabi khidir, ketika saya sedang membaca wirid yang kyai ijazahkan sambil nyelandang ikan, tiba-tiba nabi khidir datang melompat dari atas sungai sambil memeluk dan menciumku. Akupun memeluk dan meminta didoakan agar ditakdirkan naik haji”. Sang kyaipun menjadi semakin curiga, “di sungai mana sampean tadi malam ketemu nabi khidir” Tanya sang kyai. “di sungai rejoso kyai”, spontan sang kyai tertawa terbahak “itu bukan nabi khidir, itu wak dul orang tetangga desa yang kerjaannya jualan T3mb4k0, tadi ia juga kesini bercerita kalau semalem berjumpa dengan nabi khidir yang lagi nyelandang ikan di sungai rejoso, persis apa yang sampean ceritakan”. Pucat pasi wak man bergumam “pantesan nabi khidir kok bau T3mb4k0….”

Kisah nyata dan unik banyak kita jumpai menyangkut dengan sosok misterius ini, dia adalah Balya bin Malkan atau lebih dikenal dengan nama Khidir. Kisahnya terdokumentasi dalam lintas sejarah seperti  pertemuannya dengan nabi Musa AS. Tokoh ini selalu tampil aneh dan nyeleneh, bahkan sosok Nabi Musapun dibuat tidak sabar dan tidak paham atas segala tingkah nabi yang hijau ini. Ya, khidir adalah julukan karena setiap daerah yang ia tinggali akan menjadi ijo royo-royo. Kalangan sufi meyakini bahwa Khidir adalah seorang Nabi pembawa nubuwat untuk para wali, kisahnya yang selalu hadir dalam segala jaman membuat banyak yang berkeyakinan bahwa Khidir adalah manusia yang umurnya dipanjangkan. Beliau menjadi patih bagi raja iskandar agung, dan juga pernah menjadi guru dari Nabi Musa AS.

Para sufi meyakini nabi khidir menjadi pembimbing bagi para wali, menjadi mursyid yang akan membaiat dan membawa seseorang menjadi wali. Tidak heran banyak cerita dan kisah dari para wali berkenaan dengan sosok misterius ini. Bahkan ada semacam amalan khusus agar dapat berjumpa dengan nabi khidir, sekalipun amalan tersebut berkonsekuensi berhasil, atau gagal atau bertemu tapi tidak menyangka bahwa yang ditemuinya itu adalah nabi khidir. Ada kisah dari seorang kyai yang bercerita sambil menangis seduh bahwa pengemis yang dijumpainya siang itu ternyata adalah nabi khidir. Sang kyai itu tiba dari luar kota dengan naik bis, setiba di terminal uangnya habis untuk membeli kitab dan hanya tinggal sekitar Rp. 2500,- untuk naik angkot dan naik becak menuju pondok. Siang itu ketika berada diatas angkot ada seorang pengemis yang datang menghampiri kyai di dalam angkot yang lagi ngetime. Sang kyai pun memberi uang receh, namun sang pengemis menolak dan meminta uang 2500 yang ada di dalam kantong sang kyai. Sang kyai diam dan mengacuhkannya hingga pengemis tadi diusir oleh supir angkot tersebut. Malam hari dalam mimpi Nabi khidir hadir dan berkata “kamu ini pelit, takut gak pulang padahal temanmu banyak dan kamu juga kyai, tinggal telepon pasti banyak yang mau nganterin atau jemput. lagian tidak pantas kyai kok naik angkot”.

Nabi khidir memang hadir dalam wujud aneh yang tak terduga, wujud yang menggambarkan diri kita sebenarnya. Jika merasa suci maka akan ditampakkan wujud yang terlihat hina, jika merasa pintar maka akan ditampakkan dalam wujud yang terlihat bodoh dan gila jika mersa bersih maka akan ditampakkan wujud yang kotor dan ashor, begitu seterusnya. Orang yang mengharap perjumpaan dengan Khidir namun dalam hatinya masih memandang kesucian diri, kesombongan amal dan merasa lebih baik dari manusia yang lain maka tak akan dapat menemui khidir dalam pengembaraan spiritualnya, kalaupun dapat bertemu akan berakhir sesal Karena acuh tak menyangka dengan sosok yang ia jumpa. Itulah mengapa ketika Musa merasa bahwa ia adalah manusia yang paling sholeh dan alim di hadapkan untuk bertemu dengan khidir oleh Allah.

Kondisi spiritual seperti itu akan terus terjadi sampai tahap dakian hati tiada lagi memandang rendah dan hina manusia yang lain, penuh tawadhu’ seperti yang pernah didefinisikan oleh abu yazid Al Busthomi bahwa “tawadhu’ itu jika engkau merasa bahwa tidak ada manusia lain yang lebih jelek dan lebih hina selain dirimu”. Teringat kisah sayidina Adenan, usai menamatkan sekolahnya di madrasah sang ayah, beliau berpamitan kepada ayahnya untuk berangkat mengamalkan ilmu di kota Aden (Yaman). Namun sang ayah meminta kepadanya satu syarat ringan dan harus malam itu juga untuk dibawakan mahluk yang lebih rendah dan lebih hina dari sayidina Adenan. Karena syarat itu dirasa mudah, maka bergegaslah sayidina Adenan mencari orang atau mahluk yang lebih rendah darinya. Beliau diperjalanan berjumpa dengan seorang pe-es-ka dan hendak membawa pe-es-ka ini kehadapan ayah karena lebih rendah dari dirinya, namun niatan itu urung karena beliau teringat kisah pe-es-ka yang masuk surga karena memberi minum anjing kehausan dengan sepatunya, bagaimana denganku jika amalku tak mendapat ridhonya sedang Allah meridhoi satu saja amalnya, gumamnya. Kemudian berjalan lagi dan bertemu dengan maling yang dikejar oleh orang ramai, beliau ikut mengejar dan merasa bahwa maling itu pasti lebih hina darinya Karena telah menyusahkan banyak orang. Namun ditengah kejarannya, beliau berfikir bagaimana jika nanti maling itu bertobat dan Allah mengampuni dosanya sedang dosa beliau tidak diampuni oleh Allah, beliau urungkan niat itu.

Penuh keputusasaan beliau mencari, ternyata sulit mencari orang yang lebih hina ketimbang dirinya. Di tengah jalan terlihatelah seekor anjing penuh kudisan. Beliau hampiri anjing kurus itu namun anjing justru berlari dan menjauh, beliau ambil sepotong roti dan memberikannya pada anjing yang lapar itu. Anjing itu mendekat dan perlahan menjadi nurut dengan Sayidina Adenan sang pemberi roti. Dibawalah anjing itu ke hadapan sang ayah, namun di perjalanan beliau berpikir “anjing ini nurut sekali dengan siapa yang memberinya makan, sedang aku pada Allah yang memberiku hidup tidak setaat ini..” walhasil beliau melepaskan anjing itu. Tepat menjelang subuh beliau pulang dan menangis dihadapan sang Ayah, beliau berkata tidak menemukan manusia dan hewanpun yang lebih jelek ketimbang dirinya. Mendengar cerita itu sang Ayah puas dan megizinkan dengan ridho sang anak berdakwah dikota Aden.

Kota Aden yang terkenal maju dan ketat penjagaan oleh askar, tidak sembarang orang bisa masuk dan tinggal di kota itu apalagi mengajar, karena di kota itu telah banyak para Syekh dan alim ulama. Setibanya di gerbang kota, satu persatu orang yang akan masuk diperiksa oleh para askar dan ditanya keperluannya apa. Tibalah giliran sayidina adenan untuk ditanya dan beliau menjawab keperluannya untuk mengajar di kota Aden. Para askar tertawa Karena di kota aden telah banyak ustadz dan ulama yang mumpuni dan tidak lagi menerima pengajar baru, mereka melarang beliau untuk masuk ke kota Aden. Rupanya sayidina Adenan sangat ingin mengajar di kota Aden dan terus meminta Para Askar untuk membolehkannya masuk hingga salah seorang askar itu mengatakan akan membolehkan masuk dan mengajar di kota Aden jika mampu mendatangkan hujan susu. Sejurus kemudian Sayidian Adenan sholat dua rokaat dan berdoa maka karomah itu muncul, hujan susu melanda kota aden dan sampai saat ini peninggalan hujan susu itu tersimpan dlm botol di museum kota Aden.

Sikap memandang mulia dan Khusnudzon pada manusia ini pulalah yang pernah dipesankan oleh Romo Kyai Hamid Pasuruan pada KH. Muzzaki Syah Jember ketika beliau hendak berangkat Haji. Romo Kyai Hamid Berpesan bahwa “nanti semua orang disana sampean anggap sebagai wali walaupun sikap dan prilakunya macem-macem, yang tidak wali Cuma sampean!”. Melihat sikap sopan, loman dan tawadhu’nya Romo Kyai hamid pada semua orang, baik yang tua maupun yang muda (sampai anak kecilpun di basani ) sikap tersebut ternyata tidak hanya berlaku di tanah suci, tapi dimanapun Romo Kyai Hamid berada. Maka tak heran beliau berada di Maqom yang agung. Begitulah, jika perjumpaan dengan Khidir adalah indikator tingkat spiritualitas para sufi dan salikun maka syarat utama untuk dapat jumpa dan kenal dengan Khidir adalah dgn menganggap manusia apapun kedudukannya dan tampilannya adalah sama, yang wajib dihormati tanpa beda dan tidak merasa lebih baik, lebih suci dan lebih mulia dari manusia yang lain. Perjumpaan dengan khidir memerlukan beberapa kali perjumpaan yang “menggoda”, khidir akan dijumpai sebagai sosok aneh yang tak terduga dan itu adalah tampilan dari diri yang dijumpa hingga diri yang dijumpa memandang seluruh manusia dengan rasa kasih dan cinta tanpa beda. Jika sudah seperti itu, maka Khidir akan datang dengan rupa asli yang rupawan, berusia sekitar 35 tahun dan berjenggot sedikit tanpa berkumisan, sesuai dengan yang para Arifin ceritakan. Wallahu A’lam. Jika ada yang telah berjumpa bisa bagi kisahnya ya…

No comments:

Post a Comment